Terowongan Bendera Merah Putih, Karya Warga Panyandaan Bandung Menyambut HUT ke-81 RI

Muhammad Ibad Ibrahim
5 Agu 2026 04:56
Berita 0 59
4 menit membaca

INFOPANTULAN.COM, BANDUNG – Antusias menyambut Peringatan Hari Ulang Tahun ke 81 Republik Indonesia begitu terasa dilakukan oleh warga Panyandaan, Desa Madalamekar, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung.

Hal itu terlihat dari gotong royong membuat dan menyambung kain kain berwarna merah putih dijadikan terowongan yang membentang sepanjang 240 menter.

Terowongan bendera merah putih itu seolah menjadi gerbang yang menyambut siapapun yang melintas.

Beberapa penumpang pengendara motor yang melewatinya bersiap mengabadikan momen melalui gawainya.

Ketua RW 06 Kampung Panyandaan, Nunung Komala mengatakan proses pembuatan terowongan bendera merah putih itu baru berjalan sekira 50 persen.

Proses pembuatannya pun tidak singkat. Setidaknya membutuhkan dua pekan agar proses terowongan bendera merah putih benar-benar selesai sebelum tanggal 17 Agustus.

“Pertemuannya kemarin dimulai di hari Minggu, karena warga pun pada liburnya hari Minggu. Kita gerak, gotong royong,” kata Nunung, Rabu (5/7/2026).

Meski demikian, tak mungkin selalu dikerjakan saat akhir pekan. Sebelum denting lagu Indonesia Raya mengawali upacara, terowongan merah putih itu harus segera rampung.

Oleh karena itu, beberapa warga mulai mengerjakannya saat malam hari, menunggu mobilitas kendaraan lebih sedikit dari biasanya.

“Cuman kalau malam tuh ada yang sampai pukul 12.00- 01.00 dini hari. Mereka pada senang. Soalnya kalau siang banyak kendaraan juga, memanfaatkan waktu jalanan lagi sepi,” tuturnya.

Terowongan bendera merah putih itu tingginya hingga 4,5 meter, agar tidak mengganggu kendaraan yang melintas.

Tak tanggung-tanggung, terowongan tersebut memerlukan tujuh bal bendera merah putih agar bisa membentang.

Menariknya, terowongan tersebut menjadi penanda batas antar RW lainnya.

Nunung mengatakan, ide membuat terowongan muncul begitu saja, di daerah lainnya terowongan bendera merah putih bukan pertama kali digagas.

“Inspirasi mungkin banyak ya, sekarang kan ada media sosial, ada TikTok. Di luar sana juga sudah banyak contoh. Tapi sebenarnya ini juga cita-cita dari tahun kemarin,”katanya.

Menurutnya, setiap tahun warga selalu terdorong menghadirkan karya baru. Apalagi setelah tahun lalu berhasil meraih penghargaan saat karnaval dan perlombaan 17 Agustus.

“Kita selalu mendaftarkan karya RW. Alhamdulillah kemarin dapat penghargaan. Dari situ kami terinspirasi lagi, tahun depan bikin apa lagi,” katanya.

Sebelum terowongan bendera merah putih, warga pernah membuat replika bus berukuran besar untuk mengikuti karnaval.

“Kita pernah membuat pulau se-Indonesia di tembok warga. Kemarin membuat kendaraan paling panjang, bus itu juga susah. Sekarang kita bikin terowongan paling panjang lagi,” ujarnya.

Prestasi itu menjadi penyemangat bagi warga untuk terus berinovasi setiap tahunnya.

Di desanya, peringatan HUT RI memang selalu diramaikan berbagai perlombaan. Selain upacara, ada lomba karnaval, lomba gapura, hingga penampilan karya-karya kreatif dari setiap RW.

“Dari desa setiap tahun memang ada upacara sekalian lomba karnaval, lomba gapura. Pokoknya karya-karya warga ditampilkan,” tuturnya.

Seluruh proses pembangunan dilakukan secara swadaya. Dana berasal dari iuran warga yang dikumpulkan menjelang perayaan 17 Agustus.

“Iuran warga. Alhamdulillah ada aspirasi dari warga juga untuk berkarya. Menjelang Agustusan biasanya memang ada iuran,” katanya.

Namun, menurutnya, kekuatan utama bukan terletak pada besarnya dana, melainkan kebersamaan warga.

“Tanpa mereka, dana sebesar apa pun tidak ada artinya. Kalau ada gotong royong, walaupun dananya sedikit, bisa dimanfaatkan lebih maksimal,” ujarnya.

Semangat itu terlihat sejak awal pembangunan dimulai. Respons masyarakat, kata dia, jauh di luar perkiraan.

“Alhamdulillah support-nya luar biasa. Dari awal pembangunan hampir penuh di sini. Ada yang ngambil bambu, motong bambu, belah bambu, motong besi, semua ikut kerja bakti,” katanya.

Namun, lebih dari sekadar penghargaan, Nunung berharap semangat yang tumbuh di kampungnya dapat menular ke lingkungan lain.

“Mudah-mudahan ini menginspirasi. Yang penting solid, semangat gotong royongnya tumbuh di warga,” katanya.

Harapan itu kemudian meluas kepada Indonesia yang akan memasuki usia ke-81.

“Indonesia lebih maju, rakyat lebih sukses, perekonomian lebih stabil,” tuturnya.

Balai RW bahkan tak lagi cukup menampung aktivitas warga saat persiapan HUT RI. Sebagian proses pembuatan ornamen akhirnya dipindahkan ke rumah-rumah warga.

“Di sini sudah penuh, jadi ada yang kita alihkan ke rumah warga juga,” ujar Agus Supriatna Ketua RT 02.

Sekitar 150 batang bambu utuh dibutuhkan untuk membangun terowongan.

Terowongan bukan satu-satunya karya yang dipersiapkan. Warga juga membuat rumah-rumahan, lesung, replika maung putih, hingga becak yang akan ikut memeriahkan arak-arakan.

“Kita sudah bikin rumah-rumahan. Ada maung putih, ada lesung, ada becak juga. Nanti semuanya ikut ditampilkan,” katanya.

Saat hari pelaksanaan nanti, seluruh warga akan ikut memeriahkan karnaval. Tak hanya orang dewasa, ibu-ibu hingga anak-anak juga memiliki peran masing-masing.

x
x