Belanja iklan Meta hampir Rp200 juta, Kepala BGN Sudaryono jelaskan boosting MBG

Abdul Halim
26 Sep 2026 09:51
Berita 0 30
4 menit membaca

INFOPANTULAN.COM – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menanggapi sorotan publik terkait belanja iklan di platform Meta yang nilainya hampir menyentuh Rp200 juta. Berdasarkan data yang tercatat dalam Meta Ads Library, belanja iklan yang dikaitkan dengan Sudaryono mencapai Rp199.014.038 untuk periode 15 Juni sampai 12 September 2026. Dalam klarifikasi yang disampaikan melalui akun Instagram pribadinya pada Jumat, 25 September 2026, Sudaryono menyatakan dirinya memang melakukan promosi berbayar atau boosting terhadap sejumlah konten.

Sudaryono menjelaskan langkah itu dilakukan untuk memperluas penyebaran informasi tentang Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di tengah ramai percakapan di media sosial. Ia juga menegaskan biaya boosting tersebut menggunakan uang pribadi, bukan berasal dari anggaran pemerintah. Ia menyebut praktik boosting di Meta membuat konten lebih cepat viral, sekaligus menyoroti bahwa informasi positif, termasuk kabar pihak yang bekerja baik, bisa saja dibingkai negatif oleh sebagian orang di ruang digital.

Sudaryono akui boosting konten di Meta untuk dorong informasi MBG

Dalam unggahannya pada Jumat, 25 September 2026, Sudaryono mengakui bahwa akun media sosialnya melakukan boosting. Ia menggambarkan boosting sebagai cara agar konten yang dibagikan dapat lebih luas jangkauannya, bahkan hingga berpotensi menjadi viral. Ia menempatkan tindakannya sebagai upaya memperkuat penyampaian informasi, bukan sebagai tindakan yang bertujuan untuk kepentingan lain.

Sudaryono menyebut rentang waktu promosi berbayar tersebut terjadi antara Juli hingga September, sesuai dengan periode yang tercatat pada data belanja iklan. Ia juga menyinggung bahwa pemberitaan dan percakapan mengenai MBG saat itu sedang ramai, sehingga promosi berbayar dipilih agar informasi mengenai program berjalan lebih mudah ditemukan dan disebarkan oleh pengguna media sosial.

Nilai belanja iklan tercatat Rp199.014.038, sebaran wilayah ikut disorot

Sorotan publik bermula dari data belanja iklan yang muncul dalam Meta Ads Library. Angka yang tercatat menunjukkan nilai belanja iklan yang dikaitkan dengan pengiklan bernama Sudaryono sebesar Rp199.014.038 pada periode 15 Juni hingga 12 September 2026. Dalam data tersebut, belanja iklan tidak hanya terpusat di satu wilayah, melainkan menyebar ke sejumlah daerah.

Jawa Barat tercatat menjadi salah satu wilayah dengan alokasi terbesar, sekitar Rp35,13 juta. Setelah itu, Jawa Tengah sekitar Rp29,19 juta dan Jawa Timur sekitar Rp26,40 juta. Wilayah lain yang tercatat antara lain Sumatera Utara sekitar Rp15,46 juta, Lampung Rp6,90 juta, Riau Rp6,82 juta, serta Jakarta sekitar Rp6,77 juta. Sebaran ini memperlihatkan bahwa promosi berbayar diarahkan ke berbagai pasar pengguna, bukan sekadar audiens lokal tertentu.

Sudaryono tekankan biaya boosting memakai uang pribadi

Menanggapi pertanyaan mengenai sumber dana, Sudaryono secara tegas menyatakan bahwa biaya boosting menggunakan uang pribadi. Ia menyampaikan bahwa dirinya berkepentingan untuk mensyiarkan berita-berita yang menurutnya baik terkait MBG. Dengan penegasan itu, ia membedakan antara aktivitas promosi berbayar yang ia lakukan sendiri dan penggunaan anggaran pemerintah.

Sudaryono juga menolak anggapan bahwa promosi yang dilakukan dapat dikategorikan sebagai pemakaian anggaran negara. Ia menempatkan klarifikasinya sebagai jawaban atas pemberitaan yang menyoroti belanja iklan di Meta yang dikaitkan dengan dirinya.

Materi iklan banyak terkait MBG, dari rantai pasok hingga narasi pemerintah

Data belanja iklan yang tercatat menampilkan sejumlah materi iklan yang berhubungan dengan Program Makan Bergizi Gratis. Materi yang muncul antara lain menyoroti pembenahan rantai pasok, layanan dapur, label makanan, hingga narasi tentang program pemerintah dan peran Presiden Prabowo Subianto dalam konteks pelaksanaan MBG.

Penjadwalan belanja iklan tersebut juga bertepatan ketika MBG menjadi salah satu program pemerintah yang mendapat perhatian luas di media sosial. Dalam konteks ini, boosting dapat dipahami sebagai upaya mempercepat jangkauan konten informatif agar lebih banyak pengguna melihat materi yang dianggap relevan dan positif.

Dampak bagi warga: informasi program lebih cepat menyebar, tetapi memicu perdebatan

Praktik promosi berbayar seperti boosting biasanya memengaruhi kecepatan penyebaran konten, termasuk informasi program pemerintah. Ketika konten tentang MBG mendapat dorongan algoritmik, pengguna di berbagai wilayah cenderung lebih sering melihat materi terkait, mulai dari penjelasan layanan hingga narasi pelaksanaan program.

Namun, di sisi lain, penggunaan ruang iklan dan promosi berbayar juga sering memunculkan perdebatan publik. Sebab, audiens bisa menilai bahwa konten yang dipromosikan lebih mudah membentuk persepsi, sementara pihak lain menilai promosi semacam itu diperlukan agar informasi tidak tenggelam oleh percakapan lain di media sosial. Sudaryono sendiri menyinggung bahwa pekerjaan yang sudah baik bisa saja tetap disertai framing negatif oleh sebagian orang, sehingga ia memilih memperkuat penyebaran versi informasi yang ia anggap benar dan bermanfaat.

Istilah DFK dan tudingan disinformasi, fitnah, serta kebencian

Dalam klarifikasinya, Sudaryono menyinggung istilah DFK yang menurutnya berkaitan dengan disinformasi, fitnah, dan kebencian. Ia menyampaikan bahwa informasi yang berisi kabar positif bisa saja menghadapi respons negatif di ruang digital, sehingga konten perlu didorong agar pesan yang ia anggap baik dapat menjangkau lebih banyak orang.

Dengan penjelasan itu, Sudaryono menempatkan boosting bukan semata-mata sebagai strategi popularitas, melainkan sebagai respons terhadap pola perdebatan yang menurutnya terjadi saat program MBG menjadi topik yang banyak dibicarakan. Ia mengaitkan langkah tersebut dengan kebutuhan untuk memperluas jangkauan informasi, sekaligus menjaga agar pembahasan publik tidak didominasi oleh narasi yang menurutnya merugikan.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

x
x