
INFOPANTULAN.COM – Pesta ulang tahun ke-58 Hj. Masrupah Syarifuddin, istri Sekretaris Daerah Kalimantan Selatan Muhammad Syarifuddin, viral di media sosial setelah dokumentasinya beredar luas. Acara bertema “Kembali Muda” digelar di salah satu restoran di Banjarmasin pada Jumat, 28 Agustus 2026, dengan para tamu mengenakan seragam putih abu-abu bergaya pelajar SMA.
Perbincangan publik kemudian mengerucut pada momentum penyelenggaraan. Banyak warganet mempertanyakan kepantasan ketika Kalimantan Selatan masih menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap yang berdampak pada aktivitas masyarakat dan kesehatan.
Sorotan yang muncul tidak hanya berangkat dari konsep pesta atau pilihan seragam. Fokus utama justru pada kontras antara dua momen yang berdekatan. Sehari sebelum perayaan, Masrupah tercatat berada di Posko Karhutla Guntung Damar, Banjarbaru.
Dalam kegiatan tersebut, Masrupah bersama Ketua TP PKK Kalsel Hj. Fathul Jannah Muhidin membagikan sekitar 350 bungkus nasi goreng kepada relawan yang menangani karhutla. Aktivitas itu ikut membentuk narasi yang lebih kompleks saat dokumentasi pesta kemudian beredar.
Kontras tersebut membuat sebagian publik menilai bahwa perhatian tidak semestinya berhenti pada permukaan acara. Namun di sisi lain, warganet tetap menyuarakan pandangan soal sensitivitas waktu, mengingat kondisi wilayah yang belum pulih sepenuhnya dari dampak asap.
Unggahan terkait pesta “Kembali Muda” turut mendapat perhatian setelah dibagikan ulang oleh akun Instagram @lambe_turah. Hingga 31 Agustus, unggahan yang memuat perayaan tersebut dilaporkan telah memperoleh sekitar 1.500 komentar.
Di ruang komentar, beragam respons muncul. Ada yang menyoroti unsur kepantasan karena acara bertepatan dengan karhutla, sementara ada juga yang mengingatkan bahwa kritik sebaiknya dipahami sebagai respons sosial, bukan langsung ditarik menjadi dugaan pelanggaran.
Beberapa warganet bahkan mengusulkan agar momentum seperti itu dapat dikemas lebih relevan dengan kondisi Kalsel, misalnya melalui doa bersama untuk kondisi daerah. Saran semacam ini menunjukkan bahwa publik membaca peristiwa secara kontekstual, bukan hanya menilai gaya acara.
Sebelum isu pesta ulang tahun menjadi viral, Masrupah memang dikenal aktif dalam kegiatan organisasi dan sosial di lingkungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan. Ia tercatat menjabat sebagai Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Provinsi Kalimantan Selatan, serta terlibat dalam berbagai aktivitas yang berjalan bersama TP PKK Kalsel.
Dalam salah satu kegiatan DWP di Tanah Laut, Masrupah pernah menekankan agar organisasi perempuan tidak hanya melakukan aktivitas rutin. Ia menyampaikan bahwa kegiatan tidak semata-mata berupa arisan, melainkan harus memberi manfaat langsung bagi masyarakat.
Gagasan itu kemudian terlihat dari rangkaian kegiatan yang disebutkan, seperti bakti sosial di Hulu Sungai Selatan pada 2025, serta Safari Ramadan dan kegiatan sosial di Martapura pada 2026. Jejak aktivitas tersebut membuat publik menilai latar belakang tokoh yang bersangkutan lebih dari sekadar agenda pribadi.
Di luar perdebatan soal pesta, kondisi karhutla di Kalimantan Selatan masih menjadi perhatian. Data yang disebutkan dari BPBD Kalsel hingga 25 Agustus 2026 mencatat 1.903 kejadian karhutla dengan luas lahan terdampak mencapai 9.088,75 hektare serta 10.910 titik panas.
Situasi ini menjelaskan mengapa kabut asap tidak dipandang sebagai isu lingkungan semata. Dampaknya bisa merembet ke kesehatan warga, terganggunya aktivitas harian, hingga meningkatnya kebutuhan dukungan bagi relawan penanganan di lapangan.
Karena itulah, ketika dokumentasi pesta ulang tahun beredar, publik kemudian menempatkannya dalam konteks yang lebih luas. Di satu sisi, acara merupakan perayaan pribadi. Di sisi lain, posisi Masrupah sebagai istri Sekda sekaligus tokoh organisasi perempuan membuat aktivitasnya lebih mudah disorot.
Hingga penyusunan pembahasan ini, sorotan publik terhadap pesta bertema “Kembali Muda” lebih banyak berkaitan dengan kepantasan dan sensitivitas terhadap kondisi daerah. Tidak ada informasi yang mengarah pada pelanggaran hukum dalam penyelenggaraan acara tersebut, sehingga kritik lebih tepat dipahami sebagai respons sosial.
Viralnya dokumentasi bermula dari penyebaran di media sosial, lalu berkembang menjadi perbincangan yang lebih luas. Namun, perbincangan itu juga menunjukkan bagaimana masyarakat kini menilai peristiwa dengan standar konteks, terutama saat wilayah sedang menghadapi bencana.
Dengan demikian, perhatian publik terhadap pesta ulang tahun Masrupah tidak berhenti pada seragam putih abu-abu atau tema yang dipilih. Yang lebih menonjol adalah pertanyaan moral dan sosial tentang waktu, serta bagaimana tokoh publik dapat menyeimbangkan peran pribadi dengan situasi kemanusiaan yang sedang berlangsung.

