Inflasi Agustus 2026 3,19% BPS, makanan dan inflasi inti jadi pendorong utama

Abdul Halim
2 Sep 2026 08:52
Ekonomi 0 35
3 menit membaca

INFOPANTULAN.COM – Tekanan harga di Indonesia kembali menguat. Badan Pusat Statistik mencatat inflasi tahunan Agustus 2026 mencapai 3,19 persen, naik dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 2,31 persen. Kenaikan ini menandakan adanya peningkatan tekanan pada sejumlah kelompok barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat.

Rilis BPS yang disampaikan Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa, Ateng Hartono, juga menunjukkan bahwa inflasi tidak hanya bersumber dari kebutuhan pangan. Komponen inflasi inti, harga bergejolak, serta kelompok yang diatur pemerintah ikut berkontribusi, sehingga gambaran kenaikan harga terlihat lebih luas daripada sekadar komoditas harian.

Inflasi tahunan Agustus 2026 3,19 persen, makanan menyumbang terbesar

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau tercatat menjadi salah satu penyumbang terbesar terhadap inflasi tahunan Agustus 2026. Kelompok ini memberikan andil inflasi sebesar 1,13 persen, atau porsi yang cukup dominan dalam pembentukan angka inflasi tahunan.

Sejumlah komoditas ikut memberi tekanan harga, terutama daging ayam ras, cabai rawit, ikan segar, dan beras. Daging ayam ras memberikan andil inflasi sebesar 0,17 persen, sedangkan cabai rawit, ikan segar, dan beras masing-masing menyumbang andil 0,02 persen. Pola ini memperlihatkan bahwa kenaikan harga kebutuhan pangan masih terasa, karena beberapa komoditas tersebut termasuk yang paling sering menjadi bagian dari konsumsi rumah tangga.

Bukan hanya pangan, layanan dan transportasi juga menambah tekanan

Tekanan inflasi ternyata tidak berhenti pada kelompok makanan. BPS mencatat kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya memberikan andil sebesar 0,63 persen. Sementara itu, kelompok transportasi menyumbang andil sebesar 0,58 persen terhadap inflasi tahunan Agustus 2026.

Dari sisi komponen, inflasi inti menjadi penyumbang terbesar, dengan andil mencapai 1,87 persen. Setelah itu, terdapat komponen harga bergejolak dengan andil 0,67 persen, serta harga yang diatur pemerintah dengan andil 0,65 persen. Artinya, ada tekanan harga yang lebih “menetap” di luar komoditas yang biasanya bergejolak musiman, sehingga beban biaya konsumsi berpotensi lebih panjang.

Inflasi inti juga dipengaruhi kenaikan pada sejumlah barang, antara lain emas perhiasan, minyak goreng, nasi dengan lauk, telepon seluler, oli mesin, hingga laptop. Kombinasi komoditas tersebut menarik perhatian karena mencakup kebutuhan yang beragam, dari barang konsumsi hingga barang yang terkait aktivitas rumah tangga dan produktivitas.

Inflasi bulanan Agustus 2026 sebesar 0,21 persen, pemerintah justru deflasi

Jika dihitung secara bulanan, inflasi Agustus 2026 berada di level 0,21 persen. Indeks Harga Konsumen (IHK) meningkat dari 111,73 pada Juli menjadi 111,97 pada Agustus 2026. Kenaikan IHK ini memberi sinyal bahwa pada periode tersebut harga umum masih cenderung naik, meskipun tidak setajam lonjakan tahunan.

Menariknya, komponen harga yang diatur pemerintah justru mengalami deflasi sebesar 0,33 persen. Sementara itu, inflasi tahun kalender Januari hingga Agustus 2026 tercatat sebesar 1,86 persen. Dengan adanya deflasi pada komponen yang diatur pemerintah, tekanan kenaikan harga lebih banyak datang dari komponen yang tidak sepenuhnya dikendalikan melalui mekanisme penetapan harga.

27 provinsi mengalami inflasi, Bangka Belitung dan Maluku tertinggi

Tekanan harga juga terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Dari 38 provinsi, sebanyak 27 provinsi mengalami inflasi secara bulanan, sedangkan 11 provinsi lainnya mencatat deflasi. Perbedaan antarwilayah ini biasanya berkaitan dengan variasi pasokan, distribusi, serta perbedaan permintaan musiman.

Inflasi bulanan tertinggi terjadi di Kepulauan Bangka Belitung dan Maluku, yang masing-masing mencapai 0,81 persen. Sebaliknya, deflasi terdalam tercatat di Papua Pegunungan sebesar 1,27 persen. Kontras ini menunjukkan bahwa pergerakan harga tidak seragam, sehingga respons kebijakan dan strategi pengendalian harga juga perlu mempertimbangkan karakteristik wilayah.

Implikasi: kenaikan harga dekat konsumsi harian perlu diwaspadai

Kenaikan inflasi menjadi perhatian karena sejumlah komoditas yang mengalami tekanan merupakan kebutuhan yang dekat dengan konsumsi masyarakat sehari-hari. Saat harga pangan dan komponen inti sama-sama menekan, daya beli rumah tangga berpotensi lebih cepat tergerus, terutama bagi kelompok yang pengeluaran pangannya masih dominan.

Bagi pemangku kebijakan, gambaran ini menekankan pentingnya pengendalian harga yang tidak hanya fokus pada komoditas tertentu, tetapi juga memperhatikan faktor yang memengaruhi inflasi inti serta komponen harga bergejolak. Dengan demikian, upaya menjaga stabilitas harga bisa lebih menyeluruh dan responsif terhadap perubahan di lapangan.

x
x