
INFOPANTULAN.COM, BOGOR – Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Bogor menggelar Invasi Olahraga Tradisional tingkat SD se-Kota Bogor di Lapangan Luar GOR Pajajaran, Rabu (16/9/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya Dispora Kota Bogor mengenalkan sekaligus melestarikan olahraga tradisional kepada generasi muda. Selain itu, ajang ini diharapkan menjadi ruang bagi para pelajar untuk mengurangi ketergantungan terhadap gadget dan kembali aktif bermain secara langsung bersama teman-temannya.
Kepala Dispora Kota Bogor, Anas S Rasmana, mengatakan kegiatan tersebut sengaja dibuat sebagai wadah bagi anak-anak untuk mengenal kembali berbagai permainan tradisional yang dahulu lekat dengan kehidupan masyarakat.
“Jadi ini merupakan event yang saya buat untuk tahun ini, guna memindah anak-anak, agar tidak terlalu bermain dengan gadget,” kata Anas.
Menurutnya, perkembangan teknologi dan penggunaan media sosial yang semakin masif membuat aktivitas bermain secara langsung antaranak semakin berkurang. Karena itu, Dispora berupaya menghadirkan kegiatan yang mendorong anak-anak lebih banyak bergerak, berinteraksi, dan mengenal lingkungan.
“Kita coba dengan event-event. Sekaligus saya ingin melestarikan olahraga tradisional. Ada hadang, sumpit dan seterusnya. Tadi saya mainkan juga pakai bambu, zaman kita pakai bambu,” ujarnya.
Anas menilai olahraga tradisional tidak hanya berkaitan dengan aktivitas fisik, tetapi juga memiliki nilai sosial dan budaya. Melalui permainan tersebut, anak-anak dapat membangun hubungan dengan teman, belajar bekerja sama, sekaligus menikmati aktivitas fisik dalam suasana yang menyenangkan.
“Target filosofinya, mereka bisa bermain dengan alam, memperkenalkan kepada teman-temannya olahraga ini, main sumpit, main egrang. Target kedua, anak-anak jadi sehat,” jelasnya.
Dalam kegiatan kali ini, terdapat lima jenis perlombaan yang dipertandingkan. Yakni dagongan putra, terompah panjang putri, egrang putra, hadang, serta sumpitan campuran.
“Total peserta mencapai sekitar 522 pelajar yang berasal dari sekitar 30 SD di Kota Bogor. Rinciannya, dagongan putra diikuti 30 tim dengan 180 peserta, terompah panjang putri 30 tim dengan 90 peserta, egrang putra 30 tim dengan 90 peserta, hadang 12 tim dengan 72 peserta, serta sumpitan campuran 30 tim dengan 90 peserta,” ungkapnya.
Ia mengatkan, peserta berasal dari berbagai jenjang kelas SD, meski mayoritas merupakan siswa kelas 3, 4, dan 5.
Anas menambahkan, ke depan penyelenggaraan olahraga tradisional akan terus dibenahi agar keterlibatan antarkecamatan semakin terorganisasi. Dispora juga berencana meningkatkan hadiah dengan dukungan sponsor agar minat pelajar terhadap olahraga tradisional semakin besar.
“Ini kan olahraga bermain. Bukan olahraga prestasi yang standarnya harus begini-begini. Ini seperti galasin, olahraga sehat, bersuka ria, tapi tetap ada juaranya,” katanya.
Selain menjadi ajang rekreasi dan aktivitas fisik, olahraga tradisional juga memiliki peluang untuk dibawa ke festival tingkat Jawa Barat yang diselenggarakan Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI).
Anas menyebut kegiatan olahraga tradisional juga menjadi bagian dari agenda pembinaan olahraga masyarakat di Kota Bogor.
Ia juga menjelaskan bahwa olahraga tradisional memiliki karakter berbeda dengan cabang olahraga yang dipertandingkan secara nasional. Setiap daerah memiliki permainan tradisional yang lahir dari budaya dan lingkungan masyarakatnya masing-masing.
“Kalau tradisional, bukan senam KORMI. Ini yang tradisional, berarti sesuai daerahnya. Mungkin kalau Kalimantan dayung, kalau daerah lain punya permainan tradisional masing-masing. Beda-beda karena punya permainan tradisional,” pungkasnya.

