google-site-verification: googlee764d4e3cb0d20cc.html

Kasus keluhan kesehatan MBG Tana Toraja, RDP DPRD soroti mitra SPPG Makale Batupapan 1

Abdul Halim
7 Sep 2026 07:45
Kesehatan 0 8
6 menit membaca

INFOPANTULAN.COM – Kasus dugaan gangguan kesehatan setelah konsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) di Tana Toraja memasuki fase baru setelah rapat dengar pendapat DPRD membahas detail proses penyediaan dan pendistribusian makanan. Dalam RDP yang digelar Jumat, 4 September 2026, DPRD menyoroti respons pihak mitra SPPG Makale Batupapan 1 terkait laporan keluhan kesehatan pada siswa dan guru SMPN 1 Makale serta SMPN 2 Makale.

Rapat ini muncul setelah tercatat 173 penerima manfaat mengalami keluhan kesehatan pada Kamis, 3 September 2026, dengan gejala seperti mual, muntah, pusing, hingga diare. Selain menuntut penanganan terhadap korban, DPRD mendorong pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan dan sampel lain yang relevan untuk memastikan penyebab pasti kejadian.

RDP DPRD Tana Toraja Bahas Proses Penyediaan hingga Pendistribusian MBG

Dalam RDP, Louice Cristiana Mangontan, yang akrab disapa Lusi, hadir sebagai perwakilan Yayasan Magnolia Champaca Virginiana, mitra SPPG Makale Batupapan 1. Ia menyampaikan penjelasan mengenai alur kerja sejak penyediaan hingga pendistribusian makanan MBG, termasuk klaim penerapan prosedur standar yang disepakati bersama pihak terkait.

Lusi juga menegaskan bahwa pihak yayasan tidak bermaksud menghindari tanggung jawab. Ia menyatakan keterlibatan dalam penentuan standar, serta adanya diskusi dengan kepala SPPG. Pernyataan tersebut disampaikan dalam forum resmi DPRD, sehingga menjadi perhatian karena berbarengan dengan meningkatnya laporan keluhan kesehatan di dua sekolah.

Selain memaparkan proses operasional, Lusi menyebut pihaknya melakukan pendataan terhadap siswa yang memiliki alergi terhadap jenis makanan tertentu. Namun, bagian penjelasan yang kemudian menjadi sorotan justru muncul saat ia menyinggung alasan makanan tetap dikonsumsi, meski ada indikasi bau yang dianggap tidak normal sebelumnya.

Pernyataan “Kalau Sudah Tahu Bau, Kenapa Dimakan?” Jadi Viral

Ucapannya, “Kalau sudah tahu bau, kenapa dimakan?”, menjadi bagian yang paling banyak dibagikan setelah potongan video RDP beredar di media sosial. Banyak pihak bereaksi karena kalimat tersebut dinilai berpotensi terdengar menyalahkan penerima manfaat, meskipun dalam forum yang sama Lusi juga menyatakan memahami kondisi yang terjadi dan menyatakan siap melakukan perbaikan.

Reaksi publik membuat RDP tidak hanya dibaca sebagai ruang klarifikasi teknis, tetapi juga sebagai momen penting soal cara komunikasi saat krisis kesehatan terjadi. Dalam konteks MBG yang melibatkan banyak anak sekolah, respons lisan dari mitra pelaksana dinilai berpengaruh terhadap penerimaan informasi, termasuk bagaimana keluarga dan sekolah memaknai langkah lanjutan.

Di sisi lain, DPRD tetap menempatkan pemeriksaan sebagai kunci. Pernyataan di forum tidak otomatis menjadi dasar penetapan penyebab, sebab penentuan masalah kesehatan perlu dibuktikan lewat investigasi dan hasil pemeriksaan yang terukur.

173 Siswa dan Guru Terdampak, Gejala Mual hingga Diare Dilaporkan

Kasus dugaan gangguan kesehatan bermula setelah sejumlah siswa dan guru SMPN 1 Makale serta SMPN 2 Makale mengalami keluhan pada Kamis, 3 September 2026. Hingga Jumat, 4 September 2026 pukul 20.30 WITA, Satgas MBG Tana Toraja mencatat 173 orang melaporkan keluhan kesehatan.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x