google-site-verification: googlee764d4e3cb0d20cc.html

Hambatan tambahan datang dari minimnya intervensi pengaturan lalu lintas. Ketika tidak ada petugas yang mengarahkan kendaraan, pengemudi cenderung bergerak secara reaktif, menyesuaikan kondisi di depan, dan akhirnya memperlambat keseluruhan arus. Pada titik seperti persimpangan atau ruas dengan akses dua arah yang ramai, ketiadaan manajemen arus dapat membuat antrean semakin sulit diurai.
Dampaknya terasa pada beberapa segmen sekaligus, bukan hanya di titik mogok. Kemacetan dilaporkan terjadi di Jalan Kapten Yusuf Cikaret, kemudian merambat menuju Kota Batu dan sebaliknya dari Ciapus. Dengan kata lain, peristiwa satu kendaraan berhenti dapat memicu efek berantai karena jaringan jalan di sekitar saling terhubung dan volume kendaraan tidak terputus.

Selain persoalan kemacetan, ada faktor lain yang membuat ruas Jalan Kapten Yusuf Cikaret kerap menjadi perhatian pengguna jalan, yaitu banjir saat hujan deras. Ruas yang berbatasan antara Kecamatan Bogor Selatan dan Kota Batu, Kecamatan Ciomas, disebut hampir setiap kali turun hujan mengalami genangan hingga mengganggu kelancaran lintasan.
Rehan juga menyoroti bahwa saat hujan besar, banjir dapat membuat kondisi jalan lebih berbahaya bagi pengendara. Pada konteks ini, mogoknya kendaraan besar di badan jalan berpotensi memperparah risiko karena pengendara mungkin harus menunggu lebih lama, memilih jalur alternatif yang tidak selalu tersedia, atau melintas dengan kondisi permukaan yang tidak ideal.


Tidak ada komentar