Program Makan Bergizi Gratis BGN Perbarui Data, 340.000 Sekolah Terlayani

Abdul Halim
12 Sep 2026 08:39
Pendidikan 0 37
3 menit membaca

INFOPANTULAN.COM – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus bergerak, kini menyasar lebih dari 340.000 satuan pendidikan di seluruh Indonesia. Upaya perluasan layanan itu diiringi proses pemutakhiran data oleh Badan Gizi Nasional (BGN) agar penerima bantuan lebih tepat sasaran.

Dalam pemutakhiran tersebut, BGN mencoret 1.653 satuan pendidikan dari daftar penerima. Kepala BGN, Sudaryono yang akrab disapa Mas Dar, menjelaskan langkah ini diambil setelah evaluasi terhadap kondisi pendanaan dan keterkaitan sekolah dengan skema pembiayaan lain.

BGN mencoret 1.653 sekolah dari penerima MBG

Mas Dar menyatakan mayoritas sekolah yang dikeluarkan dari daftar penerima MBG merupakan sekolah swasta bertaraf internasional. Selain itu, satuan pendidikan yang telah menjalin kerja sama dengan institusi internasional maupun nasional juga masuk dalam kelompok yang dinilai tidak lagi bergantung pada bantuan pemerintah untuk pemenuhan kebutuhan makan bergizi.

BGN juga menyoroti sekolah atau satuan pendidikan yang sudah mandiri secara finansial. Dalam penjelasan Mas Dar, ukuran kemandirian tersebut terlihat dari tidak perlunya dukungan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) atau dana sejenis untuk operasional, sehingga bantuan MBG dinilai tidak relevan bila tetap diberikan melalui daftar penerima awal.

Pembaruan data melibatkan Kemdikbudristek dan Kemenag

Proses pemutakhiran sasaran dilakukan melalui kerja sama BGN dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah serta Kementerian Agama. Kolaborasi ini ditujukan untuk memperoleh data satuan pendidikan yang lebih akurat dan menyeluruh, karena cakupan program MBG mencakup beragam jenis sekolah dan lembaga pendidikan.

Mas Dar menyebut proses pendataan mencakup lebih dari 580.000 satuan pendidikan. Dari jumlah tersebut, BGN memetakan sekolah negeri, madrasah, pondok pesantren, hingga berbagai satuan pendidikan keagamaan lainnya yang masuk dalam wilayah layanan program.

340.000 sekolah sudah terlayani, 240.000 menunggu

Setelah pemutakhiran data, BGN mencatat lebih dari 340.000 sekolah telah mendapatkan atau dilayani program MBG di sekolahnya. Artinya, masih ada sekitar 240.000 satuan pendidikan yang belum menerima layanan MBG dan akan masuk dalam rencana perluasan bertahap.

Perbedaan jumlah terlayani dan yang menunggu ini menunjukkan bahwa program tidak berhenti pada angka awal, melainkan mengikuti hasil verifikasi data. Bagi BGN, penguatan basis data menjadi kunci agar penyaluran berjalan sesuai prioritas dan menghindari tumpang tindih penerima.

Permohonan sekolah yang belum terlayani akan melalui investigasi

BGN juga menerima banyak permohonan dari sekolah yang belum tersentuh layanan MBG. Mas Dar menjelaskan bahwa setiap permintaan yang masuk tidak langsung dipenuhi, melainkan ditelusuri lebih dulu melalui tahap investigasi dan pemetaan wilayah.

Setelah proses pemetaan selesai, layanan diberikan secara bertahap sesuai skala prioritas yang telah disusun BGN. Pola ini, menurut Mas Dar, penting agar perluasan layanan tetap terukur dan sesuai kapasitas pelaksanaan program.

“Kami menerima banyak sekali surat permohonan dari sekolah-sekolah yang belum mendapatkan MBG sampai saat ini dan itu akan kami investigasi untuk kemudian kami layani program MBG secara bertahap sesuai dengan tahapan-tahapan yang kami punyai,” tandas Mas Dar.

Implikasi pemutakhiran data bagi ketepatan sasaran MBG

Langkah mencoret 1.653 satuan pendidikan dari daftar penerima memperlihatkan bahwa BGN menekankan ketepatan sasaran, bukan sekadar memperluas angka penerima. Dengan mengevaluasi kondisi pembiayaan dan keterkaitan sekolah dengan skema pendanaan lain, program MBG diarahkan agar manfaatnya lebih terfokus pada sekolah yang benar-benar membutuhkan.

Di sisi lain, keberadaan sekitar 240.000 sekolah yang masih menunggu menunjukkan tantangan logistik dan administrasi yang harus diurai. Pemutakhiran data, kerja sama lintas kementerian, serta mekanisme investigasi untuk permohonan sekolah menjadi fondasi agar perluasan program berjalan berurutan dan tidak menimbulkan kesenjangan layanan antarwilayah.

x
x