Karhutla Indonesia-Malaysia: Indonesia perkuat water bombing, Malaysia siapkan cloud seeding

Abdul Halim
26 Agu 2026 14:07
Peristiwa 0 57
5 menit membaca

Karhutla yang terjadi di Indonesia kembali menjadi isu regional setelah asapnya melintasi perbatasan dan berdampak pada Malaysia. Indonesia menambah kekuatan pemadaman dengan kombinasi personel, mesin pompa, alat berat, helikopter water bombing, hingga operasi modifikasi cuaca. Di sisi lain, Malaysia menghadapi dampak kualitas udara sekaligus menyiapkan dukungan melalui operasi cloud seeding.

Situasi ini menegaskan bahwa kebakaran hutan dan lahan tidak berhenti pada batas administrasi negara. Data luas area terbakar hingga Juli 2026 disebut mencapai hampir 94.000 hektare, dengan lebih dari 24.000 petugas dikerahkan untuk memadamkan api, meski beberapa titik api sulit dijangkau dari darat. Dengan kondisi seperti itu, koordinasi lintas negara menjadi semakin relevan, bukan hanya untuk meredakan asap, tetapi juga untuk menekan sumber kebakaran.

Indonesia mengerahkan pemadaman berlapis di Sumatera dan Kalimantan

Strategi Indonesia saat ini menekankan operasi berlapis karena karakter wilayah yang terbakar beragam dan banyak lokasi berada di area yang sulit diakses. Di darat, pemerintah mengandalkan petugas pemadam, mesin pompa, kendaraan operasional, hingga alat berat. Peralatan ini dibutuhkan untuk mengoptimalkan suplai air, mempercepat pemadaman di titik yang bisa dijangkau, sekaligus membangun sekat atau kanal agar api tidak meluas.

Dari udara, operasi dilakukan menggunakan helikopter water bombing, pesawat patroli, serta pesawat untuk modifikasi cuaca. Dalam skema penanganan yang disebut melibatkan sekitar 52 armada udara, dukungan dibagi antara Kalimantan dan Sumatera. Sebanyak 30 armada diarahkan untuk operasi di Kalimantan, sedangkan 22 helikopter dikerahkan di wilayah Sumatera. Pembagian ini menunjukkan adanya kebutuhan taktis yang berbeda, mengingat sebaran titik api dan tantangan medan tidak sama di setiap pulau.

Operasi modifikasi cuaca, izin pesawat asing, dan kebutuhan alat yang besar

Selain pemadaman, Indonesia juga membuka ruang bagi pesawat asing untuk mendukung respons kebakaran. Kementerian Perhubungan disebut telah memberikan izin kepada 35 pesawat yang terdaftar di luar negeri untuk membantu misi water bombing dan patroli udara. Langkah ini lazim ditempuh saat kebutuhan peralatan melebihi kapasitas yang tersedia di dalam negeri, terutama pada musim ketika titik api muncul berulang dan jarak antar-lokasi kebakaran jauh.

Penggunaan armada udara dan dukungan eksternal juga berkaitan dengan skala wilayah Indonesia yang luas serta dominannya lahan gambut di sejumlah area kebakaran. Gambut cenderung menyimpan bara lebih lama, sehingga pemadaman tidak cukup hanya memadamkan permukaan api, tetapi harus memastikan sumber panas benar-benar terputus dan penyebaran bisa dihentikan. Karena itu, kombinasi antara tindakan darat dan intervensi udara menjadi kunci untuk mengurangi risiko kebakaran berulang.

Penguatan khusus di Sumatera Selatan: mesin pompa, motor trail, dan ekskavator

Penguatan peralatan juga dilakukan secara spesifik di Sumatera Selatan. Presiden Prabowo Subianto menyetujui pengiriman 500 mesin pompa lengkap dengan selang, 100 motor trail, serta 20 ekskavator untuk mendukung penanganan karhutla di wilayah tersebut. Kebijakan ini muncul setelah pemerintah daerah melaporkan kondisi kebakaran dan keterbatasan peralatan di lapangan.

Mesin pompa berperan untuk mengalirkan air dari sumber yang tersedia agar petugas bisa memadamkan api dengan lebih efektif. Motor trail diarahkan untuk meningkatkan mobilitas tim di medan yang tidak dapat dilalui kendaraan besar, sementara ekskavator digunakan untuk membuat kanal dan penyekatan lahan. Pola ini menunjukkan bahwa pendekatan Indonesia tidak berhenti pada “memadamkan dari udara”, tetapi juga membangun kemampuan pertahanan dari darat agar api tidak kembali menyebar.

