Demo di Tugu Kujang, Mahasiswa Unpak Soroti Karhutla dan Desak Evaluasi APBN

Ayatullah Humaeni
20 Okt 2026 12:40
News 0 12
3 menit membaca

INFOPANTULAN.COM, BOGOR — Mahasiswa Universitas Pakuan (Unpak) menggelar aksi demonstrasi di kawasan Tugu Kujang, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Selasa (20/10/2026) sore. Dalam aksi tersebut, mahasiswa mengenakan pakaian serba hitam dan membakar ban bekas sebagai bentuk protes terhadap berbagai persoalan bangsa sekaligus mengevaluasi dua tahun kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Presiden Mahasiswa (Presma) Universitas Pakuan, Galuh, mengatakan aksi turun ke jalan tersebut merupakan bentuk pernyataan sikap mahasiswa bersama masyarakat terhadap berbagai krisis dan persoalan yang dinilai belum terselesaikan.

Ia menegaskan, penyampaian pendapat di muka umum merupakan hak konstitusional warga negara sebagaimana diatur dalam Pasal 28E ayat (3) Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.

“Untuk aksi demonstrasi pada hari ini, karena kita paham dan kita mengetahui bahwasannya Prabowo-Gibran per tanggal 20 Oktober dinyatakan sebagai Presiden dan Wakil Presiden pimpinan negara Indonesia. Hari ini kita menyatakan sikap untuk menolak dan mendesak dari program, agenda, dan tindakan yang hari ini menjadi point of view masyarakat,” ujar Galuh di lokasi aksi.

Dalam demonstrasi tersebut, mahasiswa menyampaikan lima tuntutan utama yang dirumuskan melalui konsolidasi organisasi.

Kelima tuntutan itu meliputi desakan agar kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ditetapkan sebagai bencana nasional, jaminan pendidikan sebagai hak dasar warga negara, penghentian kriminalisasi terhadap masyarakat, mahasiswa, dan aktivis, evaluasi pengelolaan alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), serta desakan agar Prabowo-Gibran bertanggung jawab atas kondisi negara.

Galuh secara khusus menyoroti kebakaran hutan dan lahan yang disebut melanda sejumlah wilayah di Sumatra, Kalimantan, hingga Papua. Menurutnya, dampak karhutla tidak hanya dirasakan masyarakat Indonesia, tetapi juga disebut telah meluas hingga negara tetangga.

Ia menilai pemerintah belum menunjukkan langkah yang memadai dalam menangani persoalan tersebut, termasuk terkait penetapan status bencana nasional.

“Pemerintah hari ini lalai dan abai untuk menyelesaikan tanggung jawab mereka. Kebakaran hutan sudah bukan lagi berdampak pada masyarakat Indonesia, tapi sudah berdampak ke luar negeri. Hari ini pemerintah seakan-akan masih sanggup, padahal nyatanya pemerintah tidak berani dan tidak mau menetapkan Karhutla sebagai bencana nasional,” kata Galuh.

Ia juga mengkritik alokasi anggaran pemerintah yang menurutnya belum mencerminkan prioritas penanganan karhutla. Galuh menuding anggaran justru diperuntukkan bagi kepentingan kelompok tertentu di sekitar pemerintahan Prabowo-Gibran.

“Karena di saat kita menetapkan Karhutla sebagai bencana nasional, alokasi APBN dan anggaran lainnya harus diprioritaskan untuk kebakaran hutan, namun nyatanya alokasi anggaran diperuntukkan untuk kroni-kroni Prabowo dan Gibran untuk memperkaya mereka,” tegasnya.

Terkait penggunaan pakaian serba hitam dan pembakaran ban bekas, Galuh menjelaskan bahwa kedua hal tersebut memiliki makna simbolis. Pakaian hitam, kata dia, melambangkan independensi dan perlawanan terhadap ketidakadilan. Sementara itu, asap dari pembakaran ban menjadi simbol dampak pencemaran udara yang dapat mengganggu kesehatan masyarakat.

“Warna hitam adalah warna kemandirian, bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan. Pembakaran ban ini ada maksudnya. Sekecil-kecilnya kebakaran atau dibakarnya ban, ternyata asapnya membuat napas kita sesak dan mata terganggu. Ini jadi momentum bersama untuk refleksi bahwasannya sekecil-kecilnya asap bisa memberikan dampak. Karena pada akhirnya mereka yang tertawa, kita yang menderita,” tutur Galuh.

Galuh memastikan aksi tersebut bukan menjadi gerakan terakhir mahasiswa Universitas Pakuan. Ia menyatakan konsolidasi dan gerakan bersama masyarakat akan terus berlanjut sebagai bentuk penyampaian aspirasi terhadap berbagai persoalan yang menjadi perhatian mereka.

“Kita pastikan aksi pada hari ini akan berkelanjutan dan akan berlipat ganda. Gerakan-gerakan organik bersama masyarakat akan terus berjalan dan api-api perjuangan akan terus diperjuangkan. Jangan diam, lawan impunitas,” pungkasnya.

 

 

x
x