Bukan Telur, Ini Penyebab Bisul Menurut Ahli Gizi IPB University

Riky Iskandar
15 Sep 2026 10:21
3 menit membaca

INFOPANTULAN.COM, BOGOR – Telur kerap menjadi makanan yang disalahkan ketika anak mengalami bisul. Anggapan bahwa terlalu banyak mengonsumsi telur bisa memicu bisul ternyata tidak didukung bukti ilmiah.

Ahli Gizi IPB University, Dr dr Karina Rahmadia Ekawidyani, MGizi, menjelaskan bahwa bisul pada dasarnya merupakan infeksi pada kulit yang umumnya disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus.

Bakteri tersebut sebenarnya dapat ditemukan secara normal di permukaan kulit. Namun, dalam kondisi tertentu, bakteri dapat masuk melalui luka atau bagian kulit yang mengalami kerusakan dan kemudian menimbulkan infeksi.

“Flora normal ini bisa menyebabkan infeksi apabila sistem kekebalan tubuh menurun atau rendah dan kebersihan diri (hygiene) yang kurang,” jelas Karina, Selasa (15/9/2026).

Menurutnya, anak-anak termasuk kelompok yang lebih rentan mengalami bisul. Salah satu penyebabnya adalah sistem kekebalan tubuh anak yang masih dalam tahap perkembangan.

Selain itu, aktivitas anak yang tinggi juga membuat mereka lebih berisiko mengalami gesekan pada kulit maupun luka akibat garukan. Kondisi tersebut dapat menjadi jalan masuk bagi bakteri ke dalam jaringan kulit.

Faktor kebersihan juga tidak kalah penting. Kebiasaan jarang mandi atau membiarkan kuku tetap panjang dapat meningkatkan risiko terjadinya infeksi kulit, terutama ketika terdapat luka atau goresan pada tubuh.

Karina menegaskan, kondisi kulit akibat alergi telur juga perlu dibedakan dari bisul. Pada seseorang yang memiliki alergi telur, konsumsi telur dapat memicu reaksi seperti bentol, kemerahan, dan rasa gatal.

“Pada orang yang memiliki alergi telur, konsumsi telur yang berlebihan dapat menimbulkan ruam dan gatal-gatal pada kulit. Jika digaruk, ini akan menimbulkan luka terbuka yang mempermudah masuknya bakteri penyebab bisul,” ujarnya.

Dengan demikian, telur tidak secara langsung menyebabkan bisul. Hubungan keduanya dapat terjadi secara tidak langsung pada orang yang memiliki alergi telur, terutama ketika rasa gatal membuat kulit digaruk hingga terluka.

Karina juga mengingatkan masyarakat yang tidak memiliki alergi telur agar tidak menghindari makanan tersebut hanya karena khawatir terkena bisul.

Telur tetap dapat menjadi salah satu sumber protein dalam pola makan sehari-hari. Satu butir telur mengandung sekitar 6–7 gram protein, sedangkan kebutuhan protein orang dewasa berkisar 0,8–1 gram per kilogram berat badan.

Namun, pemenuhan kebutuhan protein sebaiknya tidak hanya mengandalkan telur. Masyarakat dianjurkan mengonsumsi sumber protein yang beragam, baik dari pangan hewani maupun nabati.

Di sisi lain, konsumsi telur tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan karena telur juga mengandung lemak. Setiap butir telur mengandung sekitar 5–5,3 gram lemak, termasuk sekitar 1,5–1,6 gram lemak jenuh.

Batas konsumsi lemak jenuh sendiri maksimal sekitar 7 persen dari total kebutuhan energi atau sekitar 15 gram per hari pada pola makan 2.000 kilokalori.

“Jadi, telur bukan penyebab langsung bisul. Kebersihan diri, kondisi kulit, dan sistem kekebalan tubuh menjadi faktor yang lebih berkaitan dengan munculnya infeksi tersebut,” pungkasnya.

x
x