
INFOPANTULAN.COM, BOGOR– Pemerintah mulai menjalankan program Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) sebagai terobosan pemerataan pendidikan berkualitas di Indonesia. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno bahkan mengungkap target besar Presiden agar SNT ke depan dapat hadir di setiap kecamatan.
Pernyataan tersebut disampaikan Pratikno saat menghadiri pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Sekolah Nasional Terintegrasi angkatan pertama, termasuk SNT 7 Bogor, Senin (10/8/2026).
Pratikno mengatakan, pembangunan SNT merupakan arahan Presiden untuk memastikan anak-anak di seluruh Indonesia memiliki kesempatan memperoleh pendidikan berkualitas, tanpa dibatasi tempat tinggal maupun kondisi ekonomi keluarga.
“Akses pendidikan berkualitas itu harus bisa dijangkau oleh anak-anak di seluruh Indonesia,” kata Pratikno.
Menurut dia, SNT mengusung konsep integrasi antar jenjang, terutama SMP dan SMA. Sekolah yang sebelumnya berdiri sebagai institusi berbeda akan diarahkan berada dalam satu manajemen sehingga tata kelola, fasilitas hingga pembelajaran dapat berjalan lebih terintegrasi.
“Yang tadinya dua sekolah, sekarang ini menjadi satu sekolah dengan satu manajemen,” ujarnya.
Pratikno menjelaskan, integrasi SNT bukan sekadar menggabungkan kelembagaan. Infrastruktur pendidikan juga akan ditata agar dapat digunakan secara bersama dan lebih efisien.
Lapangan sepak bola, gedung olahraga, laboratorium hingga fasilitas pendukung lainnya dapat digunakan secara terintegrasi oleh peserta didik.
Selain efisiensi infrastruktur, pemerintah juga mendorong kesinambungan kurikulum dan pembelajaran dari SMP menuju SMA.
Dengan model tersebut, siswa diharapkan tidak mengalami keterputusan proses pendidikan ketika berpindah jenjang.
“Pembelajarannya juga lebih terjaga sambungannya antara SMP dengan SMA,” kata Pratikno.
Pada tahap awal, pemerintah telah memulai SNT di 17 daerah di berbagai provinsi. Pratikno menyebut daerah tersebut tersebar mulai dari Aceh, Maluku Utara, Sulawesi, Kalimantan Utara hingga Nusa Tenggara Timur.
Program tersebut tidak hanya menyasar siswa dengan prestasi akademik. Pemerintah juga memberikan ruang bagi anak-anak berprestasi di bidang olahraga, seni, budaya dan berbagai bidang lainnya.
“Prestasinya bukan hanya prestasi akademik, ada prestasi olahraga, seni budaya, dan lain-lain,” jelasnya.
Pratikno menegaskan, konsep tersebut sejalan dengan tujuan pemerintah mencetak manusia unggul secara utuh.
“Prestasi itu bukan hanya akademik. Bukan hanya matematikanya 10, bukan hanya fisikanya 10. Prestasi itu macam-macam. Prestasi itu bisa seni, bisa olahraga,” tuturnya.
Dalam pidatonya, Pratikno mengungkapkan bahwa Presiden sejak awal menginginkan SNT memiliki jangkauan yang sangat luas.
Bahkan, Presiden sempat memberikan arahan agar SNT dibangun di setiap kecamatan.
“Kami di awal diperintah oleh Pak Presiden, Prabowo, ‘Itu SNT itu harus ada di setiap kecamatan.’ Wah, langsung keringatan kita,” ujar Pratikno disambut tawa peserta.
Namun, menurut Pratikno, target tersebut harus dilakukan secara bertahap karena pembangunan SNT membutuhkan kesiapan kelembagaan, infrastruktur, sumber daya manusia hingga dukungan pemerintah daerah.
“Ya nego, nego, nego, kemudian bertahap. Dan bukan hal yang sangat mudah,” katanya.
Karena itu, Pratikno meminta para kepala daerah ikut mempercepat pengembangan SNT, khususnya dalam penyediaan lahan dan pembangunan fasilitas sekolah.
Pembukaan MPLS SNT angkatan pertama menjadi momentum penting bagi para siswa yang disebut Pratikno sebagai angkatan pionir.
Ia meminta para siswa angkatan pertama tidak sekadar menjadi peserta didik, tetapi mampu menjadi teladan bagi generasi berikutnya.
“Kalian ini adalah angkatan pertama, angkatan pionir. Sebagai anak pertama akan menjadi teladan bagi adik-adik yang berikutnya,” tegasnya.
Pratikno pun memberikan pesan kepada para siswa agar berani menunjukkan prestasi dan menjadi generasi yang membanggakan bangsa.
“Tunjukkan prestasimu! Jadilah anak-anak yang hebat, jadilah anak-anak yang membanggakan, jadilah anak-anak yang membawa kemajuan Indonesia!” serunya.
Di tengah peluncuran program pendidikan baru tersebut, pemerintah juga menekankan pentingnya menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman.
Pratikno menyebut pemerintah bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah telah meluncurkan program “Ruang Aman dan Nyaman untuk Anak”.
Program tersebut diarahkan untuk mencegah kekerasan di lingkungan pendidikan.
“Tidak boleh ada kekerasan. Karena kekerasan itu membawa trauma panjang,” kata Pratikno.
Menurutnya, sekolah berkualitas bukan hanya sekolah yang memiliki fasilitas lengkap dan menghasilkan siswa berprestasi. Lingkungan pendidikan juga harus mampu memberikan rasa aman bagi peserta didik.
“Kita harus bersama-sama membangun ekosistem pendidikan yang aman dan nyaman untuk anak,” tegasnya.
Pratikno menegaskan, filosofi utama SNT adalah memutus ketimpangan akses pendidikan.
Ia tidak ingin kualitas pendidikan seorang anak ditentukan oleh apakah ia lahir dan tumbuh di kota besar atau daerah, maupun apakah orang tuanya memiliki kemampuan ekonomi tinggi.
“Tempat anak lahir dan tumbuh, keluarga asal anak, jangan menentukan kualitas pendidikan. Kualitas pendidikan yang baik harus ada di mana-mana.”
Menurut Pratikno, SNT menjadi salah satu bagian dari berbagai program pemerintah untuk membangun sumber daya manusia Indonesia, berdampingan dengan program seperti Sekolah Unggul Garuda dan Sekolah Rakyat.
Pembukaan MPLS SNT angkatan pertama kemudian dilakukan secara simbolis melalui hitung mundur bersama para pejabat dan perwakilan siswa.
Di SNT 7 Bogor, para siswa juga mengabadikan momentum tersebut dengan membentuk angka 7 menggunakan tangan sebagai simbol 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat.
Hari pertama para siswa SNT itu pun menjadi penanda dimulainya babak baru pendidikan mereka—sekaligus ujian pertama bagi program pemerintah untuk membuktikan bahwa sekolah berkualitas memang bisa hadir lebih merata hingga ke berbagai penjuru Indonesia.

