Klarifikasi Guru ASN Bogor soal MBG: soal cek aroma dan keselamatan siswa

Abdul Halim
23 Sep 2026 12:53
Pendidikan 0 39
3 menit membaca

INFOPANTULAN.COM – Video klarifikasi guru ASN di Bogor, Desy Idayanti, kembali menjadi sorotan setelah beredar luas dan mempersoalkan kewajiban memeriksa aroma menu Makan Bergizi Gratis (MBG) sebelum dibagikan kepada siswa. Lewat unggahan di akun Facebook pribadinya, Desy menegaskan fokusnya bukan pada sensasi, melainkan substansi persoalan yang ia anggap berkaitan langsung dengan keselamatan peserta didik dan posisi guru di lapangan.

Dalam unggahan tersebut, Desy menyebut bahwa ia membuat video pada 14 September 2026 sebagai respons atas sejumlah pernyataan dan video yang lebih dulu beredar di media sosial. Ia juga mengaitkan keresahannya dengan munculnya pertanyaan publik setelah ada pemberitaan soal siswa yang mengalami gangguan kesehatan usai mengonsumsi MBG, sehingga metode pemeriksaan yang dipahami masyarakat perlu diperjelas secara proporsional.

Desy Idayanti menegaskan, keresahan bukan mencari panggung

Desy menegaskan ia tidak sedang “mencari panggung”, melainkan menyampaikan kegelisahan. Ia menilai, wajar bagi seorang pendidik untuk mengajak siswa berani bertanya saat menemukan hal yang perlu diperbaiki. Karena itu, ia merasa janggal jika guru justru diminta diam ketika melihat sesuatu yang menyangkut kepentingan dan keselamatan peserta didik.

Ia menggambarkan posisi guru menjadi serba sulit. Di satu sisi, guru berisiko terhadap keselamatan diri saat menjalankan pengawasan. Di sisi lain, guru berpotensi turut disalahkan bila kemudian ada masalah pada siswa. Desy menyebut gaya penyampaian video yang terkesan berlebihan sengaja dipilih untuk menegaskan betapa beratnya konsekuensi ketika keselamatan medis dan profesi guru seolah diposisikan sebagai bagian dari proses pengujian makanan.

Soal cek aroma MBG, Desy mempertanyakan batas kompetensi guru

Desy menyoroti cara pemeriksaan keamanan pangan yang selama ini dipahami publik. Ia menyatakan pemeriksaan organoleptik, seperti menilai melalui melihat, mencium, atau mencicipi makanan, dapat menjadi tahap awal untuk melihat kondisi makanan. Namun, menurutnya, pendekatan itu tidak bisa dijadikan satu-satunya dasar untuk memastikan makanan benar-benar aman dikonsumsi.

Ia menilai guru memiliki kompetensi utama di bidang pendidikan, bukan sebagai tenaga ahli keamanan pangan yang dapat memastikan ada atau tidaknya kontaminasi mikrobiologis hanya lewat penciuman atau pencicipan. Dari sudut pandangnya, publik perlu memahami bahwa keamanan pangan tidak cukup dinilai melalui indera semata, karena risiko yang lebih serius tidak selalu tampak di luar makanan.

Karena itu, Desy berharap ada pembagian tanggung jawab yang lebih jelas sesuai kompetensi masing-masing pihak. Ia juga mendorong adanya prosedur baku mengenai apa yang perlu diperiksa guru, serta kapan makanan harus dinyatakan tidak layak konsumsi berdasarkan standar yang relevan.

Penjelasan BGN: guru tidak diminta mencicipi untuk mendeteksi keracunan

Dalam unggahannya, Desy turut menyinggung penjelasan resmi terbaru dari Badan Gizi Nasional (BGN). Ia menyampaikan bahwa pihak BGN menegaskan guru tidak diminta mencicipi makanan untuk mengetahui apakah makanan menyebabkan keracunan. Penekanan yang ia tulis adalah guru ikut makan bersama siswa sekaligus melakukan pemeriksaan kondisi makanan sebelum dikonsumsi.

Desy mengutip inti penjelasan tersebut dengan menyatakan bahwa peran guru bukan sebagai alat untuk mendeteksi potensi keracunan, melainkan bagian dari proses pemeriksaan kondisi makanan dan pendampingan saat makan bersama. Ia berharap penjelasan ini dapat meluruskan persepsi yang terlanjur berkembang di masyarakat, khususnya di ruang media sosial.

Harapan agar keselamatan siswa dan guru berjalan beriringan

Di bagian akhir unggahannya, Desy menyatakan harapannya agar keselamatan siswa dan guru tidak dipertentangkan. Ia juga berharap viralnya video tersebut dapat mendorong evaluasi sistem pelaksanaan MBG di sekolah, sekaligus membuka ruang diskusi publik yang lebih sehat.

Desy menyampaikan harapan agar dari viralnya sebuah video lahir kesadaran yang lebih besar, evaluasi yang lebih baik, serta sistem yang lebih berpihak pada kepentingan anak-anak. Unggahan itu ditutup dengan penekanan agar proses MBG berjalan dengan prinsip keselamatan, termasuk kejelasan peran dan prosedur yang sesuai bagi semua pihak yang terlibat.

x
x