Dapur MBG berhenti, Hendrik Irawan kritik Sudaryono soal pencairan dana operasional

Abdul Halim
29 Okt 2026 04:04
Ekonomi 0 1
4 menit membaca

Jakarta, Infopantulan.com – Hendrik Irawan, pemilik dapur Makan Bergizi Gratis (MBG), mengkritik Sudaryono terkait pencairan dana operasional dan sejumlah ketentuan yang harus dipenuhi mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Kritik tersebut disampaikan melalui video yang beredar di media sosial, berisi pertanyaan tentang keberhasilan program MBG serta kendala operasional yang dialami mitra di lapangan. Ia menyebut dana operasional yang biasanya cair setiap satu hingga dua minggu kini tidak kunjung diterima, sehingga kegiatan sejumlah dapur ikut terganggu.

Dalam video itu, Hendrik menyoroti persoalan administratif yang harus dipenuhi mitra SPPG bersamaan dengan kebutuhan operasional harian. Ia menegaskan bahwa masalah pencairan membuat pengelola kesulitan menjalankan aktivitas dapur, mulai dari kesiapan bahan hingga kelangsungan penyediaan makanan. Ia juga mengungkapkan angka kendala di tingkat wilayah, dengan menyebut sekitar 260 SPPG di Jawa Tengah dan 800 SPPG di Jawa Barat berhenti beroperasi karena persoalan pencairan dana.

Kritik Hendrik Irawan ke Sudaryono soal mandeknya dana operasional MBG

Hendrik Irawan menggulirkan kritik langsung kepada Sudaryono, menyoroti dua masalah yang saling terkait: keterlambatan pencairan dana operasional dan tuntutan pemenuhan aturan bagi mitra SPPG. Menurutnya, pola pencairan yang semula rutin setiap satu hingga dua minggu berubah menjadi tidak ada kepastian kapan dana masuk. Ketika dana tidak “landing”, pengelola dapur tidak bisa mengalirkan kebutuhan operasional sesuai ritme kegiatan layanan.

Ia mempertanyakan narasi keberhasilan program MBG yang dikaitkan dengan dukungan politik tingkat nasional, namun di sisi lain menghadirkan keluhan mitra di lapangan. Dalam video tersebut, Hendrik secara tegas mempertanyakan apakah program yang disebut sukses benar-benar berjalan baik bagi para pelaksana yang mengelola dapur dan menyiapkan makanan untuk penerima manfaat.

“Apakah ini program yang disebut sukses yang bisa membanggakan Presiden?” ujar Hendrik.

Ratusan SPPG berhenti beroperasi, Hendrik sebut kendala pencairan dana

Bagian yang paling disorot dari video Hendrik adalah pengungkapan jumlah mitra yang terdampak. Ia menyatakan menerima banyak keluhan dari mitra SPPG dan menyebut sekitar 260 SPPG di Jawa Tengah serta 800 SPPG di Jawa Barat berhenti beroperasi. Angka tersebut ia sampaikan sebagai gambaran dampak langsung dari persoalan pencairan dana yang tidak kunjung masuk.

Pernyataan ini penting karena menunjukkan bahwa kendala yang semula terlihat administratif dapat berujung pada penghentian layanan. Dalam konteks program berbasis dapur, jeda pencairan dapat mengganggu pengadaan bahan pangan, pengelolaan tenaga kerja operasional, dan kesinambungan proses memasak serta distribusi. Ketika kegiatan berhenti, dampaknya tidak hanya pada pengelola dapur, tetapi juga pada kesinambungan layanan yang seharusnya diterima penerima manfaat.

Kewajiban administrasi dan data, menurut Hendrik, menambah beban mitra

Selain pencairan dana, Hendrik juga menyinggung kewajiban administrasi yang harus dipenuhi pengelola SPPG. Ia menyebut mitra diminta mengisi berbagai data dan memenuhi ketentuan yang berlaku. Namun, menurutnya, tuntutan tersebut berjalan beriringan dengan masalah pencairan dana yang dibutuhkan untuk operasional harian.

Relasi antara dua persoalan ini membuat kritiknya lebih spesifik. Ketika pengelola harus menyelesaikan administrasi sambil menunggu dana masuk, ruang gerak untuk menjalankan proses operasional menjadi sempit. Dalam praktik layanan dapur, ketepatan waktu bukan hanya soal laporan, tetapi juga menyangkut ketersediaan bahan dan kemampuan menjalankan kegiatan produksi makanan. Hendrik mendorong agar kebijakan yang menyangkut ketentuan baru dipikirkan dengan mempertimbangkan kondisi riil mitra.

Kenapa pencairan dana operasional jadi titik krusial MBG

Pencairan dana operasional menjadi elemen yang menentukan keberlangsungan program MBG karena kegiatan dapur membutuhkan biaya untuk berbagai kebutuhan. Hendrik menekankan bahwa dana diperlukan untuk mendukung operasional, termasuk pengadaan bahan pangan dan penyediaan makanan bagi penerima manfaat. Jika pencairan terhambat, pengelola dapur berpotensi mengalami kesulitan mempertahankan kegiatan yang sudah berjalan.

Dengan kata lain, masalah pencairan bukan sekadar terlambatnya pembayaran. Bagi pengelola dapur, keterlambatan bisa berarti tidak ada modal kerja untuk menyiapkan produksi makanan, sehingga kegiatan bisa berhenti atau setidaknya berkurang. Dalam situasi seperti ini, keluhan mitra tentang dana yang belum diterima layak diperlakukan sebagai isu operasional yang berdampak langsung, bukan hanya persoalan prosedural.

Permintaan Hendrik: kebijakan dipatangkan dan keluhan mitra didengar

Hendrik Irawan meminta pemerintah mempertimbangkan kondisi mitra sebelum menerapkan aturan baru. Ia menilai masukan dari pengelola dapur perlu lebih banyak didengar agar persoalan yang muncul di lapangan bisa menjadi bahan evaluasi kebijakan. Ia juga berharap agar pemerintah mematangkan kebijakan, terutama terkait alur pencairan dana operasional dan penerapan ketentuan administrasi yang mempertimbangkan realitas kerja mitra.

Dalam kritiknya, Hendrik tidak hanya menyoroti keterlambatan dana, tetapi juga menekankan perlunya keselarasan antara aturan administrasi dan kebutuhan operasional. Jika ketentuan diberlakukan tanpa melihat kesiapan mitra, risiko gangguan layanan akan meningkat. Video yang ia unggah menjadi cara untuk mempertemukan dua isu itu secara bersamaan, sekaligus mendorong agar evaluasi program menempatkan pelaksana lapangan sebagai rujukan utama ketika kebijakan hendak diperbarui.

x
x