Artis hadir di aksi #IndonesiaSadar di Bundaran HI, Jakarta Pusat 28 Oktober 2026

Abdul Halim
29 Okt 2026 05:57
Peristiwa 0 1
6 menit membaca

Lokasi peristiwa, Infopantulan.com – Aksi #IndonesiaSadar di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, berlangsung pada Rabu, 28 Oktober 2026. Sejumlah artis Indonesia terlihat hadir bersama mahasiswa dan elemen masyarakat sipil, sementara gerakan itu digerakkan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) bersama Komite Selamatkan Daulat Rakyat (Komite SADAR). Peristiwa ini bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, dan sebagian figur publik berperan langsung di lapangan, termasuk membantu logistik serta kebutuhan medis bagi peserta.

Menurut keterangan yang disampaikan Zaskia Adya Mecca, ia bergabung melalui Aliansi Ibu Indonesia dan membawa ambulans, perlengkapan medis, makanan, serta minuman untuk mendukung massa selama demonstrasi berlangsung. Pada unggahannya, Zaskia juga menyebut dirinya baru kembali dari Kalimantan setelah mengunjungi warga terdampak kebakaran hutan dan lahan, sehingga ia merasa perlu ikut menyampaikan kegelisahan masyarakat. Aksi #IndonesiaSadar sendiri merupakan kelanjutan dari gerakan sebelumnya pada 20 Oktober 2026 dengan seruan “Tepati atau Pergi”.

Artis dan dukungan logistik di Bundaran HI saat aksi #IndonesiaSadar

Di lokasi Bundaran HI, Jakarta Pusat, sejumlah figur publik tampil di tengah massa demonstran. Zaskia Adya Mecca menjadi salah satu nama yang menonjol karena perannya bukan sekadar hadir, melainkan membawa fasilitas dan kebutuhan medis. Ia disebut membawa ambulans serta perlengkapan medis, selain logistik berupa makanan dan minuman. Kehadiran dukungan seperti ini biasanya sangat menentukan kenyamanan peserta, terutama ketika demonstrasi berlangsung dalam waktu yang cukup panjang dan melibatkan kerumunan besar.

Dalam keterangannya, Zaskia juga menekankan niatnya menggunakan sumber daya yang ia miliki untuk membantu massa sekaligus menyebarkan informasi mengenai situasi di lokasi. Ia menggambarkan keterlibatannya sebagai kolaborasi bersama Aliansi Ibu Indonesia. Pola dukungan semacam ini kerap muncul ketika aksi tidak hanya memusatkan perhatian pada penyampaian tuntutan, tetapi juga pada aspek keselamatan dan pemenuhan kebutuhan dasar peserta.

Selain Zaskia, sejumlah nama lain disebut hadir dalam aksi. Wanda Hamidah turut terlihat berada di tengah demonstran dengan membawa poster bertuliskan “Silence is Violence”. Hamidah Rachmayanti dan suaminya, Irfan Farhad, juga disebut hadir dalam kegiatan tersebut. Melalui unggahan yang beredar, Hamidah Rachmayanti membagikan suasana demonstrasi dan menyebut bantuan logistik dari Aliansi Ibu Indonesia turut mendukung peserta.

Keterkaitan isu kebakaran hutan dan lahan dengan alasan kehadiran

Dalam narasi yang disampaikan Zaskia Adya Mecca, ada keterhubungan langsung antara pengalaman kunjungannya ke Kalimantan dan alasan ia ikut turun dalam aksi. Ia menyatakan baru kembali dari Kalimantan setelah mengunjungi warga terdampak kebakaran hutan dan lahan. Pengalaman itu, menurutnya, membuat ia merasa perlu ikut menyampaikan kegelisahan masyarakat.

Kalimat tersebut memberi petunjuk bahwa kehadiran figur publik tidak berdiri sendiri, melainkan terkait dengan isu yang diangkat dalam aksi #IndonesiaSadar. Dalam tuntutan yang disampaikan massa, isu penanganan kebakaran hutan dan lahan menjadi salah satu poin yang disebut bersama dengan agenda lain, seperti penggunaan anggaran negara, biaya pendidikan, penegakan hukum, pemberantasan korupsi, serta perlindungan kebebasan sipil dan hak asasi manusia.

Dengan demikian, dukungan logistik yang dibawa Zaskia dapat dibaca sebagai bentuk respons terhadap dua kebutuhan sekaligus, yakni dukungan praktis selama aksi berlangsung dan upaya memperkuat perhatian publik pada isu lingkungan yang diceritakan melalui pengalamannya di Kalimantan. Namun, informasi yang tersedia tidak merinci detail teknis bantuan, jenis layanan medis yang diberikan, maupun jumlah penerima, sehingga aspek operasionalnya masih perlu verifikasi lanjutan bila diperlukan.

Figur publik lain di lokasi, termasuk poster dan dokumentasi suasana

Selain dukungan medis dan logistik, sejumlah figur publik disebut berkontribusi lewat simbol dan dokumentasi. Wanda Hamidah, misalnya, tampil membawa poster bertuliskan “Silence is Violence”. Pesan pada poster tersebut menjadi cara yang relatif cepat untuk menyampaikan sikap di ruang publik, terutama saat aksi berlangsung di titik yang menjadi perhatian luas.

