Peringati World Clean Up Day, Pemkot Bogor Dorong Gerakan Pilah Sampah dari Rumah

Riky Iskandar
4 Okt 2026 04:57
News 0 12
4 menit membaca

INFOPANTULAN.COM, BOGOR – Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah melalui peringatan World Clean Up Day yang digelar di halaman parkir Museum PETA, Bogor Tengah, Minggu (4/10/2026).

Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat gerakan pemilahan sampah sejak dari sumber. Pemkot Bogor menilai, pengelolaan sampah tidak cukup hanya mengandalkan penanganan di tempat pembuangan, tetapi harus dimulai dari rumah tangga.

Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim mengatakan, perubahan pola pikir masyarakat menjadi salah satu hal utama yang ingin didorong pemerintah. Sampah, menurutnya, harus dipandang sebagai tanggung jawab bersama sekaligus memiliki potensi ekonomi apabila dikelola secara tepat.

“Jadi sampah itu selain menjadi tanggung jawab, tetapi juga punya peluang untuk dikelola dengan baik. Nah, kemudian nanti menimbulkan namanya circular economy,” kata Dedie.

Ia menjelaskan, Pemkot Bogor saat ini menyiapkan kebijakan pengelolaan sampah dari sisi hulu hingga hilir. Salah satu rencana di sektor hilir adalah pembangunan dua fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) Bogor Raya 1 dan Bogor Raya 2 yang ditargetkan beroperasi sekitar 2028.

Namun, Dedie menekankan pembangunan fasilitas pengolahan sampah harus diiringi perubahan kebiasaan masyarakat. Pemilahan sejak dari sumber dinilai penting agar sampah yang masuk ke sistem pengangkutan dan pengolahan sudah terpisah berdasarkan jenisnya.

“Tetapi, sebelum PSEL jadi, maka gaya hidup harus berubah. Kalau semua sampah masih disatukan dalam satu kendaraan atau dalam satu tempat, maka nanti truk yang akan mengangkut mungkin akan terhambat di jalan karena ada kepentingan dari pemulung dan sebagainya. Nah, kami ingin yang namanya pemilahan itu di awal saja, di hulunya,” jelasnya.

Dedie menambahkan, sampah yang telah dipilah dapat kembali dimanfaatkan melalui proses daur ulang sehingga memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.

“Dikumpulkan, kemudian di-recycle menjadi bahan baru untuk diproduksi, baik bisa untuk botol, untuk segala macam, sehingga kemudian tidak lagi menambah sampah-sampah baru yang bisa merugikan lingkungan,” ujarnya.

Menurut Dedie, upaya membangun kesadaran masyarakat dilakukan melalui berbagai pendekatan, mulai dari sosialisasi, talkshow, podcast, kampanye hingga iklan. Peran aparatur pemerintah hingga tingkat kelurahan juga diperlukan untuk memastikan gerakan tersebut berjalan secara berkelanjutan.

Ia menyebut kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah mulai tumbuh. Hal itu terlihat dari berkembangnya TPS3R, bank sampah, hingga munculnya pelaku usaha yang mulai menjadikan pengelolaan sampah sebagai aktivitas ekonomi.

“Jadi memang ini harus menjadi suatu gerakan besar, dan insyaAllah Bogor gerakannya akan terus kami kuatkan supaya pada saat nanti PSEL 1 Bogor Raya dan PSEL 2 Bogor Raya jalan, masyarakat semakin juga punya tingkat kesadaran yang tinggi dalam memilah sampahnya di rumah,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bogor Rudy Mashudi mengatakan, pelaksanaan World Clean Up Day di Kota Bogor semestinya digelar pada akhir September 2026 sesuai arahan Kementerian Lingkungan Hidup.

Namun, pelaksanaannya baru dapat dilakukan pada awal Oktober karena DLH sebelumnya masih fokus menangani dampak kebakaran di Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Galuga.

“Oleh karena itu, kegiatan tetap kami lakukan dan kami juga kolaborasikan dengan kegiatan Car Free Day (CFD) yang dilaksanakan setiap hari Minggu di Kota Bogor,” kata Rudy.

Rudy menyebut tema World Clean Up Day 2026 secara global dan nasional menitikberatkan pada keterlibatan generasi muda. Di Kota Bogor, kegiatan tersebut mengusung semangat “Aksi Bersih Pemuda-Pemudi, Merdeka dari Sampah”.

Karena itu, pihaknya melibatkan berbagai organisasi kepemudaan, termasuk KNPI dan Karang Taruna.

“Gerakan ini akan terus dilakukan, terus fokus dan sosialisasi terkait dengan pilah-pilih sampah dari sumber. Karena secara transisi akan mempersiapkan hal yang besar di Kota Bogor, yang tadi disampaikan oleh Wali Kota Bogor terkait dengan PSEL yang mulai akan beroperasi di 2028,” jelasnya.

Selain aksi bersih, kegiatan tersebut juga diisi talkshow bersama penggiat lingkungan Giri Kohar yang selama ini aktif dalam kegiatan pelestarian lingkungan di kawasan Situ Gede.

Rudy mengatakan keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan lingkungan harus diwujudkan melalui aksi nyata di tingkat lokal. Prinsip tersebut sejalan dengan semangat “Think Globally, Act Locally”.

“Kami berharap bisa berjalan mulai dari aksi dunia sampai tingkat lokal ya atau ‘Think Globally, Act Locally’. Berpikirnya secara global tapi bertindak secara lokal untuk hal yang aksinya kali ini,” paparnya.

DLH Kota Bogor juga menampilkan sejumlah kegiatan dan pameran yang memberikan edukasi mengenai pemilahan sampah. Rudy menyebut sosialisasi terkait pemilahan sampah telah dilakukan hingga tingkat RT.

“Sudah 53 kali disosialisasikan terkait pilah-pilih sampah sampai dengan tingkat RT. Dan terus akan kami lakukan supaya sosialisasi RT bebas sampah mulai dari pilah-pilih sampah ini,” pungkasnya.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

x
x