Rakernas JKPI XII di Ternate dorong kota pusaka kuatkan identitas lewat budaya dan gastronomi

Abdul Halim
27 Agu 2026 07:30
Peristiwa 0 43
4 menit membaca

Kota pusaka di Indonesia terus didorong untuk memperkuat identitas daerah melalui pengelolaan potensi sejarah, budaya, kearifan lokal, hingga gastronomi. Dorongan itu menjadi salah satu fokus dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XII Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) yang digelar di Kota Ternate, Maluku Utara, pada 26 hingga 29 Agustus 2026.

Rakernas JKPI XII mengusung tema Ternate Episentrum Rempah Dunia dan menggabungkan pembahasan organisasi dengan rangkaian agenda penguatan potensi daerah. Kegiatan tidak hanya membahas strategi jaringan, tetapi juga menghadirkan aktivitas budaya dan program yang berkaitan dengan pengembangan identitas tiap kota anggota, termasuk kunjungan ke situs bersejarah dan destinasi wisata di Ternate.

Dedie Rachim Hadiri Rakernas JKPI XII di Ternate, Dorong Kolaborasi Kota Pusaka Indonesia

Rakernas JKPI XII, identitas kota pusaka jadi agenda utama

Dalam pertemuan yang berlangsung empat hari itu, diskusi diarahkan pada cara JKPI membantu kota-kota anggotanya mengenali, menjaga, dan mengembangkan identitas daerah. Setiap kota pusaka memiliki karakter berbeda, mulai dari bangunan atau kawasan bersejarah, tradisi yang hidup di masyarakat, hingga kuliner dan kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim yang turut menghadiri Rakernas menyampaikan bahwa pertemuan kota pusaka menjadi momentum strategis untuk mengoptimalkan potensi yang dimiliki. Menurutnya, inti pembahasan dalam Rakernas XII berkaitan dengan bagaimana jaringan dapat memperkuat identitas kota melalui ragam potensi tersebut, bukan sekadar menjadikannya sebagai cerita masa lalu.

Di titik ini, nilai pentingnya adalah identitas yang kuat dapat menjadi fondasi berbagai program pembangunan. Ketika sejarah, budaya, dan kuliner dikelola dengan baik, kota pusaka punya modal untuk memperkuat karakter wilayah sekaligus memperluas manfaat bagi masyarakat setempat.

Sinergi antar kota, replikasi praktik baik untuk pengelolaan pusaka

Selain membahas penguatan identitas, Rakernas juga menekankan perlunya kerja sama antarkota. Gagasan yang mengemuka adalah pertukaran pengalaman dan praktik baik agar kota lain dapat mempelajari pendekatan yang sudah berjalan, lalu menyesuaikannya dengan konteks daerah masing-masing.

 Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim Hadiri Rakernas JKPI XII di Ternate

Dedie menyoroti bahwa JKPI berperan sebagai wadah untuk berbagi gagasan dan strategi. Melalui kerja sama yang erat, kota anggota dapat saling memberi ide dari daerahnya, sehingga upaya pelestarian pusaka tidak berhenti pada level wacana, tetapi dapat dijalankan lebih terstruktur.

Rakernas juga disebut akan menunjuk kota penyelenggara untuk JKPI tahun 2027. Penunjukan tersebut biasanya menjadi penanda kesinambungan agenda, sekaligus memberi ruang bagi kota berikutnya untuk memperlihatkan kekhasan pusaka yang dimiliki, baik dari sisi budaya, sejarah, maupun pengelolaan destinasi.

Rangkaian agenda Rakernas: budaya, gastronomi, edukasi, olahraga, hingga kunjungan situs

Rakernas JKPI XII tidak hanya berupa forum rapat, tetapi juga dipadukan dengan agenda yang menyentuh banyak aspek kehidupan. Dalam pelaksanaannya, kegiatan mencakup pembahasan budaya dan gastronomi, edukasi, serta olahraga. Keragaman agenda ini menunjukkan bahwa identitas kota pusaka tidak melulu dipahami sebagai warisan statis, melainkan sesuatu yang bisa dihidupkan melalui aktivitas sosial dan program yang relevan.

Program tersebut juga menghadirkan kunjungan ke sejumlah situs bersejarah dan destinasi wisata di Kota Ternate. Model kunjungan seperti ini lazim digunakan untuk memperkaya perspektif peserta, karena mereka dapat melihat langsung bagaimana sebuah kota mengemas pusaka dalam praktik pengelolaan ruang, layanan wisata, dan narasi budaya.

Keterlibatan pelaku seni, pelaku usaha, pelajar, hingga delegasi dari berbagai daerah anggota JKPI memperlihatkan pendekatan yang lebih inklusif. Dengan melibatkan banyak unsur, pembahasan identitas kota pusaka menjadi lebih menyeluruh, dari sisi kreativitas, ekonomi lokal, sampai penguatan pemahaman generasi muda.

Komitmen Bogor pada pusaka sejarah, budaya, dan gastronomi

Bagi Kota Bogor, keikutsertaan dalam Rakernas menjadi bagian dari upaya menjaga dan mengembangkan nilai-nilai pusaka yang dimiliki. Dedie menyebutkan bahwa Bogor terus berupaya merawat unsur pusaka, baik dari sisi sejarah, budaya, maupun gastronomi. Upaya tersebut sejalan dengan posisi Bogor sebagai kota yang memiliki kekayaan budaya dan warisan sejarah.

Menariknya, gastronomi sering kali menjadi pintu masuk yang efektif untuk memperkenalkan identitas kota kepada publik lebih luas. Ketika kuliner diperlakukan sebagai bagian dari warisan budaya, dampaknya bisa merembet ke sektor usaha lokal, pariwisata, dan edukasi publik.

Melalui Rakernas JKPI XII, harapannya kolaborasi antarkota semakin solid sehingga warisan budaya yang dimiliki masing-masing daerah dapat terus dilestarikan sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Kenapa penguatan identitas kota pusaka penting untuk pembangunan daerah

Penguatan identitas kota pusaka pada akhirnya berkaitan dengan bagaimana daerah membangun daya saing secara berkelanjutan. Identitas yang terjaga dapat memperkuat citra kota, menarik minat wisatawan, dan mendorong tumbuhnya ekosistem ekonomi berbasis budaya. Di sisi lain, pelestarian yang terencana juga membantu memastikan warisan tidak hilang karena perubahan sosial.

Rakernas JKPI XII di Ternate memberi gambaran bahwa jaringan kota pusaka berupaya menjembatani dua hal, yaitu perlindungan warisan dan pengembangan kapasitas daerah. Dengan pertukaran gagasan, replikasi praktik baik, serta program lintas bidang seperti edukasi dan olahraga, identitas kota pusaka diharapkan tidak berhenti sebagai simbol, melainkan menjadi energi untuk kemajuan bersama.

x
x