
Acara iBox Pick & Win untuk pengambilan iPhone 18 Pro Series di Park Hyatt Jakarta memicu keluhan peserta setelah mekanisme antrean first come, first served dinilai tidak berjalan tertib dan akhirnya diganti menjadi raffle atau undian. Sejumlah peserta melaporkan proses yang tidak jelas sejak Kamis, 15 Oktober 2026, hingga puncaknya pada Jumat, 16 Oktober 2026, ketika perubahan aturan diumumkan.
Keluhan tersebut disampaikan seorang peserta melalui utas akun Threads pada Jumat, 16 Oktober 2026. Ia mengaku datang ke lokasi di Jakarta sejak Kamis pukul 06.00 WIB dengan harapan memperoleh kesempatan lebih besar untuk hadiah, termasuk MacBook Neo, namun menghadapi situasi yang berujung pada kericuhan di area akses menuju lokasi acara.
Dalam kesaksiannya, peserta tersebut menyebut ia tiba di Park Hyatt Jakarta pada Kamis pukul 06.00 WIB. Ia mengatakan saat itu belum melihat antrean yang teratur, baik di area acara maupun di luar hotel. Keputusan datang lebih awal, menurutnya, bukan tanpa alasan, karena ia meniru pola dari pengalaman mengikuti acara serupa pada tahun sebelumnya, ketika peserta disebut sudah mengantre jauh sebelum kegiatan dimulai.
Ia juga menjelaskan bahwa pihak hotel tidak memperbolehkan peserta mengantre di area Glasshouse. Karena itu, ia memilih menunggu di bagian depan hotel sambil mencari informasi pelaksanaan acara. Ketika peserta lain mulai berdatangan, sekitar setengah hingga satu jam kemudian, muncul inisiatif dari beberapa orang untuk membuat daftar antrean mandiri guna mencatat urutan kedatangan.
Memasuki sekitar pukul 08.00 WIB pada Jumat, 16 Oktober 2026, peserta tersebut mengaku mulai meminta penjelasan kepada pihak hotel dan penyelenggara terkait sistem yang akan dipakai. Namun, daftar antrean yang dibuat secara mandiri tidak dianggap sebagai antrean resmi. Informasi yang ia terima menyebutkan validasi antrean oleh penyelenggara baru dimulai pukul 02.00 WIB pada hari yang sama.
Di sisi lain, pihak hotel disebut menyarankan peserta untuk menunggu di seberang hotel agar tidak mengganggu kenyamanan tamu yang menginap. Bagi peserta yang sudah berkumpul sejak pagi, kondisi ini menimbulkan pertanyaan tentang kepastian urutan dan keadilan proses, apalagi akses menuju lokasi acara disebut tidak hanya melalui satu titik.
Masalah makin terasa ketika peserta lain mengaku telah berada di dalam hotel sejak malam sebelumnya. Peserta yang berada di luar kemudian khawatir akan adanya perbedaan akses antara kelompok yang menunggu di luar dan yang sudah berada di dalam. Ia juga mengaku sempat melihat sekelompok orang berkumpul di dekat lift menuju lokasi acara pada Kamis siang, meski ia tidak bisa memastikan status seluruh orang di titik tersebut.
Menjelang malam, situasi yang semula terkesan terpisah antar-titik antrean disebut berubah menjadi lebih tidak terkendali. Dalam kesaksiannya, beberapa kelompok lain tiba-tiba muncul di sekitar pintu masuk ketika waktu mendekati tengah malam. Upaya untuk menyusun antrean gabungan antara peserta luar hotel dan yang berada di dalam juga disebut tidak berjalan sesuai harapan karena koordinasi di lokasi tidak kunjung menghasilkan kejelasan yang disepakati.
Kericuhan memuncak saat sekelompok orang berlari menuju lift yang menjadi akses ke area acara. Peserta tersebut mengatakan ia memilih tidak ikut berlari karena khawatir terhadap keselamatan dirinya dan peserta lain. Ia juga menyebut beberapa orang mengalami insiden saat berdesakan, mulai dari kehilangan kacamata dan sandal putus, hingga kesulitan bernapas dan terjatuh.
“Jujur sangat disayangkan. Bukan karena aku sudah datang dari jam 6 pagi, akan tetapi ada bbrp orang yang cukup tersiksa karena ricuh yang mendadak terjadi,” tulis peserta tersebut dalam utasnya.
Menurut penuturannya, komunikasi yang lebih jelas sejak awal dapat mencegah terbentuknya banyak titik antrean dan mengurangi potensi perselisihan antarpeserta. Meski demikian, kronologi yang dipaparkan tetap merupakan kesaksian dari satu peserta, sehingga detail mengenai pihak di tiap titik serta penyebab pasti kericuhan masih membutuhkan konfirmasi dari penyelenggara dan pihak hotel.
Puncak kekecewaan muncul ketika mekanisme first come, first served akhirnya diganti menjadi raffle atau undian. Perubahan ini mendapat sorotan karena sejumlah peserta mengaku menghabiskan waktu berjam-jam, bahkan datang sehari sebelumnya, demi memperoleh nomor antrean awal dan meningkatkan peluang mendapatkan hadiah yang diincar.
Dalam utasnya, peserta tersebut menyatakan memperoleh nomor antrean 227. Ia menilai nomor itu berada di luar rentang 1 hingga 10 yang, menurut informasi yang beredar saat itu, dialokasikan untuk hadiah MacBook Neo. Kendati demikian, ia juga tidak secara otomatis menyimpulkan bahwa ia tidak memperoleh perangkat yang diperebutkan, karena keluhan utamanya menitikberatkan pada perubahan mekanisme dan pengalaman menunggu yang dinilai tidak tertib sejak awal.
Peristiwa ini menyoroti kebutuhan akan kejelasan aturan pada acara promosi yang menarik banyak peserta. Informasi mengenai lokasi antrean, waktu validasi nomor, akses masuk, hingga kemungkinan perubahan mekanisme perlu disampaikan secara konsisten agar peserta memahami tata cara yang berlaku. Hingga informasi dalam utas tersebut disampaikan, kronologi dari sisi peserta belum cukup untuk memastikan seluruh penyebab kericuhan maupun alasan teknis di balik perubahan sistem, sehingga keterangan resmi dari pihak iBox dan pengelola lokasi tetap diperlukan untuk melengkapi gambaran peristiwa.

