Rame-Rame Pasar Hijau, KRKP Dorong Sistem Pangan Kota Bogor Berkelanjutan

Riky Iskandar
26 Sep 2026 12:11
News 0 31
5 menit membaca

INFOPANTULAN.COM, BOGOR – Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) mendorong kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat sistem pangan perkotaan di Kota Bogor agar lebih tangguh, inklusif, dan berkelanjutan.

Dorongan tersebut disampaikan dalam kegiatan “Rame-Rame Pasar Hijau Kota Bogor” yang digelar di Dieu Geura Arts and Community Space, Kota Bogor, Sabtu (26/9/2026).

Kegiatan tersebut mempertemukan sejumlah pemangku kepentingan, mulai dari Pemerintah Kota Bogor, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP), Dinas Kesehatan, Bapperida, akademisi, pelaku usaha pangan, komunitas, hingga masyarakat umum.

Project Manager Pangan Kota Kita KRKP, Wahyu Ridwan Nanta, mengatakan persoalan pangan perkotaan tidak dapat ditangani hanya oleh satu pihak. Menurutnya, diperlukan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, hingga masyarakat sebagai konsumen.

“Persoalan pangan kota tidak bisa diselesaikan hanya dengan satu pihak atau satu sektor saja. Kita membutuhkan ruang kolaborasi yang mempertemukan pengetahuan, kebijakan, pelaku usaha, dan konsumen,” kata Wahyu.

Ia menuturkan, semangat kegiatan “Rame-Rame Pasar Hijau Kota Bogor” adalah mengajak berbagai pihak bekerja bersama untuk membangun sistem pangan yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah tingginya pemborosan pangan. Berdasarkan riset KRKP pada 2026, sisa pangan di Kota Bogor mencapai 82,71 ton per hari dari rumah tangga.

Selain itu, sisa pangan tercatat mencapai 10,12 ton per hari dari kafe, 10,37 ton per hari dari penyelenggaraan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah, 5,57 ton per hari dari hotel, serta 5,39 ton per hari dari restoran.

Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan pemborosan pangan tidak hanya terjadi di tingkat rumah tangga, tetapi juga muncul pada berbagai aktivitas konsumsi dan penyediaan makanan.

Wahyu mengatakan upaya mengatasi persoalan tersebut dapat dimulai dari lingkungan keluarga dan dilakukan secara bersama-sama oleh masyarakat.

“Mengatasi persoalan pangan dapat dimulai dari keluarga atau rumah tangga, dan dapat dilakukan secara kolektif oleh seluruh lapisan masyarakat, baik di kota maupun di desa,” ujarnya.

Ia menambahkan, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor juga telah mendorong gerakan kolektif melalui ASINAN BOGOR, yakni Aksi Sadar Kurangi Pangan Berlebih di Kota Bogor.

Di sisi lain, Kota Bogor juga menghadapi tantangan dari sisi produksi pangan. Sebagian besar kebutuhan pangan masyarakat masih dipasok dari luar wilayah, sementara lahan produksi di dalam kota menghadapi tekanan akibat alih fungsi lahan.

Dosen Sekolah Vokasi IPB University, Widya Hasian Situmeang, mengatakan kondisi tersebut membuat Kota Bogor memiliki ketergantungan tinggi terhadap pasokan pangan dari luar daerah.

“Kota Bogor hanya memiliki daya beli, dan tidak memiliki daya untuk memproduksi pangan,” ujar Widya.

Menurutnya, persoalan sistem pangan perkotaan juga berkaitan erat dengan peran perempuan dalam keluarga. Perempuan kerap menjadi pihak yang bertanggung jawab terhadap berbagai tahapan pengelolaan pangan di rumah.

“Perempuan menjadi food keeper, yang bertugas memilih jenis pangan, mengatur menu, membeli pangan, menyiapkan makanan di piring keluarga, hingga menangani sisa atau limbah pangan. Hal tersebut menjadikan perempuan memiliki beban ganda atau triple dalam kehidupan sehari-harinya,” jelasnya.

Rangkaian kegiatan “Rame-Rame Pasar Hijau Kota Bogor” diawali dengan Talkshow Radio “Aksi Kita Sapa Bumi: Rame-Rame Pasar Hijau Kota Bogor”, hasil kolaborasi KRKP dengan Pro 2 FM RRI Bogor.

Talkshow tersebut digelar secara terbuka di ruang publik dengan menghadirkan perspektif pemerintah, akademisi, perempuan, generasi muda, serta pelaku usaha pangan.

Sesi pertama membahas penguatan sistem pangan perkotaan, sementara sesi kedua mengangkat perspektif pelaku usaha, termasuk praktik green entrepreneurship, pengurangan sisa pangan di dapur, pemendekan rantai pasok, dan pemanfaatan bahan baku lokal.

Founder Salam Rancage, Aling Nur Naluri Widianti, mengatakan penerapan konsep bisnis hijau masih menghadapi tantangan, terutama dari sisi keberlanjutan usaha.

“Bisnis hijau sangat sulit bertahan lama dan bahkan tidak menguntungkan bagi sebagian besar pelaku usaha pangan,” tutur Aling.

Meski demikian, Aling melihat Kota Bogor memiliki ekosistem yang dapat mendukung perkembangan ekonomi hijau. Menurutnya, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat mulai menunjukkan ketertarikan terhadap pola konsumsi pangan yang lebih organik dan ramah lingkungan.

Selain diskusi, kegiatan tersebut juga menghadirkan bazar pangan lokal, pameran sistem pangan perkotaan, konsultasi tanaman dan hewan bersama pakar IPB University, serta workshop “Praktik Pemanfaatan Sisa Pangan Menjadi Ide Usaha” yang difasilitasi SMX School of Maker.

Melalui workshop tersebut, peserta diajak melihat sisa pangan tidak hanya sebagai limbah, tetapi juga sebagai material yang masih dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan produk maupun peluang usaha baru.

KRKP juga menempatkan generasi muda sebagai salah satu kelompok penting dalam perubahan sistem pangan perkotaan. Hal ini berkaitan dengan pola konsumsi generasi muda yang dekat dengan makanan di luar rumah, layanan pesan antar, serta berbagai kanal komunikasi digital.

Melalui kegiatan yang memadukan dialog publik, edukasi, pengalaman langsung, dan interaksi dengan pelaku usaha, KRKP berharap masyarakat semakin memahami keterkaitan kebiasaan sehari-hari dengan sistem pangan kota.

Mulai dari merencanakan belanja, menyimpan bahan makanan, mengolah pangan, hingga mengelola sisa makanan menjadi bagian dari upaya mengurangi pemborosan pangan.

KRKP berharap “Rame-Rame Pasar Hijau Kota Bogor” tidak berhenti sebagai kegiatan satu hari, tetapi menjadi ruang untuk memperkuat jejaring pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan konsumen.

Jejaring tersebut diharapkan dapat membuka peluang kemitraan, memperluas akses pasar bagi pelaku usaha yang mulai menerapkan praktik bisnis hijau, serta mendorong perubahan perilaku masyarakat menuju sistem pangan Kota Bogor yang lebih berkelanjutan dan berdaulat.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

x
x