Literasi keuangan Permata CERITA 2026 di SMPN 11 Bogor dorong smart spending

Abdul Halim
18 Okt 2026 09:51
Pendidikan 0 12
5 menit membaca

Permata Bank melalui program Permata CERITA (Cinta dan Edukasi daRI kiTA) 2026 menggelar kegiatan edukasi literasi keuangan bagi siswa SMP di SMPN 11 Bogor. Kegiatan ini berlangsung pada 2026 dan menjadi bagian dari tema “24 Tahun, 24 Kota, 1 CERITA” yang diselaraskan dengan perayaan ulang tahun Permata Bank ke-24. Di lokasi tersebut, siswa diperkenalkan cara mengambil keputusan finansial yang lebih bijak dari kebiasaan sederhana seperti mengelola uang jajan, sekaligus belajar menggunakan layanan pembayaran digital secara aman.

Program ini melibatkan lebih dari 500 Employee Volunteers (EVO) Permata Bank yang mendampingi pembelajaran dengan pendekatan praktis dan interaktif. Selain fokus pada smart spending, Permata CERITA 2026 juga menekankan kewaspadaan saat bertransaksi daring, termasuk menjaga kerahasiaan informasi pribadi seperti PIN dan kode OTP. Langkah ini dipandang penting mengingat survei literasi keuangan nasional pada kelompok usia 15-17 tahun mencatat indeks literasi keuangan sebesar 56,04 persen, sementara Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) menerima ratusan ribu laporan penipuan selama periode 22 November 2024 hingga 30 September 2026.

Permata CERITA 2026, dari uang jajan hingga keputusan finansial

Di SMPN 11 Bogor, pembelajaran dirancang agar dekat dengan kehidupan siswa. Permata CERITA menghadirkan MODul finansiAL (MODAL) dengan materi smart spending. Dalam sesi interaktif, EVO mengajak siswa mengenali kebutuhan dan keinginan, mempertimbangkan berbagai pilihan, menentukan prioritas, menunda keinginan, serta menyisihkan uang untuk ditabung. Pola ini membuat konsep perencanaan uang tidak berhenti pada teori, tetapi dilatih melalui latihan pengambilan keputusan.

Kerangka belajarnya juga disesuaikan dengan cara siswa memandang uang dalam keseharian. Uang jajan dipakai sebagai titik awal karena relatif mudah dipahami, lalu berkembang menjadi kebiasaan menilai mana yang benar-benar perlu dan mana yang sifatnya dorongan sesaat. Dari praktik tersebut, siswa diharapkan mampu melihat keterkaitan antara pilihan harian dan kemampuan merencanakan tujuan finansial di kemudian hari.

Permata CERITA 2026 turut memperkenalkan pembayaran digital seperti QRIS dan transfer online secara bijak. Dengan demikian, siswa tidak hanya belajar “mengelola”, tetapi juga memahami konteks penggunaan layanan keuangan yang makin sering ditemui dalam aktivitas sehari-hari. Pendekatan ini selaras dengan kebutuhan literasi keuangan yang tidak terpisah dari literasi digital, karena keputusan finansial kini sering dilakukan melalui perangkat dan aplikasi.

Keamanan transaksi digital: Amati, Awasi, dan Adukan

Selain pengelolaan uang, program ini memberi penekanan pada keamanan saat bertransaksi digital. Permata CERITA 2026 menempatkan kewaspadaan sebagai bagian dari kecakapan finansial, sebab kemudahan layanan keuangan melalui gawai juga membuka ruang risiko penipuan daring. Dalam pembelajaran interaktif, siswa diperkenalkan metode 3A, yaitu Amati, Awasi, dan Adukan, sebagai panduan sederhana ketika menghadapi aktivitas yang mencurigakan.

Poin praktisnya tidak berhenti pada istilah. Siswa juga diarahkan untuk menjaga kerahasiaan informasi pribadi, termasuk PIN dan kode OTP. Edukasi seperti ini penting karena sering kali penipuan memanfaatkan kelengahan, misalnya dengan iming-iming hadiah, permintaan verifikasi data, atau tautan yang mengarahkan korban ke laman palsu. Dengan bekal 3A, siswa dilatih mengenali tanda-tanda awal risiko dan memahami siapa yang harus dihubungi ketika menemukan situasi tidak wajar.

Dalam program tersebut, siswa diajak memahami bahwa kemampuan menggunakan teknologi harus berjalan beriringan dengan kemampuan menilai risiko. Ketika menemukan aktivitas digital yang janggal, mereka didorong untuk meminta bantuan orang tua atau guru, bukan mengambil langkah sendiri. Cara ini menempatkan peran pendampingan di sekolah dan rumah sebagai bagian dari strategi pencegahan.

