
Kabupaten Bogor kembali mencatat capaian kuat di bidang investasi. Di bawah kepemimpinan Bupati Bogor Rudy Susmanto, realisasi investasi daerah ini mencapai Rp13,72 triliun dan turut membuka peluang kerja bagi puluhan ribu orang. Capaian tersebut menempatkan Kabupaten Bogor pada posisi ketiga untuk realisasi investasi tertinggi di Jawa Barat.
Dari sisi penyerapan tenaga kerja, Kabupaten Bogor juga menunjukkan performa menonjol dengan menyerap 25.502 tenaga kerja, sekaligus berada di peringkat kedua di Jawa Barat. Kombinasi nilai investasi dan dampaknya terhadap lapangan kerja menjadi indikator penting bahwa aktivitas ekonomi daerah bergerak seiring masuknya modal usaha.

Besarnya realisasi investasi tersebut memperlihatkan daya tarik Kabupaten Bogor bagi pelaku usaha. Investasi dengan nilai besar biasanya berdampak ganda, tidak hanya meningkatkan aktivitas produksi dan layanan, tetapi juga mendorong ekosistem turunan seperti kebutuhan bahan baku, logistik, hingga jasa pendukung. Ketika usaha bergerak, kebutuhan tenaga kerja ikut bertambah, sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
Poin penting lainnya adalah keterkaitan antara investasi dan penciptaan pekerjaan yang terukur. Dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 25.502 orang, Kabupaten Bogor menunjukkan bahwa investasi yang masuk tidak berhenti pada pembangunan atau penanaman modal semata, melainkan juga berkontribusi pada aktivitas ekonomi yang lebih nyata. Hal ini juga dapat menjadi sinyal bahwa sektor-sektor yang menerima investasi memiliki peran langsung dalam menyerap tenaga kerja.
Jika dilihat per periode, realisasi investasi Kabupaten Bogor pada Triwulan II 2026 (April sampai Juni) mencapai Rp6,59 triliun. Pada periode tersebut, aktivitas investasi berasal dari 3.070 perusahaan dengan total 8.872 proyek, dan dari kegiatan itu sebanyak 12.509 tenaga kerja terserap.
Struktur investasi juga menunjukkan komposisi yang beragam. Realisasi pada Triwulan II 2026 terdiri dari Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp1,84 triliun dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) senilai Rp4,75 triliun. Kontribusi PMDN yang lebih besar mengindikasikan bahwa pelaku usaha domestik masih menjadi penggerak utama investasi di Kabupaten Bogor, sekaligus memperkuat stabilitas aktivitas ekonomi berbasis pelaku lokal dan nasional.

Dari sisi sektor, investasi Triwulan II 2026 tersebar di beberapa bidang usaha. Sektor Perumahan dan Kawasan Industri menjadi yang terbesar dengan nilai investasi Rp2,76 triliun. Dominasi sektor ini lazimnya berkaitan dengan kebutuhan ruang usaha dan hunian, serta efek lanjutan terhadap industri pendukung seperti bahan bangunan, jasa konstruksi, hingga aktivitas perdagangan di wilayah sekitar.
Selain itu, sektor Jasa Lainnya mencatat investasi Rp1,07 triliun. Sementara itu, sektor Transportasi, Gudang dan Telekomunikasi menyumbang sekitar Rp605,52 miliar. Bidang Industri Makanan tercatat Rp338,47 miliar, dan sektor Perdagangan serta Reparasi sebesar Rp293,42 miliar. Komposisi tersebut memperlihatkan bahwa investasi tidak terkonsentrasi pada satu jenis usaha saja, melainkan menyentuh rantai aktivitas ekonomi yang lebih luas.
Penyerapan tenaga kerja menjadi bagian penting dalam menilai dampak investasi. Pada Triwulan II 2026, sektor Industri Kimia dan Farmasi menjadi salah satu penyerap tenaga kerja terbesar, yakni mencapai 1.904 orang. Sektor Perdagangan dan Reparasi menyerap 1.753 tenaga kerja, sedangkan Industri Logam, Mesin dan Elektronika mampu menyerap sekitar 1.631 orang.
Persebaran tenaga kerja lintas sektor menunjukkan bahwa investasi yang masuk berpotensi memberikan peluang kerja pada beragam keahlian. Industri kimia dan farmasi umumnya membutuhkan tenaga dengan kompetensi teknis, sementara perdagangan dan reparasi lebih dekat dengan kebutuhan keterampilan operasional serta layanan. Adapun industri logam, mesin, dan elektronika biasanya terkait pekerjaan produksi dan perawatan yang memerlukan tenaga terampil.
Bupati Bogor Rudy Susmanto menyatakan bahwa capaian investasi tersebut menggambarkan daya tarik dan potensi kuat Kabupaten Bogor sebagai tujuan investasi. Ia menekankan bahwa investasi merupakan pilar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Rudy juga menyebut pemerintah daerah berkomitmen menciptakan iklim investasi yang kondusif melalui kemudahan pelayanan. Di saat yang sama, penguatan infrastruktur dan konektivitas dinilai menjadi faktor yang mendukung kelancaran kegiatan ekonomi. Lebih jauh, ia menegaskan bahwa investasi yang tumbuh harus memberikan manfaat nyata, sehingga ketika usaha bergerak, lapangan pekerjaan terbuka dan ekonomi masyarakat ikut tumbuh.
Ia menambahkan bahwa posisi peringkat ketiga untuk realisasi investasi dan peringkat kedua untuk penyerapan tenaga kerja menjadi motivasi agar kualitas pelayanan terus ditingkatkan. Pemerintah daerah diharapkan terus memperkuat ekosistem investasi yang kompetitif, sekaligus memastikan dampak investasi hadir secara maksimal bagi masyarakat Kabupaten Bogor.

