
Infopantulan.com – Cisarua, Kabupaten Bogor, menjadi lokasi penguatan kapasitas relawan melalui Sekolah Vertical Rescue Indonesia Tingkat 1 Angkatan 302 Regional Bogor. Kegiatan ini berlangsung mulai 30 Oktober hingga 1 November 2026 di Villa Jenderal Suryo W, Cisarua, Kabupaten Bogor, dengan total 47 peserta dari berbagai daerah. Pelatihan tersebut digelar untuk menyiapkan personel yang terampil dan siap mendukung misi kemanusiaan, terutama pada situasi pertolongan di medan terjal dan sulit dijangkau.
Pelatihan ini menghadirkan peserta lintas wilayah, termasuk Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Depok, Cianjur, Bandung, Cirebon, hingga DKI Jakarta. Proses pembelajaran selama tiga hari berfokus pada kemampuan dasar vertical rescue, mulai dari teknik pertolongan di medan vertikal, pengenalan dan penggunaan peralatan, sistem tali-temali, hingga penerapan aspek keselamatan saat evakuasi. Komandan Vertical Rescue Indonesia, Tedi Ixdiana, memandu pelatihan bersama Adrian Daely dan jajaran instruktur serta asisten instruktur.
Program yang digelar di Villa Jenderal Suryo W, Cisarua, Kabupaten Bogor, menempatkan Kabupaten Bogor sebagai ruang kolaborasi sekaligus tempat pembelajaran bagi relawan dari berbagai daerah. Kehadiran peserta lintas provinsi dan kota membuat transfer praktik dan standar prosedur menjadi lebih kaya, karena peserta membawa pengalaman dari konteks wilayah masing-masing. Dalam pelatihan seperti ini, kesamaan bahasa teknis dan pemahaman prosedur keselamatan menjadi faktor penting agar saat turun ke lapangan, koordinasi bisa berjalan dengan rapi.
Dari sisi waktu, pelatihan berlangsung selama tiga hari, yaitu 30 Oktober sampai 1 November 2026. Rentang waktu tersebut cukup untuk menyusun alur latihan yang tidak hanya berhenti pada teori dasar, tetapi juga memberi ruang praktik penggunaan peralatan dan penerapan sistem tali-temali. Dengan format berlapis seperti itu, peserta diharapkan mampu memahami hubungan antara teknik, alat, dan prosedur keselamatan, bukan sekadar menghafal langkah.
Komandan Vertical Rescue Indonesia, Tedi Ixdiana, menjelaskan bahwa vertical rescue merupakan kemampuan khusus untuk melakukan evakuasi di medan vertikal dan sulit. Medan seperti jurang, tebing, bangunan tinggi, maupun lokasi lain yang memerlukan teknik penyelamatan berbasis sistem tali-temali menjadi fokus utama kompetensi ini. Penekanan pada penggunaan sistem tali-temali menunjukkan bahwa vertical rescue bukan hanya soal keberanian, melainkan juga disiplin teknis dan kontrol risiko yang ketat.
“Vertical rescue merupakan kemampuan khusus untuk melakukan evakuasi di medan vertikal dan sulit, seperti jurang, tebing, bangunan tinggi, maupun lokasi lain yang membutuhkan teknik penyelamatan menggunakan sistem tali-temali.”
Uraian tersebut memberi gambaran kenapa pelatihan terstruktur diperlukan. Evakuasi di medan terjal umumnya menuntut ketepatan pemasangan sistem, pemilihan peralatan yang sesuai, serta koordinasi antaranggota. Ketika standar tidak seragam, risiko kesalahan bisa meningkat, terutama pada kondisi darurat yang menuntut respons cepat.
Selama pelatihan, peserta mendapatkan pembekalan materi dasar vertical rescue. Materi tersebut mencakup teknik pertolongan di medan terjal, pengenalan serta penggunaan peralatan, sistem tali-temali, hingga penerapan aspek keselamatan dalam proses evakuasi. Rangkaian materi ini menunjukkan bahwa kompetensi yang dibangun bersifat menyeluruh, dari pemahaman alat sampai prosedur yang mengatur bagaimana evakuasi dilakukan dengan aman.
Pendekatan keselamatan juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari latihan. Dalam konteks vertical rescue, aspek keselamatan bukan tambahan, melainkan fondasi. Sistem tali-temali, misalnya, harus dipahami sebagai mekanisme yang bekerja sesuai prosedur, bukan sekadar “alat bantu”. Karena itu, pembelajaran yang menggabungkan teori dengan praktik menjadi kunci agar peserta mampu mengambil keputusan teknis secara tepat saat menghadapi kondisi yang tidak ideal di lapangan.
Pelatihan ini diikuti 47 peserta dari berbagai unsur potensi relawan, organisasi, komunitas, aktivis, serta instansi yang berasal dari Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Depok, Cianjur, Bandung, Cirebon, hingga DKI Jakarta. Komposisi peserta seperti ini memperlihatkan bahwa kebutuhan kompetensi pertolongan tidak hanya berada pada satu jenis organisasi, melainkan tersebar dalam banyak komunitas yang berbeda.
Ketika pelatihan diikuti oleh beragam pihak, jejaring antarrelawan juga ikut terbentuk. Jejaring semacam ini berpengaruh pada kesiapsiagaan, karena saat terjadi kedaruratan, koordinasi biasanya memerlukan komunikasi yang cepat dan kesepahaman prosedur. Dengan adanya pelatihan bersama, peserta memiliki titik rujukan yang sama, sehingga kolaborasi di lapangan dapat lebih mudah diselaraskan.
Dalam kegiatan ini, Vertical Rescue Indonesia tidak hanya membangun keterampilan teknis, tetapi juga mengarahkan kompetensi tersebut untuk kepentingan kemanusiaan. Salah satu program yang disebut adalah Ekspedisi Seribu Jembatan Gantung, sebuah program pengabdian untuk membantu masyarakat di berbagai wilayah Indonesia yang menghadapi keterbatasan akses penyeberangan. Hingga saat ini, pembangunan telah mencapai lebih dari seratus jembatan dan terus berlanjut.
Dukungan program pengabdian seperti ini memberikan gambaran bahwa pelatihan relawan diposisikan sebagai bagian dari ekosistem yang lebih luas, bukan kegiatan yang berhenti pada sertifikasi. Kompetensi vertical rescue yang diperoleh peserta diharapkan dapat diterapkan dan dikembangkan di wilayah masing-masing, sekaligus memperkuat jejaring relawan untuk menghadapi berbagai kondisi darurat.
Kegiatan Sekolah Vertical Rescue Indonesia Tingkat 1 Angkatan 302 Regional Bogor turut didukung Eiger Tropical Adventure, Tendon Indonesia, Spirit The Mother Nature, BAZNAS Kabupaten Bogor, dan SAR SAYAGA. Kehadiran dukungan dari berbagai pihak menunjukkan bahwa penguatan kapasitas relawan membutuhkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari dukungan program hingga dukungan sumber daya yang membantu kelancaran kegiatan pelatihan.
Semangat pengabdian tersebut dirangkum dalam nilai Vertical Rescue Indonesia, yakni Setia, Perkasa, Berbakti. Nilai-nilai itu menjadi penekanan bahwa kemampuan teknis akan lebih bermakna ketika diarahkan untuk memberi manfaat bagi sesama, terutama pada situasi yang membutuhkan respons cepat dan ketepatan dalam pertolongan.

