PSEL Galuga Segera Dibangun, Mesin dari China Siap Ubah Sampah Jadi Listrik

Nelly Sipayung
16 Sep 2026 13:03
4 menit membaca

INFOPANTULAN.COM, BOGOR– Penanganan darurat sampah di Bogor memasuki babak baru. Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL) di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Galuga segera masuk tahap konstruksi setelah proses groundbreaking dijadwalkan dilakukan.

Asisten Vice President Project Danantara, Janter, mengatakan setelah groundbreaking, pembangunan fisik fasilitas PSEL Galuga akan langsung memasuki tahap konstruksi. Pada saat yang sama, pengadaan dan pemasangan peralatan produksi juga akan berjalan secara paralel.

“Mulai dari besok nanti groundbreaking itu. Setelah itu mulai dilakukan konstruksi. Di saat konstruksi ini mulai masuk juga alat-alat produksi yang digunakan di sana,” kata Janter.

Ia mengungkapkan, peralatan produksi PSEL Galuga tersebut akan didatangkan dari Tiongkok. Hal itu sejalan dengan mitra yang telah ditetapkan sebagai pemenang proyek yang berasal dari negara tersebut.

Terkait kemungkinan pasokan sampah tidak memenuhi kuota yang dibutuhkan PSEL, Janter menyebut ketentuan kerja sama memang mengatur adanya penalti.
Namun, risiko tersebut dinilai relatif kecil mengingat produksi sampah di wilayah Bogor sangat besar.

“Kalau dalam ketentuan memang dikenakan penalti. Tapi rasa-rasanya dengan surplus sampah yang tadi disampaikan Pak Bupati, sangat menjamin untuk pemenuhan sampahnya,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan proyek PSEL di Bogor dinilai penting. Selain menghasilkan energi listrik, proyek tersebut diarahkan untuk menjawab persoalan utama yang saat ini dihadapi, yakni kondisi darurat sampah.

“Mitigasi risikonya sangat minim kalau seandainya tidak terpenuhi kuota itu. Apalagi untuk Bogor. Ini menjadi langkah nyata karena utamanya adalah darurat sampah. Yang penting arahnya ke lingkungan,” katanya.

Meski PSEL Galuga akan mengolah sampah menjadi energi listrik, teknologi yang digunakan tidak serta-merta menyelesaikan timbunan sampah lama yang telah menggunung di kawasan TPA.

Janter menjelaskan, teknologi PSEL yang disiapkan lebih diperuntukkan bagi sampah segar atau timbulan sampah baru.

Sementara untuk sampah yang sudah lama tertimbun di Galuga, dibutuhkan teknologi berbeda.

“Ada teknologi lain, tadi sempat disampaikan Pak Bupati, yaitu pirolisis yang akan di-lead oleh pihak TNI,” jelasnya.

Teknologi pirolisis tersebut ditujukan untuk mengolah sampah yang telah menjadi timbunan menjadi produk berbentuk cair, termasuk bahan bakar minyak.

Dengan demikian, penanganan sampah di Galuga nantinya akan memiliki dua pendekatan, yakni PSEL untuk timbulan sampah segar dan teknologi pirolisis untuk menangani timbunan lama.

Tak hanya Kabupaten Bogor, pembangunan PSEL juga disiapkan di wilayah Kota Bogor, tepatnya di Kayu Manis.

SVP Stakeholder Relation Danantara, Dede Firmansyah, mengatakan lokasi PSEL Kayu Manis telah ditetapkan. Proyek tersebut masuk dalam batch 2 atau gelombang kedua pembangunan PSEL.

“Untuk lokasi itu sudah fix. Penetapan lokasi memang langkah pertama. Itu dilakukan oleh Kementerian LH, Kemenko Pangan dan pemerintah daerah,” kata Dede.

Saat ini, proyek PSEL Kayu Manis tengah memasuki tahap feasibility study (FS) yang dilakukan calon mitra swasta.

Dede menargetkan proses tersebut dapat rampung pada akhir 2026 sehingga pembangunan bisa dipercepat menuju groundbreaking.

“Targetnya akhir tahun ini dapat diselesaikan, sehingga bisa dilakukan percepatan untuk groundbreaking juga di wilayah itu,” ujarnya.

Untuk kapasitas pengolahan sampah, PSEL Kayu Manis disebut tidak jauh berbeda dengan fasilitas yang akan dibangun di Galuga.
Namun, investor yang menangani PSEL Kayu Manis berbeda dengan investor PSEL Galuga.

Danantara menyebut pembangunan PSEL saat ini terbagi dalam beberapa gelombang. Untuk proyek yang telah ditetapkan, terdapat tiga lokasi dalam batch pertama, yakni Bali, Bekasi dan Kabupaten Bogor.

Sementara batch kedua mencakup delapan lokasi yang lokasinya telah ditetapkan.

“Kalau yang sampai sekarang existing sudah 8 plus 3. Tiga di batch 1 itu Bali, Bekasi dan Bogor. Ke depannya batch 2 ada di delapan lokasi yang sudah fix,” kata Dede.

Untuk kapasitas pembangkitan listrik, setiap PSEL diproyeksikan menghasilkan energi sekitar 20 hingga 30 megawatt, bergantung pada jumlah dan kualitas sampah yang tersedia.

“Kapasitasnya bervariasi antara 20 sampai 30 megawatt, tergantung kapasitas sampah. Karena kuantitas sampah dikalikan juga dengan kualitas sampah,” jelasnya.

Dalam skema proyek tersebut, pengelolaan residu hasil pembakaran sampah juga telah diperhitungkan. Pemerintah daerah tidak hanya menyiapkan lahan untuk fasilitas PSEL, tetapi juga lokasi untuk menampung residu berupa fly ash dan bottom ash (FABA).

“Sudah termasuk. Makanya disebut FABA. Dalam setiap kerja sama dengan pemda, selain menyiapkan lahan untuk PSEL, ada lahan untuk FABA atau residunya,” ujarnya.

Sementara untuk harga pembelian listrik oleh PLN, Dede menyebut tarifnya telah ditetapkan dalam Perpres Nomor 35.

“Harganya sudah ditetapkan di dalam Perpres 35 sebesar 20 sen per satu kWh. Itu fixed di situ,” katanya.

Dengan dimulainya pembangunan PSEL Galuga, proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik tersebut diharapkan tidak hanya menjadi solusi persoalan timbunan sampah di Bogor, tetapi juga membuka sumber energi baru dari sampah yang selama ini menjadi persoalan lingkungan.

x
x