Di sisi lain, kreator konten Andovi da Lopez disebut membagikan video saat berada di kawasan Bundaran HI. Sementara itu, penulis skenario Meira Anastasia dan presenter Shahnaz Soehartono juga disebut dalam laporan mengenai figur publik yang mengikuti demonstrasi pada hari tersebut. Kehadiran berbagai jenis figur, mulai dari aktor, kreator, hingga pembuat konten dan presenter, menunjukkan bahwa aksi ini menarik perhatian lintas profesi, bukan hanya kalangan mahasiswa atau organisasi tertentu.

Peran dokumentasi juga dapat memengaruhi jangkauan informasi. Saat banyak unggahan muncul dari berbagai sudut, narasi aksi cenderung menyebar lebih cepat, termasuk detail suasana di lokasi. Meski demikian, tidak semua informasi yang beredar otomatis dapat dipastikan validitas kehadirannya, terutama bila hanya berasal dari unggahan warganet.

Kehadiran yang masih perlu konfirmasi: Reza Rahadian dan Eva Celia

Dalam bahan yang tersedia, ada informasi yang menyebut aktor Reza Rahadian dan penyanyi Eva Celia berada di lokasi aksi. Namun, keterangan mengenai kehadiran keduanya disebut bersumber dari unggahan warganet dan belum disertai konfirmasi langsung dari mereka. Artinya, pembaca perlu membedakan antara informasi yang telah disampaikan langsung oleh pihak terkait dengan informasi yang masih berbasis pengamatan publik.

Untuk Eva Celia, disebut mengenakan kaus putih bertuliskan “Join Us. We fight for a clean government.” Pernyataan ini menggambarkan adanya pesan politik yang tegas dalam bentuk slogan. Walau demikian, karena konfirmasi langsung belum disebutkan, detail tersebut sebaiknya diperlakukan sebagai indikasi, bukan fakta final, sampai ada klarifikasi dari pihak yang bersangkutan.

Di situasi seperti ini, verifikasi menjadi penting agar narasi aksi tidak tercampur dengan asumsi. Informasi yang belum terkonfirmasi bisa menimbulkan salah paham, baik terkait posisi individu di lapangan maupun keterkaitan mereka dengan organisasi penggerak.

Penggerak aksi dan rangkaian tuntutan #IndonesiaSadar

Aksi #IndonesiaSadar digerakkan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) bersama Komite Selamatkan Daulat Rakyat (Komite SADAR). Gerakan ini disebut sebagai kelanjutan dari aksi pada 20 Oktober 2026 dengan seruan “Tepati atau Pergi”. Keterkaitan dengan aksi sebelumnya memperlihatkan bahwa kampanye ini tidak berhenti pada satu tanggal, melainkan berupaya menjaga momentum tuntutan di ruang publik.

Dari sisi substansi, massa menyampaikan tuntutan yang mencakup beberapa isu besar. Di antaranya penanganan kebakaran hutan dan lahan, penggunaan anggaran negara, biaya pendidikan, penegakan hukum, pemberantasan korupsi, serta perlindungan kebebasan sipil dan hak asasi manusia. Dengan daftar tuntutan yang luas, aksi ini tampak menempatkan isu lingkungan, tata kelola pemerintahan, hingga perlindungan hak sipil dalam satu kerangka gerakan.

Bagian ini juga menjelaskan bagaimana keterlibatan figur publik bisa bervariasi. Ada yang hadir membawa dukungan logistik, ada yang menyampaikan simbol lewat poster, ada pula yang mendokumentasikan suasana. Sementara penggerak utama berasal dari organisasi mahasiswa dan komite, partisipasi lintas profesi menambah warna sekaligus memperluas perhatian publik terhadap isu yang diangkat.

Dampak nyata bagi peserta: bantuan medis dan kebutuhan dasar

Dalam kerumunan aksi seperti di Bundaran HI, kebutuhan dasar sering menjadi faktor penentu kenyamanan peserta. Keterangan Zaskia Adya Mecca yang menyebut ambulans, perlengkapan medis, makanan, dan minuman menunjukkan adanya upaya menekan risiko yang bisa muncul saat massa berada di lokasi dalam waktu tertentu. Walaupun bahan tidak menyebutkan jumlah penerima maupun jenis layanan medis yang diberikan, keberadaan dukungan semacam ini menunjukkan perhatian pada aspek keselamatan.

Selain itu, bantuan logistik dari Aliansi Ibu Indonesia yang disebut dalam keterangan Hamidah Rachmayanti turut memperkuat gambaran bahwa dukungan tidak hanya bersifat simbolik. Peserta demonstrasi tidak hanya menunggu penyampaian tuntutan, tetapi juga mendapat fasilitas yang membantu mereka bertahan dalam situasi lapangan. Informasi ini relevan bagi pembaca yang ingin memahami bagaimana aksi dijalankan, bukan hanya apa tuntutannya.

x
x