Perbaikan drainase Jalan H. Mawi Parung Bogor berhenti sejak akhir Juli 2026

Abdul Halim
25 Sep 2026 13:08
Bogor 0 32
4 menit membaca

INFOPANTULAN.COM – Proyek perbaikan drainase di Jalan H. Mawi, Desa Bojong Sempu, Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor berhenti tanpa kejelasan tindak lanjut. Pekerjaan yang mulai dikerjakan pada akhir Juli 2026 kini ditinggalkan, galian dibiarkan terbuka, dan tidak terlihat pekerja di lokasi.

Peristiwa ini mendapat sorotan warga setempat karena saat hujan turun, ruas jalan di kawasan tersebut kembali tergenang. Kondisi genangan membuat arus lalu lintas terganggu dan beberapa pengendara, terutama roda dua, disebut terperosok hingga masuk ke saluran air yang sedang dikerjakan. Seorang warga Parung menyampaikan keluhan tersebut pada Jumat, 25 September 2026.

Proyek drainase Jalan H. Mawi Parung dibiarkan, galian terbuka

Di lapangan, terlihat tidak ada aktivitas pekerjaan lanjutan. Galian drainase yang seharusnya menjadi bagian dari perbaikan justru dibiarkan begitu saja, hanya ditutup dengan batang kayu. Ketiadaan pekerja dan minimnya pengamanan area galian membuat lokasi tampak tidak terkelola, padahal pekerjaan masih berada pada tahap yang berpotensi menimbulkan bahaya.

Warga juga mempertanyakan kapan proyek akan kembali berjalan. Mereka menilai jeda yang terjadi terlalu panjang, mengingat saat ini musim hujan dapat memperparah genangan di sekitar galian. Sejumlah warga menyebut bahwa ketidakpastian jadwal membuat masyarakat harus lebih berhati-hati saat melintas, terutama pada jam-jam ketika curah hujan meningkat.

Mulai akhir Juli 2026, pengerjaan dihentikan tanpa jadwal lanjutan

Informasi yang beredar menyebutkan proyek drainase mulai dikerjakan pada akhir Juli 2026, lalu belakangan pembangunannya dihentikan. Hingga Jumat, 25 September 2026, belum ada kejelasan mengenai waktu pengerjaan kembali. Tidak adanya pengumuman resmi atau tanda progres lanjutan membuat warga kesulitan memahami apakah proyek sekadar mengalami penundaan administrasi atau benar-benar berhenti.

Dalam praktiknya, penghentian pekerjaan infrastruktur di tengah proses dapat menimbulkan efek berantai. Area yang telah digali akan lebih rentan terhadap erosi tanah, genangan, dan kerusakan permukaan jalan. Jika tidak ditangani dengan pengamanan sementara yang memadai, pengguna jalan akan menghadapi risiko yang seharusnya dapat diminimalkan.

Genangan saat hujan ganggu lalu lintas, warga sebut sudah ada korban

Keluhan utama warga berkaitan dengan genangan air ketika hujan turun. Saluran yang sedang dikerjakan membuat pola aliran air berubah, sehingga air cenderung berkumpul di titik-titik tertentu di sekitar galian. Akibatnya, ruas jalan menjadi lebih sulit dilalui dan arus kendaraan melambat.

Seorang warga Parung pada Jumat, 25 September 2026, menyebut bahwa sejak akhir Juli hujan yang sering turun dapat memicu banjir dan genangan di area galian. Ia juga menuturkan bahwa sudah ada warga yang menjadi korban terperosok dan tercebur ke dalam saluran air tersebut. Pernyataan ini menggambarkan bahwa dampak proyek yang tertunda bukan hanya soal kenyamanan, melainkan juga soal keselamatan.

Risiko keselamatan di lokasi galian, pengamanan sementara dinilai kurang

Penutupan galian menggunakan batang kayu dinilai belum cukup untuk mengantisipasi kondisi saat hujan. Permukaan tanah yang licin, visibilitas pengendara yang menurun, serta perubahan kedalaman lubang saat air menggenang dapat membuat penanda darurat tidak lagi efektif. Dalam situasi seperti ini, risiko kecelakaan meningkat, terutama bagi pengguna jalan yang melintas dengan kecepatan rendah namun tetap harus menyeimbangkan kendaraan di area yang tidak rata.

Warga juga menilai seharusnya ada langkah pengamanan yang lebih jelas sampai pekerjaan dilanjutkan, misalnya penataan batas area, rambu peringatan, dan pengaturan jalur sementara. Tanpa itu, galian yang dibiarkan terbuka akan terus menjadi sumber masalah baru, bahkan ketika tujuan awal proyek adalah memperbaiki drainase.

Dampak ke warga Parung: mobilitas terganggu dan biaya kehati-hatian meningkat

Di tingkat keseharian, gangguan di Jalan H. Mawi terasa langsung oleh warga Desa Bojong Sempu dan pengguna jalan lain yang melintasi Parung. Saat genangan muncul, waktu tempuh cenderung bertambah karena kendaraan harus melambat dan mencari lintasan yang lebih aman. Pengendara roda dua, yang sering melintas dalam jarak dekat, merasakan dampak paling cepat karena harus menyesuaikan posisi kendaraan agar tidak terperosok.

Selain itu, muncul biaya kehati-hatian yang bersifat tidak terlihat tetapi nyata, seperti kebutuhan untuk mengurangi kecepatan, memilih rute alternatif, atau menunda perjalanan ketika hujan deras. Kondisi ini juga dapat memengaruhi aktivitas kerja dan sekolah, khususnya bagi warga yang bergantung pada akses jalan tersebut untuk mobilitas harian.

Perlu kejelasan jadwal dan perbaikan pengamanan lokasi

Fokus perhatian kini tertuju pada dua hal: kapan proyek drainase akan dilanjutkan dan bagaimana pengamanan area galian selama masa jeda. Ketika jadwal tidak jelas, warga cenderung menganggap proyek tidak lagi berjalan sesuai rencana, sehingga kepercayaan terhadap penanganan infrastruktur menurun. Di sisi lain, pengamanan yang tidak memadai membuat risiko kecelakaan tetap berlangsung.

Dengan adanya keluhan yang telah disampaikan warga pada Jumat, 25 September 2026, masyarakat berharap ada respons cepat berupa informasi resmi, percepatan penanganan, dan langkah keselamatan di lokasi. Pengendalian risiko sementara menjadi penting agar tujuan perbaikan drainase benar-benar membawa manfaat dan tidak menambah persoalan baru bagi pengguna jalan di Parung.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

x
x