
Ki Imang, relawan konservasi asal Desa Gunung Bunder II, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, menyampaikan ajakan menanam pohon sebelum bencana saat menerima penghargaan Metropolitan Awards 2026. Peristiwa itu berlangsung di Ballroom Hotel Harris Cibinong City Mall, Kabupaten Bogor, pada Jumat, 16 Oktober 2026. Dalam kesempatan tersebut, ia juga menekankan pentingnya keterlibatan pejabat dan warga agar upaya penghijauan tidak berhenti di satu lokasi.
Penghargaan diserahkan oleh Bupati Bogor Rudy Susmanto bersama General Manager Radar Cianjur, Nanang Rustandi. Melalui pesan yang ia bawa dari kaki Gunung Halimun Salak, Ki Imang mendorong masyarakat untuk terlibat langsung dalam penanaman, sekaligus mengingatkan agar hutan dirawat demi resapan air dan kualitas udara yang dinikmati banyak orang. Ia menegaskan pengabdiannya sudah lebih dari dua dekade, sejak 2003, dan menawarkan bibit yang dirawatnya untuk ikut ditanam.
Di panggung Metropolitan Awards 2026, Ki Imang tampil dengan gaya yang berbeda dari kebanyakan penerima penghargaan. Rutinitasnya selama ini lebih dekat dengan kebun dan kegiatan konservasi, sehingga suasana malam penghargaan terasa kontras baginya. Ia menyebut kesehariannya yang terbiasa berada di sekitar tanaman, lalu kini harus berdiri di depan para tamu yang mengenakan batik dan mengikuti rangkaian acara.
Dalam sambutannya, Ki Imang tidak hanya menerima apresiasi, tetapi juga menjadikan penghargaan sebagai ruang untuk mengajak orang lain ikut bergerak. Ia menyampaikan bahwa menanam pohon harus dilakukan sebelum bencana datang, bukan setelah longsor atau kerusakan terjadi. Ajakan itu ia sampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami, mengaitkan urgensi penghijauan dengan pengalaman di kawasan kaki Gunung Halimun Salak.
Ki Imang menyerukan agar masyarakat dan pejabat menanam pohon sebagai tindakan nyata. Ia tidak membatasi ajakannya pada wilayah tempat tinggalnya saja. Pesan tersebut berangkat dari keyakinan bahwa menjaga hutan adalah tanggung jawab bersama, sehingga keterlibatan berbagai pihak menjadi penentu keberlanjutan gerakan.
Ia juga mengungkapkan bahwa bibit yang ia rawat tersedia untuk ditanam bersama. Tawaran bibit ini penting karena mengurangi jarak antara pesan dan pelaksanaan. Ketika orang memiliki bahan tanam dan panduan untuk menanam, peluang gerakan penghijauan menjadi lebih besar, terutama jika kegiatan dilakukan dengan melibatkan warga setempat.
Gagasan Ki Imang tidak muncul dari kegiatan sesaat. Ia menceritakan telah menjadi relawan konservasi sejak 2003, merawat bibit dan menanam pohon di kawasan kaki Gunung Salak. Perjalanan itu, menurutnya, tidak selalu ditopang biaya yang memadai. Ia pernah bersama istrinya mengumpulkan plastik bekas untuk dijadikan wadah pembibitan, lalu merawat bibit sebelum akhirnya ditanam kembali di area yang membutuhkan penghijauan.
Cerita ini memberi gambaran bahwa konservasi tidak selalu dimulai dari skala besar. Dengan cara-cara sederhana, Ki Imang membangun kebiasaan merawat tanaman dan menyiapkan bibit. Upaya yang konsisten selama puluhan tahun kemudian membentuk kapasitas, jaringan, dan kepercayaan sosial di lingkungan tempat ia bekerja.
Ki Imang menekankan bahwa manfaat menanam pohon tidak berhenti pada tumbuhnya pohon semata. Ia mengaitkan perawatan hutan dengan kebutuhan sehari-hari masyarakat, terutama fungsi resapan air dan kualitas udara. Ketika hutan terjaga, wilayah cenderung lebih mampu menyerap air hujan dan mengurangi dampak buruk yang muncul akibat kerusakan vegetasi.
Ia juga menyampaikan kalimat yang menegaskan rasa memiliki terhadap hutan. Dengan nada yang menyejukkan namun tegas, ia mengajak agar tidak menyerahkan urusan pelestarian hanya kepada pihak tertentu. Pesan ini relevan bagi warga di sekitar kawasan pegunungan, karena aktivitas sehari-hari, seperti pengelolaan air, dipengaruhi oleh kondisi tutupan lahan.
Di luar isi pesan konservasi, Ki Imang juga menunjukkan perasaan bangga sekaligus tidak menyangka bisa berdiri di panggung Metropolitan Awards 2026. Ia menyebut perbedaan suasana antara kegiatan rutin di kebun dan suasana acara penghargaan yang dipenuhi tamu dan perhatian publik. Ungkapan tersebut menggambarkan bagaimana penghargaan dapat menjadi pemantik bagi penerima untuk menyebarkan semangat kepada lebih banyak orang.
Ia menyampaikan terima kasih atas apresiasi yang diberikan, lalu membalasnya dengan doa. Pada malam itu, ia memanfaatkan kesempatan berdiri di hadapan para tamu untuk mengundang mereka ikut merawat alam. Bibit yang tersedia di tempatnya menjadi undangan terbuka untuk memulai langkah bersama, termasuk di lokasi yang terdampak longsor atau memerlukan pemulihan.
Ajakan Ki Imang memiliki dampak nyata bagi warga Kabupaten Bogor, khususnya yang tinggal di wilayah perbukitan dan kaki pegunungan. Pesan “menanam sebelum longsor” menggiring perhatian pada hubungan antara tutupan lahan dan risiko bencana. Ketika vegetasi pulih melalui penanaman yang terencana, kawasan yang rentan kerusakan berpotensi lebih terlindungi, baik dari limpasan air yang berlebihan maupun erosi.
Selain itu, gerakan penghijauan yang melibatkan warga membuka ruang kerja sama lintas kelompok, dari masyarakat, pejabat, hingga relawan. Kegiatan seperti penyiapan bibit, penanaman, dan perawatan tanaman bisa menjadi aktivitas komunitas yang memperkuat kepedulian lingkungan. Di sisi lain, warga juga dapat melihat hasil konkret dari upaya konservasi, karena bibit yang ditanam memiliki jejak perawatan yang dapat dipantau dari waktu ke waktu.

