
INFOPANTULAN.COM – IPB University melalui program Tim Dosen Pulang Kampung (Dospulkam) menggelar pelatihan pemantauan terumbu karang di Desa Sumber Klampok, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali Utara. Kegiatan ini menargetkan kemampuan warga lokal untuk melakukan pencatatan kondisi bawah laut secara terstandar, sehingga restorasi ekosistem laut tidak berhenti pada pemulihan fisik, tetapi juga memiliki data perkembangan yang bisa dipertanggungjawabkan.
Program yang berlangsung pada 11 September ini diikuti 25 peserta dari kelompok masyarakat, pemandu wisata bahari, serta pengelola konservasi pesisir. Tim dipimpin I Wayan Nurjaya dari Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan (ITK), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University, dengan dukungan sejumlah akademisi dan tim mahasiswa. Fokus pelatihan mencakup teknik Line Intercept Transect (LIT), Underwater Photo Transect (UPT), hingga sensus visual biota asosiasi, agar pemantauan dapat dilakukan berkala, terukur, dan mandiri.
Di kawasan pesisir Bali Utara, Desa Sumber Klampok memiliki potensi besar untuk pemulihan ekosistem berbasis masyarakat. Namun, tantangan yang sering muncul dalam program restorasi adalah ketidakseragaman cara pengamatan. Selama ini, pemantauan terumbu karang di area restorasi cenderung dilakukan secara visual umum, sehingga data tentang tutupan karang maupun biota pendampingnya tidak terdokumentasi secara rapi dan ilmiah.
Ketika data tidak terstruktur, evaluasi keberhasilan restorasi menjadi kurang tajam. Perubahan kondisi terumbu karang bisa saja terjadi, tetapi sulit dibuktikan secara kuantitatif dan dibandingkan dari waktu ke waktu. Karena itu, Dospulkam mengarahkan peserta untuk menggunakan prosedur pengamatan yang memiliki standar, sehingga hasilnya bisa menjadi dasar pengambilan keputusan pengelolaan wilayah pesisir.
Dalam kegiatan lapangan, peserta dibekali praktik teknis yang langsung menyentuh proses pengumpulan data. Salah satu materi inti adalah penggelaran tali transek sepanjang 50 meter sebagai acuan pengamatan. Dari titik-titik yang ditentukan transek, peserta dilatih mengidentifikasi kategori substrat terumbu karang serta mencatat temuan dengan cara yang konsisten.
Metode LIT dan UPT tidak hanya soal melihat kondisi karang, tetapi juga soal cara mendokumentasikan hasil. Peserta diperkenalkan penggunaan papan tulis bawah air (underwater slate) untuk pencatatan, kemudian teknik dokumentasi foto bawah air (underwater photography) untuk mendukung verifikasi temuan. Dengan pola kerja seperti ini, data yang terkumpul diharapkan menjadi lebih akurat, mudah dipetakan, dan bisa ditindaklanjuti pada sesi pemantauan berikutnya.
Selain pengamatan substrat, peserta juga mendapat penguatan mengenai pentingnya biota asosiasi yang hidup bersama karang. Pemahaman ini relevan karena kesehatan ekosistem terumbu karang tidak hanya ditentukan oleh tutupan karang, tetapi juga oleh keberagaman organisme yang bergantung pada lingkungan tersebut.
Dospulkam 2026 tidak berjalan sendirian. IPB University merangkul mitra strategis Biorock Indonesia, menggabungkan penerapan teknologi struktur restorasi terumbu karang dengan kapabilitas akademis dalam metode pemantauan ilmiah. Kolaborasi ini diarahkan sebagai transfer pengetahuan (transfer of knowledge) sekaligus transfer keterampilan teknis kepada masyarakat Desa Sumber Klampok.
Dalam pendekatan seperti ini, masyarakat tidak hanya menjadi penerima program, tetapi juga pihak yang memegang peran pengumpul data. Ketika warga mampu melakukan pencatatan mandiri, keberlanjutan pemantauan lebih mungkin terjaga, terutama untuk kegiatan yang membutuhkan pengulangan berkala. Data awal yang dikumpulkan dari praktik lapangan juga diposisikan sebagai baseline data, yang berguna untuk merancang langkah pemulihan perairan secara lebih terukur.
Ketua Tim Dospulkam IPB University, I Wayan Nurjaya, menekankan bahwa restorasi terumbu karang perlu evaluasi dan pengamatan ilmiah yang konsisten. Melalui kolaborasi bersama Biorock Indonesia dan pelatihan metode LIT serta UPT, masyarakat diharapkan mampu mengumpulkan data kuantitatif kesehatan karang secara mandiri. Dengan begitu, keberhasilan restorasi dapat diukur lebih akurat dan menjadi pijakan pengelolaan pesisir yang berkelanjutan.
Di sisi lain, Dekan FPIK IPB University, Beginer Subhan, menggarisbawahi gagasan kepemimpinan sains yang berdampak langsung pada ketahanan maritim. Ia menilai sains dan metodologi ilmiah harus menjadi alat pemberdayaan di garda konservasi, sehingga lahir ilmuwan warga lokal yang memiliki kapasitas ilmiah mandiri. Ketika masyarakat memegang kendali atas data dan kelestarian lautnya, program konservasi berpotensi memperkuat ekologi sekaligus aktivitas ekonomi pesisir yang bergantung pada kesehatan ekosistem.
Setelah sesi sosialisasi, kegiatan dilanjutkan dengan demonstrasi dan praktik langsung di area restorasi perairan Desa Sumber Klampok. Peserta mempraktikkan penggelaran tali transek, pencatatan substrat bentik, serta mendokumentasikan kondisi koloni karang di bawah air bersama tim pendamping. Antusiasme peserta terlihat dari keterlibatan mereka saat melakukan pencatatan menggunakan underwater slate dan mengarahkan pengambilan foto bawah air sesuai kebutuhan pemantauan.
Materi edukasi juga mencakup fungsi ekologis terumbu karang, pentingnya keanekaragaman biota asosiasi, serta peran teknologi restorasi dalam mendukung regenerasi ekosistem pesisir. Dengan kombinasi pengetahuan ekologi dan keterampilan pengumpulan data, peserta memperoleh bekal yang lebih utuh untuk memahami apa yang perlu dipantau dan bagaimana cara mencatatnya.
Langkah ini sejalan dengan upaya penguatan konservasi ekosistem pesisir dan mendukung target pembangunan berkelanjutan terkait kehidupan di bawah air. Pada akhirnya, program Dospulkam menempatkan warga sebagai bagian dari sistem pemantauan, bukan sekadar pengamat pasif, sehingga pengelolaan ekosistem laut di Bali Utara dapat berjalan dengan dasar data yang lebih kuat dan konsisten.

