google-site-verification: googlee764d4e3cb0d20cc.html

Selain membahas MBG, Zulhas menyinggung pentingnya pengawasan pada program-program pemerintah. Ia menilai besarnya anggaran tidak otomatis menentukan keberhasilan. Kunci keberhasilan, menurutnya, berada pada pengelolaan yang benar dan pengawasan yang konsisten.
Ia memberikan contoh pembangunan kampung nelayan tematik. Dalam penyampaiannya, keberhasilan program seperti itu dinilai bergantung pada apakah ada pengawasan terhadap desa dan aktivitas yang dibangun, bukan hanya pada tahap fisik atau seremonial program.
Logika yang dibawa Zulhas relevan untuk MBG karena program yang melibatkan banyak pihak dan proses operasional di lapangan sangat bergantung pada kontrol kualitas. Jika pengawasan lemah, program berisiko tidak mencapai tujuan yang diharapkan, meski dananya besar.
Di bagian akhir, Zulhas mengaitkan pembahasan program-program pemerintah dengan agenda perubahan yang dijalankan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Ia menyebut masih banyak program yang diposisikan sebagai bagian dari koreksi setelah 28 tahun era reformasi.
Dalam narasi tersebut, pengakuan terkait MBG diposisikan sebagai bagian dari proses penataan ulang. Pemerintah tidak menolak programnya, tetapi menuntut perbaikan cara kerja agar tujuan pemenuhan gizi bisa tercapai.
Dengan demikian, pengakuan kegagalan MBG dalam pelaksanaan tidak diikuti keputusan penghentian. Pemerintah memilih mempertahankan program sekaligus melakukan pembenahan bertahap, mulai dari manajemen dan pelaksanaannya di lapangan.


Tidak ada komentar