Pengalaman Wisata Berbasis Sustainability Jadi Fokus ITMO 2027 di Jakarta

Abdul Halim
26 Sep 2026 10:35
Ekonomi 0 38
4 menit membaca

INFOPANTULAN.COM – Pengembangan pariwisata menuju 2027 kini tidak lagi berhenti pada target jumlah kunjungan atau penjualan tiket. Dalam Indonesia Tourism & MICE Outlook 2027 (ITMO), pembahasan diarahkan pada bagaimana pengalaman wisata bisa dirancang lebih bermakna sekaligus tetap menjaga keberlanjutan lingkungan. Forum ini digelar di Jakarta pada Kamis, 24 September 2026, dengan menghadirkan pelaku industri, akademisi, pembuat kebijakan, asosiasi, serta berbagai pemangku kepentingan terkait.

Wakil Menteri Pariwisata Republik Indonesia, Ni Luh Puspa, membuka diskusi dan menekankan perlunya integrasi pengalaman wisata agar pertumbuhan wisatawan berdampak ekonomi yang lebih luas. Ia juga menggarisbawahi bahwa pariwisata tidak bisa berjalan sendiri-sendiri, melainkan perlu “menjahit” pengalaman secara bersama melalui kolaborasi lintas pihak. Dari sisi industri, Managing Director Mitra Natura Raya, Marga Anggrianto, menilai model kerja sama pemerintah dan swasta atau public-private partnership (PPP) menjadi pendekatan strategis untuk memperkuat ekosistem pariwisata.

Ni Luh Puspa Dorong Pengalaman Wisata Terintegrasi untuk Manfaat Ekonomi

Ni Luh Puspa menempatkan pengalaman wisata sebagai elemen kunci yang harus dirancang secara terintegrasi. Menurutnya, peningkatan jumlah wisatawan semestinya tidak hanya berhenti pada angka, tetapi harus diterjemahkan menjadi manfaat nyata yang bisa dirasakan banyak sektor yang terlibat. Ini mencakup bagaimana destinasi, layanan, informasi, hingga aktivitas wisata disusun agar saling terhubung, bukan berjalan terpisah.

Gagasan integrasi pengalaman juga menyentuh cara industri memandang “nilai” sebuah perjalanan. Jika pengalaman disusun dengan baik, dampaknya bisa mengalir ke pelaku usaha lokal, penciptaan pekerjaan, sampai penguatan sektor pendukung seperti ekonomi kreatif. Dengan kata lain, pertumbuhan kunjungan perlu diikuti oleh desain ekosistem yang membuat wisatawan merasakan kualitas yang konsisten, sekaligus mendorong aktivitas ekonomi yang lebih luas.

PPP Dinilai Perkuat Ekosistem Pariwisata dan Inovasi Layanan

Marga Anggrianto menegaskan bahwa peningkatan kualitas pengalaman wisata tidak bisa diserahkan hanya kepada satu pihak. Ia menyebut perlunya kolaborasi lintas sektor yang terstruktur, karena masing-masing aktor punya peran berbeda. Pemerintah, misalnya, berperan menghadirkan kepastian regulasi dan mendorong kerja sama agar program bisa berjalan dengan arah yang jelas dan berkelanjutan.

Sementara itu, pihak swasta dapat memberi kontribusi melalui inovasi, penguatan layanan, serta pengembangan ekonomi kreatif yang membuat pengalaman wisata lebih hidup. Dalam kerangka PPP, kolaborasi tidak sekadar berbagi tugas, tetapi juga menyatukan kemampuan, mulai dari manajemen destinasi sampai pengembangan program yang relevan dengan kebutuhan wisatawan.

Kebun Raya Bogor dan Jaringan Kebun Raya Contoh Experience Tourism Berbasis Konservasi

Salah satu contoh yang disorot adalah pengelolaan empat Kebun Raya yang menjadi bagian dari Mitra Natura Raya, yaitu Kebun Raya Bogor, Kebun Raya Cibodas, Kebun Raya Purwodadi, dan Kebun Raya Bali. Marga menjelaskan bahwa kawasan Kebun Raya memiliki kekuatan pada ruang hijau, sejarah, serta keanekaragaman hayati yang bisa dikembangkan menjadi pengalaman wisata tanpa mengesampingkan fungsi konservasi.

Di sini, konsepnya bukan memilih antara konservasi dan aktivitas ekonomi, melainkan memadukan keduanya. Pengalaman wisata diarahkan melalui perpaduan konservasi, edukasi lingkungan, dan aktivitas ekonomi kreatif. Dengan pendekatan seperti ini, wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati pemandangan, tetapi juga memperoleh pembelajaran mengenai ekosistem serta cara menjaga lingkungan.

Mitra Natura Raya sendiri merupakan bagian dari Dyandra Media International Tbk dengan kode saham DYAN, perusahaan yang bergerak di bidang pariwisata dan MICE. Marga menyebut pengalaman Dyandra di sektor pariwisata dan MICE turut mendukung pengembangan fungsi wisata di kawasan Kebun Raya. Ia juga mengaitkan model kemitraan tersebut sebagai inovasi yang lahir dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mengoptimalkan fungsi Kebun Raya sekaligus memberi manfaat bagi beragam pihak.

MICE 2027 Bergeser ke Responsible dan Sustainable Tourism

Menatap 2027, Marga melihat industri Meeting, Incentive, Convention and Exhibition (MICE) mengalami perubahan cara pandang. Ia menyebut bahwa baik perusahaan global maupun komunitas lokal semakin mempertimbangkan aspek keberlanjutan dan tanggung jawab lingkungan saat menyelenggarakan kegiatan. Ini terlihat dari tuntutan pasar yang tidak hanya mengejar nilai ekonomi, tetapi juga menuntut penyelenggaraan yang selaras dengan prinsip responsible dan sustainable tourism.

Dalam pandangannya, MICE di masa depan tidak bisa dilepaskan dari kualitas dampak yang ditinggalkan. Karena itu, pengelolaan destinasi seperti Kebun Raya diposisikan sebagai contoh bagaimana pengalaman wisata dapat dipadukan dengan konservasi dan edukasi lingkungan. Kolaborasi kemitraan Kebun Raya disebutnya sebagai wujud pelaksanaan experience tourism dengan tema keberlanjutan dan edukasi lingkungan, sekaligus berkontribusi pada perputaran roda perekonomian.

Forum ITMO 2027 di Jakarta memperlihatkan arah kebijakan dan strategi industri yang makin menekankan keterpaduan pengalaman, dukungan PPP, serta keberlanjutan sebagai standar. Bagi warga dan pelaku usaha di sekitar destinasi, pendekatan seperti ini berpotensi mengubah pola kunjungan menjadi lebih panjang dan bermakna, sekaligus membuka peluang kerja dan aktivitas ekonomi kreatif yang lebih nyata di lapangan.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

x
x