Bantuan gempa NTT, lima pesawat kirim 65 ton logistik ke Halim

Abdul Halim
19 Agu 2026 09:30
Peristiwa 0 45
4 menit membaca

INFOPANTULAN.COM – Pemerintah kembali mempercepat penyaluran bantuan bagi masyarakat terdampak gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT). Pada Rabu, 19 Agustus 2026, sebanyak 65 ton logistik diberangkatkan menggunakan lima pesawat dari Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, menuju wilayah terdampak.

Pengiriman ini dilakukan pada hari kelima pascabencana. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyebutkan total logistik yang sudah terangkut sejak hari pertama kini mencapai 253 ton, mencakup makanan, minuman, tenda, perlengkapan kesehatan, serta kebutuhan lain yang dibutuhkan warga. Penyaluran ditata melalui dua pusat distribusi agar alur logistik lebih cepat dari titik pengumpulan ke daerah terdampak, sambil tetap dipantau pelaksanaannya.

Pengiriman 65 ton bantuan gempa NTT dari Halim Perdanakusuma

Pada Rabu dini hari, lima pesawat mengangkut 65 ton logistik dari Halim Perdanakusuma. Lokasi keberangkatan ini menjadi bagian dari rantai mobilisasi bantuan yang sejak hari pertama terus diperkuat, termasuk melalui pengaturan jadwal penerbangan agar pasokan tidak putus selama masa tanggap darurat berjalan.

Teddy Indra Wijaya menjelaskan pengiriman dilakukan atas instruksi Presiden Prabowo Subianto. Ia menekankan bahwa angka 253 ton adalah akumulasi pengangkutan sejak hari pertama hingga hari kelima, sehingga kebutuhan mendesak dapat terus dipenuhi sambil menyesuaikan perkembangan di lapangan.

Isi logistik: bukan hanya makanan dan minuman

Logistik yang dikirim tidak berhenti pada paket konsumsi. Paket bantuan juga mencakup tenda untuk penampungan sementara, perlengkapan kesehatan, serta perlengkapan lain yang dibutuhkan warga terdampak. Dengan komposisi tersebut, bantuan tidak hanya membantu pemenuhan kebutuhan dasar jangka pendek, tetapi juga mendukung kebutuhan layanan pertolongan awal dan pemulihan awal di lokasi pengungsian.

Dalam situasi bencana, kebutuhan biasanya berubah cepat. Saat hari-hari awal fokus pada pemenuhan konsumsi dan penampungan, kebutuhan berikutnya sering bergeser pada dukungan kesehatan, ketersediaan perlengkapan kebersihan, hingga logistik pendukung operasional relawan dan aparat di lapangan.

Pusat distribusi di Labuan Bajo dan Maumere

Pemerintah menyiapkan dua lokasi utama sebagai pusat distribusi bantuan, yaitu Labuan Bajo dan Maumere. Dari Labuan Bajo, bantuan diteruskan ke sejumlah wilayah, meliputi Manggarai, Manggarai Barat, Manggarai Timur, dan Ngada. Sementara itu, bantuan yang masuk melalui Maumere akan disalurkan ke wilayah Sikka, Ende, serta Nagekeo.

Pola ini dirancang untuk mempercepat proses penyaluran. Ketika logistik sudah terkonsentrasi di dua titik yang lebih dekat dengan area terdampak, distribusi berikutnya bisa lebih efisien, baik untuk pengiriman lanjutan melalui jalur laut maupun udara sesuai kondisi wilayah.

Distribusi melalui udara, laut, dan darat

Untuk menjangkau area yang membutuhkan, pemerintah mengoptimalkan berbagai jalur transportasi. Jalur udara digunakan dengan melibatkan helikopter, pesawat Cassa, serta pesawat berukuran lebih kecil. Pilihan ini biasanya relevan ketika beberapa lokasi sulit dijangkau langsung lewat jalur darat atau memerlukan waktu tempuh yang lebih singkat.

Di sisi lain, pemerintah juga mengerahkan jalur laut. Sebanyak tiga kapal perang Republik Indonesia (KRI) milik TNI Angkatan Laut disiapkan untuk mendukung pengangkutan logistik. Selain itu, satu kapal rumah sakit telah disiapkan untuk membantu penanganan bencana, sehingga layanan kesehatan dapat bergerak mengikuti kebutuhan di wilayah terdampak.

Untuk jalur darat, pemerintah menyampaikan bahwa akses darat sudah bisa dilewati sejak hari kedua pascabencana. Teddy mengungkapkan laporan Menteri Pekerjaan Umum, seluruh jalur darat telah dapat dilewati sejak hari kedua, yang berarti distribusi lanjutan ke titik-titik yang lebih dekat ke permukiman terdampak bisa berjalan lebih lancar.

Pemantauan agar bantuan tidak berhenti di titik pengumpulan

Selain mengirimkan logistik, pemerintah juga melakukan pemantauan terhadap proses penanganan bencana di NTT. Pemantauan ini bertujuan memastikan bantuan tidak hanya berhenti di titik pengumpulan, tetapi benar-benar diterima masyarakat yang membutuhkan.

Teddy menyatakan pemerintah terus memantau pelaksanaan penanganan agar berjalan cepat, sehingga seluruh logistik dapat segera sampai ke warga. Upaya ini penting karena distribusi yang terlambat bisa membuat kebutuhan mendesak tidak tertangani tepat waktu, sementara kondisi darurat kerap membutuhkan respon yang cepat dan adaptif.

Total bantuan mencapai 253 ton hingga hari kelima

Pengiriman 65 ton pada Rabu menjadi bagian dari rangkaian mobilisasi sejak hari pertama gempa. Dengan penambahan tersebut, total logistik yang telah diangkut pemerintah mencapai 253 ton hingga hari kelima pascabencana. Bantuan tersebut diharapkan dapat memenuhi kebutuhan dasar warga terdampak sekaligus mendukung proses penanganan bencana di berbagai wilayah NTT.

Pemerintah juga menyampaikan apresiasi kepada aparat, warga, relawan, dan pihak-pihak yang ikut membantu proses penanganan bencana. Dengan kombinasi distribusi melalui udara, laut, dan darat, pemerintah berupaya agar bantuan bisa menjangkau masyarakat terdampak secepat mungkin sesuai kondisi di lapangan.

x
x