TNI AD evakuasi 8 kru Mi-17V5 yang jatuh saat water bombing di Seruyan

Abdul Halim
4 Nov 2026 16:09
Peristiwa 0 2
3 menit membaca

Seruyan, Infopantulan.com – TNI Angkatan Darat (TNI AD) mengevakuasi delapan kru Helikopter Mi-17V5 yang mengalami kecelakaan saat operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu 4 November 2026. Insiden terjadi ketika helikopter melakukan pengambilan air laut untuk water bombing.

Evakuasi dilakukan melalui jalur udara dan laut dengan bantuan tim gabungan. Dinas Penerangan TNI AD menyebut dua kru ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, yakni Mayor CPN Dudi dan Lettu CPN Hafiz, sementara lima kru lainnya berhasil diselamatkan dan menjalani perawatan di RSUD Kuala Pembuang. Satu kru lagi, Serda Heri, belum dapat dievakuasi karena kondisi air sedang pasang.

Kronologi kecelakaan Mi-17V5 saat operasi karhutla

Helikopter Mi-17V5 lepas landas dari Kuala Pembuang pada pukul 09.55 WIB menuju Telaga Pulang untuk melaksanakan misi pemadaman karhutla di wilayah Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP). Kecelakaan terjadi saat helikopter melakukan pengambilan air laut untuk water bombing, yakni tahap yang menjadi bagian dari upaya penanggulangan api di area terdampak.

Setelah kejadian, proses penanganan beralih ke pencarian dan evakuasi. TNI AD terus mengupayakan pencarian terhadap satu kru yang belum ditemukan, sambil tetap memprioritaskan penanganan medis bagi kru yang berhasil diselamatkan.

Korban meninggal dan kru yang menjalani perawatan

Dinas Penerangan TNI AD melaporkan dua kru ditemukan meninggal dunia, yaitu Mayor CPN Dudi dan Lettu CPN Hafiz. Jenazah keduanya telah dievakuasi ke RSUD Kuala Pembuang.

Selain itu, lima orang kru lainnya berhasil diselamatkan, yakni Kapten CPN Febri, Letda CPN Fercis, Pratu Gilang, Serka Kadiya, dan Kapten CPN Suganda. Mereka saat ini tengah menjalani perawatan di RSUD Kuala Pembuang. Sementara satu kru lainnya, Serda Heri, belum bisa dievakuasi karena kondisi air sedang pasang.

Evakuasi melalui udara dan laut, penyebab masih diselidiki

Proses evakuasi dilakukan melalui jalur udara dan laut, dibantu tim gabungan. Pola penanganan ini diperlukan karena insiden terjadi di perairan, sehingga akses menuju lokasi memerlukan kombinasi kemampuan dan sarana dari berbagai unsur.

Terkait penyebab kecelakaan, TNI AD menyatakan masih dalam proses penyelidikan. Dengan status tersebut, pihak terkait masih menahan informasi rinci mengenai faktor teknis maupun operasional yang memicu insiden, sambil memastikan seluruh korban yang sudah ditemukan mendapatkan penanganan medis yang diperlukan.

Dampak bagi operasi karhutla dan layanan rumah sakit

Peristiwa ini mengubah fokus operasi karhutla yang sedang berlangsung, dari pemadaman menjadi pencarian dan pertolongan korban. Di sisi lain, RSUD Kuala Pembuang menjadi titik rujukan perawatan bagi kru yang selamat, sekaligus tempat penanganan jenazah yang dievakuasi.

Bagi keluarga dan rekan kru, informasi perkembangan pencarian terhadap Serda Heri menjadi perhatian utama. Kendala kondisi air pasang membuat proses evakuasi tertunda, sehingga upaya pencarian perlu menyesuaikan kondisi lapangan sampai kru tersebut dapat ditemukan dan dievakuasi dengan aman.

“Penyebab kecelakaan masih dalam proses penyelidikan,” kata Dinas Penerangan TNI AD.

x
x