IHSG melemah dan rupiah tertekan, dipicu tensi Timur Tengah dan ekspektasi The Fed

Abdul Halim
12 Sep 2026 03:00
Ekonomi 0 29
5 menit membaca

INFOPANTULAN.COM – Pergerakan pasar saham Indonesia kembali menunjukkan tekanan pada awal perdagangan Jumat, setelah IHSG pada Kamis ditutup melemah 1,33 persen atau 88,86 poin ke level 6.589,34. Sentimen global ikut membayangi pelaku pasar, terutama ketegangan geopolitik di Timur Tengah, lonjakan harga minyak, serta ekspektasi terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed).

Di perdagangan Jumat, IHSG dibuka turun 0,55 persen ke level 6.552,79, lalu tekanan berlanjut. Sekitar pukul 09.26 WIB, indeks sempat jatuh hingga 1,55 persen ke level 6.487,26. Bersamaan dengan itu, rupiah juga melemah di kisaran Rp17.585 per dolar AS, turun sekitar 0,22 persen dibanding posisi penutupan sebelumnya.

IHSG melemah beruntun, investor kembali menilai risiko global

Pola pelemahan yang terjadi dalam beberapa sesi menunjukkan bahwa kehati-hatian investor masih dominan. Pada Kamis, indeks bergerak turun sejak awal dan akhirnya ditutup di 6.589,34. Masuk Jumat, pergerakan serupa terlihat ketika indeks dibuka lebih rendah, bahkan sempat turun lebih dalam sebelum menguji level-level bawah.

Meski penurunan indeks kerap memicu kekhawatiran, pelaku pasar tetap perlu melihat konteksnya. Pergerakan IHSG tidak bisa dibaca sebagai sinyal tunggal krisis, karena pasar juga merespons kombinasi faktor, mulai dari kondisi geopolitik hingga ekspektasi makroekonomi global yang memengaruhi arus modal.

Dalam kondisi seperti ini, investor biasanya menimbang dua hal sekaligus, yakni apakah tekanan bersifat sementara akibat sentimen, atau justru berpotensi berlanjut apabila indikator ekonomi dan harga komoditas bergerak menguatkan kekhawatiran inflasi.

Tensi Timur Tengah dan lonjakan minyak mendorong kekhawatiran inflasi

Salah satu pemicu yang mendapat perhatian adalah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Situasi tersebut mendorong kekhawatiran gangguan pasokan energi, yang pada akhirnya tercermin pada pergerakan harga minyak dunia.

Harga minyak mengalami kenaikan tajam, bahkan Brent sempat mendekati level US$110 per barel sebelum kemudian terkoreksi. Sepanjang sepekan, Brent tercatat naik sekitar 10 persen. Kenaikan energi seperti ini sering kali tidak berhenti pada sektor minyak dan gas saja, tetapi bisa merembet ke biaya produksi serta transportasi di berbagai industri.

Bila kenaikan biaya tersebut berlanjut dan diteruskan kepada konsumen, tekanan inflasi berpeluang meningkat. Bagi pasar, ekspektasi inflasi yang memburuk biasanya berdampak pada perubahan proyeksi kebijakan moneter, termasuk peluang kapan dan seberapa agresif suku bunga akan dipangkas.

Ekspektasi The Fed jadi bayang-bayang, imbal hasil ikut menentukan arah pasar

Di sisi lain, arah kebijakan The Fed menjadi fokus berikutnya. Investor menunggu sejumlah data ekonomi dari Amerika Serikat sebagai petunjuk mengenai tingkat suku bunga ke depan. Dalam kerangka ini, lonjakan harga minyak dapat menjadi pemicu ulang inflasi, sehingga ruang penurunan suku bunga bisa menjadi lebih terbatas.

Ketika inflasi sulit turun, pasar cenderung menilai bahwa The Fed akan lebih berhati-hati dalam memangkas suku bunga. Dampaknya bisa terlihat dari imbal hasil obligasi pemerintah AS yang turut dipantau karena berhubungan dengan daya tarik aset berisiko.

Untuk negara berkembang seperti Indonesia, perubahan imbal hasil AS sering memengaruhi keputusan investor global. Jika imbal hasil meningkat, sebagian dana internasional dapat beralih ke aset yang dianggap lebih aman, sehingga tekanan terhadap pasar saham dan nilai tukar rupiah berpotensi muncul.

Wall Street dan bursa Asia melemah, efek domino sentimen global

Tekanan terhadap IHSG juga tidak berdiri sendiri. Di Amerika Serikat, sejumlah indeks utama Wall Street ditutup di zona merah, dengan Dow Jones turun 0,60 persen, S&P 500 melemah 0,58 persen, dan Nasdaq turun 0,65 persen.

Di Asia, pasar saham turut tertekan sehingga memberi gambaran bahwa sentimen yang dihadapi investor global relatif seragam. Kombinasi yang sama, yakni ketegangan geopolitik, kenaikan harga minyak, dan prospek inflasi, menjadi benang merah yang membuat investor cenderung mengurangi risiko.

Dalam situasi seperti ini, pasar domestik biasanya ikut merasakan dampaknya melalui pergerakan modal dan perubahan ekspektasi investor terhadap prospek ekonomi serta laba emiten.

Rupiah melemah dan sektor energi ikut tertekan

Selain IHSG, rupiah juga berada dalam sorotan. Pada pembukaan perdagangan Jumat, mata uang rupiah berada di sekitar Rp17.585 per dolar AS dan melemah sekitar 0,22 persen. Pergerakan rupiah yang melemah bersamaan dengan IHSG menunjukkan adanya tekanan terhadap aset-aset domestik pada awal sesi.

Namun, arah rupiah dan indeks tidak sepenuhnya berdiri di dalam negeri. Keduanya sangat dipengaruhi sentimen global, arus modal asing, perkembangan harga komoditas, serta kebijakan moneter yang akan menjadi petunjuk lanjutan bagi investor.

Menariknya, kenaikan harga minyak tidak langsung membuat seluruh saham sektor energi menguat. Pada perdagangan Kamis, indeks sektor energi justru melemah 2,06 persen. Sejumlah saham di sektor tersebut ikut terkoreksi, termasuk INDY, NCKL, BUMI, MBMA, dan DEWA, sementara seluruh indeks sektoral juga berakhir melemah.

Fenomena ini mengindikasikan bahwa pasar tidak hanya bereaksi pada arah harga komoditas. Investor juga mempertimbangkan kondisi masing-masing emiten, valuasi, prospek laba, serta risiko yang dinilai dari keseluruhan kondisi pasar.

Apakah investor harus panik?

Pelemahan IHSG dalam beberapa sesi lebih tepat dipahami sebagai respons pasar terhadap kombinasi sentimen global. Tekanan yang muncul terkait geopolitik dan ekonomi internasional dapat memunculkan volatilitas, tetapi belum otomatis berarti terjadi krisis pasar saham.

Yang perlu dicermati berikutnya adalah apakah tekanan tersebut berhenti seiring meredanya faktor sentimen, atau justru menguat bila ekspektasi inflasi dan arah kebijakan The Fed terus bergerak mempersempit ruang penurunan suku bunga. Perubahan ekspektasi itulah yang biasanya menentukan apakah pasar akan kembali stabil atau masih melanjutkan koreksi.

x
x