google-site-verification: googlee764d4e3cb0d20cc.html

Selain rumah warga, dampak erupsi juga menyentuh area pendidikan. Penjaga SMPN 2 Ciomas, Aria (35), menyebut sejumlah bagian sekolah berdebu, mulai dari teras ruang kelas, pos satpam, hingga perabot seperti kursi dan meja.
Aria menjelaskan abu mulai menyebar ke wilayah sekolah pada Minggu dini hari. Saat udara berubah, ia merasakan gangguan pada pernapasan. “Dari semalam udaranya sudah beda, bikin napas sesak,” ungkapnya. Keluhan ini mencerminkan bahwa abu tidak hanya menimbulkan masalah kebersihan, tetapi juga berpotensi mengganggu kenyamanan dan kesehatan, terutama bagi mereka yang berada di luar ruangan dalam waktu lebih lama.
Di Kampung Kabandungan, Desa Sirnagalih, Kecamatan Ciomas, kondisi serupa juga dilaporkan terjadi. Ujang, warga setempat, mengatakan abu vulkanik membuat halaman rumah dan perabot luar tampak kotor sejak pagi.
Ia menuturkan proses pembersihan sudah dilakukan beberapa kali, namun debu masih tersisa. “Dari pagi, sampai kursi kotor. Sudah empat kali dibersihkan ini masih ada debunya,” kata Ujang. Pernyataan tersebut menguatkan gambaran bahwa abu yang jatuh cenderung berkelanjutan pada periode tertentu, sehingga pembersihan perlu dilakukan secara lebih intensif dan terkoordinasi.


Tidak ada komentar