Malaysia: aturan pembakaran terbuka, patroli hotspot, dan fokus mitigasi kabut asap

Malaysia tidak berada dalam kondisi tanpa kebakaran. Departemen Lingkungan Malaysia memiliki sistem pemantauan pembakaran terbuka melalui patroli lapangan, laporan masyarakat, serta deteksi hotspot berbasis satelit. Pemerintah Malaysia juga melarang pembakaran terbuka berdasarkan Environmental Quality Act 1974, dengan konsekuensi denda hingga RM500.000, hukuman penjara maksimal lima tahun, atau keduanya.

Namun, perbedaan mendasar terletak pada tantangan yang dihadapi saat asap lintas batas terjadi. Malaysia memiliki lembaga pemadam kebakaran untuk menangani kebakaran di kawasan hutan, semak, dan lahan pertanian, tetapi ketika sumber asap berada di luar wilayahnya, ruang gerak respons menjadi berbeda. Dalam situasi seperti itu, fokus bergeser pada mitigasi dampak kualitas udara, termasuk langkah-langkah untuk menjaga keselamatan publik dan mengurangi gangguan aktivitas.

Cloud seeding untuk kabut asap lintas batas: kerja sama 24 Agustus 2026

Salah satu perkembangan paling menonjol terjadi pada 24 Agustus 2026, ketika Indonesia memberikan izin kepada lembaga Malaysia untuk memasuki wilayah udara Indonesia guna melakukan cloud seeding. Operasi ini disiapkan sebagai bagian dari upaya bersama mengatasi kabut asap yang melanda kawasan akibat karhutla. Meski keduanya sama-sama terkait intervensi atmosfer, cloud seeding berbeda dengan water bombing.

Water bombing dilakukan dengan menjatuhkan air langsung ke kawasan yang terbakar. Sementara cloud seeding bertujuan memicu hujan melalui penyemaian awan menggunakan bahan tertentu ketika kondisi atmosfer memungkinkan. Dengan demikian, pesawat Malaysia dalam skema kerja sama terbaru bukan semata datang untuk “menyiram”, tetapi membantu menciptakan kondisi cuaca yang dapat mendukung proses pemadaman dan mengurangi kabut asap. Malaysia masih menyiapkan rencana operasional dan jadwal pelaksanaan di wilayah perbatasan Indonesia.

Perbandingan pendekatan: memadamkan sumber vs mengurangi dampak lintas negara

Pola respons Indonesia dan Malaysia memperlihatkan pembagian peran yang cukup jelas. Indonesia cenderung lebih agresif pada titik api, karena kebakaran yang terjadi tersebar di wilayahnya dan membutuhkan intervensi langsung, mulai dari petugas yang masuk ke area kebakaran, penggunaan pompa, pemanfaatan ekskavator untuk kanal dan sekat, hingga helikopter water bombing. Indonesia juga menggunakan pesawat untuk patroli dan modifikasi cuaca, karena pemadaman di area luas membutuhkan dukungan yang cepat dan fleksibel.

Malaysia, sebaliknya, menekankan pencegahan pembakaran terbuka dan deteksi dini untuk mengurangi peluang kebakaran terjadi di wilayahnya. Ketika asap sudah terlanjur berpindah, fokus bergeser pada mitigasi dampak kesehatan dan aktivitas masyarakat. Bahkan, dampak kabut asap yang dilaporkan terjadi di Sarawak, termasuk penutupan sekolah dan banyaknya siswa terdampak, menggambarkan bahwa konsekuensi karhutla dapat segera terasa di sektor pendidikan dan kualitas hidup.

Pada akhirnya, karhutla 2026 menegaskan satu hal: api dapat padam di satu sisi, tetapi asap bisa menjadi masalah bersama. Indonesia memiliki kapasitas besar untuk menekan sumber kebakaran, sementara Malaysia mengoptimalkan aturan, pemantauan, dan dukungan lintas batas seperti cloud seeding. Ketika keduanya bekerja dengan pendekatan yang saling melengkapi, peluang untuk menekan dampak regional menjadi lebih realistis.

x
x