google-site-verification: googlee764d4e3cb0d20cc.html

BGN juga menerima banyak permohonan dari sekolah yang belum tersentuh layanan MBG. Mas Dar menjelaskan bahwa setiap permintaan yang masuk tidak langsung dipenuhi, melainkan ditelusuri lebih dulu melalui tahap investigasi dan pemetaan wilayah.
Setelah proses pemetaan selesai, layanan diberikan secara bertahap sesuai skala prioritas yang telah disusun BGN. Pola ini, menurut Mas Dar, penting agar perluasan layanan tetap terukur dan sesuai kapasitas pelaksanaan program.
“Kami menerima banyak sekali surat permohonan dari sekolah-sekolah yang belum mendapatkan MBG sampai saat ini dan itu akan kami investigasi untuk kemudian kami layani program MBG secara bertahap sesuai dengan tahapan-tahapan yang kami punyai,” tandas Mas Dar.
Langkah mencoret 1.653 satuan pendidikan dari daftar penerima memperlihatkan bahwa BGN menekankan ketepatan sasaran, bukan sekadar memperluas angka penerima. Dengan mengevaluasi kondisi pembiayaan dan keterkaitan sekolah dengan skema pendanaan lain, program MBG diarahkan agar manfaatnya lebih terfokus pada sekolah yang benar-benar membutuhkan.
Di sisi lain, keberadaan sekitar 240.000 sekolah yang masih menunggu menunjukkan tantangan logistik dan administrasi yang harus diurai. Pemutakhiran data, kerja sama lintas kementerian, serta mekanisme investigasi untuk permohonan sekolah menjadi fondasi agar perluasan program berjalan berurutan dan tidak menimbulkan kesenjangan layanan antarwilayah.


Tidak ada komentar