google-site-verification: googlee764d4e3cb0d20cc.html

Menurut bupati, wilayah timur TPAS Galuga menjadi area yang paling menantang karena kondisi medan yang membuat kendaraan pemadam sulit masuk. Karena itu, pemadaman tidak dilakukan dengan mengandalkan mobil Damkar secara penuh, melainkan memanfaatkan embung-embung yang telah dibangun, mesin Alkon, serta bantuan alat berat.
Penekanan pada wilayah timur menunjukkan bahwa pendekatan yang dipilih bukan sekadar menambah tenaga, tetapi menyesuaikan metode dengan karakter lokasi. Ketika akses kendaraan terbatas, ketersediaan air yang dekat dengan titik panas menjadi faktor penentu agar pemadaman tidak tertunda.
Rudy menegaskan bahwa titik paling ujung yang tidak bisa diakses menjadi alasan strategi pemadaman menggunakan beberapa embung sekaligus. Dengan begitu, petugas tetap bisa menekan titik api meski jalur kendaraan pemadam terbatas.
Untuk menggambarkan dinamika kebakaran, Rudy Susmanto menyampaikan data awal yang menunjukkan perubahan luas terdampak. Kebakaran awal pada 7 September melanda lahan sekitar 5,5 hektare.
Sehari setelahnya, luasan meningkat menjadi 8,4 hektare. Setelah dilakukan intervensi, luasan kemudian bergerak menurun bertahap, menjadi sekitar 7 hektare, 6 hektare, hingga 5 hektare.


Tidak ada komentar