Angka literasi dan ancaman penipuan menjadi alasan penguatan edukasi

Pelaksanaan Permata CERITA 2026 juga terkait dengan kebutuhan memperkuat literasi keuangan sejak dini. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 menunjukkan indeks literasi keuangan kelompok usia 15-17 tahun berada di angka 56,04 persen. Angka tersebut menggambarkan masih ada ruang besar untuk meningkatkan pemahaman remaja dalam mengelola uang dan membuat keputusan finansial.

Di sisi lain, risiko penipuan digital menunjukkan skala masalah yang nyata. Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) menerima 702.342 laporan penipuan dalam rentang 22 November 2024 hingga 30 September 2026, atau lebih dari 1.000 laporan per hari. Kerugian masyarakat yang dilaporkan mencapai Rp9,1 triliun, sementara dana korban yang berhasil diblokir tercatat Rp811,1 miliar per September 2026. Kondisi semacam ini membuat edukasi keamanan transaksi digital menjadi relevan, bukan sekadar materi tambahan.

Ketika siswa memahami cara mengambil keputusan dan sekaligus paham langkah aman, pembelajaran berpotensi berdampak langsung pada perilaku mereka. Misalnya, kebiasaan menahan diri untuk membeli sesuatu yang tidak prioritas, serta kehati-hatian saat menerima permintaan verifikasi data atau promosi yang terlalu menggiurkan. Praktik-praktik ini bisa mengurangi peluang terjebak dalam pola penipuan.

Dukungan relawan dan kolaborasi sekolah di Bogor

Permata CERITA 2026 di Bogor mendapat dukungan dari pihak sekolah dan dinas pendidikan. Kegiatan di SMPN 11 Bogor dihadiri Ade Iskandar selaku Staf Kesiswaan Bidang SMP pada Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bogor, serta disambut oleh Kepala Sekolah SMPN 11 Bogor, Renny Setyawatie, sebagai tuan rumah. Kehadiran pihak sekolah dan dinas menunjukkan bahwa edukasi literasi keuangan tidak berjalan sendiri, melainkan terhubung dengan ekosistem pendidikan setempat.

Keterlibatan lebih dari 500 EVO menjadi penguat karena relawan berperan mendampingi siswa lewat permainan, simulasi, dan latihan mengambil keputusan. Dengan model seperti itu, siswa tidak hanya mendengar penjelasan, tetapi turut terlibat dalam skenario yang menyerupai situasi sehari-hari. Cara ini biasanya lebih efektif untuk membangun kebiasaan, karena siswa merasakan konsekuensi pilihan dalam suasana yang terarah.

Direktur Utama Permata Bank, Meliza M. Rusli, menyampaikan bahwa program ini ditujukan agar kebiasaan kecil yang dibangun sejak dini menjadi fondasi kemandirian finansial. Sementara Direktur Teknologi Permata Bank, Ahmad Mikail Madjid, menegaskan program sudah berjalan lebih dari 10 tahun dan tahun ini menjangkau 24 kota untuk membekali siswa kemampuan mengambil keputusan keuangan yang bijak sekaligus memperkuat pemahaman literasi keuangan digital.

Jejak program sejak 2016 dan kaitannya dengan gerakan nasional

Permata CERITA bukan program yang baru dimulai. Sejak 2016 hingga 2025, program ini menjangkau lebih dari 50.000 penerima manfaat di berbagai kota tempat Permata Bank beroperasi. Dengan Permata CERITA 2026, pendekatan diperbarui agar lebih relevan dengan kebutuhan generasi muda, terutama dalam menghadapi layanan keuangan digital yang terus berkembang.

Program ini juga disebut mendukung upaya peningkatan edukasi literasi dan inklusi keuangan nasional melalui berbagai inisiatif, termasuk PeKA (Peduli, Kenali, dan Adukan) dari Bank Indonesia. Selain itu, ada keterkaitan dengan Gerakan Nasional Cerdas Keuangan (GENCARKAN) serta momentum Bulan Inklusi Keuangan (BIK) 2026 yang diinisiasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Dengan pelaksanaan di 24 kota, Permata Bank menargetkan agar edukasi yang dimulai dari keputusan sederhana, seperti mengelola uang jajan, dapat menumbuhkan kebiasaan lebih cermat saat menggunakan layanan keuangan digital. Di SMPN 11 Bogor, fokus pembelajaran smart spending dan kewaspadaan transaksi digital menjadi bekal yang diharapkan berlanjut dalam cara siswa mengelola uang dan merespons situasi digital yang mereka temui.

x
x