
INFOPANTULAN.COM – Rumah Sakit Palang Merah Indonesia (RS PMI) Kota Bogor mengalami lonjakan pasien rawat inap dalam sepekan terakhir, yang berujung pada antrean panjang di Instalasi Gawat Darurat (IGD). Kenaikan paling tajam tercatat pada 21 hingga 23 September 2026, ketika jumlah pasien yang masuk harian melewati angka 100.
Dalam rentang waktu tersebut, pada 21 September pasien masuk mencapai 114 orang, lalu turun menjadi 104 orang pada 22 September, sebelum kembali melonjak menjadi 122 orang pada 23 September. Lonjakan ini membuat tingkat keterisian tempat tidur atau bed occupancy meningkat, sementara biasanya kunjungan harian RS PMI Kota Bogor berada di kisaran 80 hingga 90 pasien per hari.
Membludaknya pasien tidak hanya berdampak pada ruang rawat inap, tetapi juga langsung terasa di area pelayanan IGD. Saat kapasitas ruang perawatan sudah terisi penuh, pasien yang datang dengan kebutuhan penanganan segera akan memerlukan waktu lebih lama untuk mendapatkan tempat, sehingga antrean di IGD ikut bertambah.
Humas RS PMI Kota Bogor, Dwi Hastuti, membenarkan bahwa dalam beberapa hari terakhir jumlah pasien yang datang mencapai lebih dari 100 orang per hari. Ia menjelaskan pola kunjungan sebelumnya cenderung stabil di bawah 100 pasien, sekitar 80 sampai 90 orang setiap harinya, namun berubah setelah terjadi kenaikan signifikan.
Lonjakan yang terjadi pada pertengahan pekan tersebut menunjukkan adanya tekanan layanan yang terkonsentrasi dalam waktu singkat. Data harian yang tercatat pada 21 September 2026 sebesar 114 orang, disusul 104 orang pada 22 September, dan mencapai 122 orang pada 23 September memperlihatkan fluktuasi, tetapi tetap berada pada level lebih tinggi dibanding rata-rata kunjungan sebelumnya.
Dwi Hastuti juga menyampaikan bahwa hingga saat ini pihak rumah sakit masih melakukan pendataan untuk memahami penyebab pasti di balik lonjakan. Menurutnya, belum ada data yang signifikan yang bisa dijadikan dasar untuk menyebut faktor tertentu sebagai pemicu utama.
Meski jumlah pasien meningkat, pihak RS PMI Kota Bogor belum menemukan indikasi bahwa satu jenis penyakit tertentu mendominasi kedatangan pasien. Penjelasan ini penting karena membantu mengarahkan respons manajemen, apakah lonjakan lebih terkait pola penyakit tertentu atau lebih dipengaruhi faktor lain seperti rujukan, akses layanan, atau perubahan kebutuhan perawatan.
Dalam kondisi seperti ini, rumah sakit biasanya perlu memetakan karakteristik pasien berdasarkan diagnosis awal, pola waktu kedatangan, serta rute rujukan. Dari keterangan yang disampaikan, langkah pendataan masih berlangsung, sehingga kesimpulan penyebab lonjakan belum bisa ditetapkan.
Untuk menghadapi situasi tersebut, RS PMI Kota Bogor mengambil langkah antisipasi dengan mengoptimalkan sumber daya manusia dan fasilitas yang tersedia. Fokus utamanya adalah memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan maksimal, sekaligus menjaga kenyamanan pasien selama proses pemeriksaan dan perawatan.
Optimasi SDM biasanya berkaitan dengan penyesuaian pembagian tugas di area IGD, percepatan alur triase, serta penguatan koordinasi antarunit agar pasien tidak terlalu lama berada di tahapan yang sama. Sementara itu, optimalisasi fasilitas dilakukan agar ruang layanan dan kebutuhan penunjang dapat digunakan secara lebih efektif sesuai beban harian yang naik.
RS PMI Kota Bogor juga memperkuat koordinasi dengan sejumlah rumah sakit di wilayah sekitar. Tujuannya adalah memfasilitasi proses rujukan bagi pasien yang membutuhkan penanganan atau ruang rawat inap darurat, terutama ketika kapasitas di internal sudah penuh.
Dwi Hastuti menyebut bahwa pihak rumah sakit membantu informasi rujukan ke beberapa rumah sakit terdekat dan tetap berkoordinasi dengan fasilitas kesehatan lain. Dengan mekanisme ini, pasien yang membutuhkan perawatan lanjutan dapat diarahkan ke tempat yang memiliki kapasitas, sehingga penumpukan di IGD dapat ditekan.


Tidak ada komentar