google-site-verification: googlee764d4e3cb0d20cc.html

“Sanggarnya sudah sering ke luar negeri, tetapi untuk kami ini baru pertama kali ke luar negeri,” tuturnya.
Kecintaannya terhadap seni juga telah dibangun sejak usia sekolah. Agistika mengaku mulai mengikuti sanggar sejak kelas 1 SMP, sementara rekannya telah bergabung sejak kelas 3 SD.
Kini, para peserta memiliki latar belakang pendidikan yang beragam. Ada yang masih duduk di bangku SMA, ada yang baru memasuki perguruan tinggi, hingga mahasiswa.
Agistika sendiri tercatat sebagai mahasiswa semester lima Universitas Pakuan.
Jadi Duta Kecil Budaya Bogor
Keberangkatan kontingen ini menjadi kesempatan bagi generasi muda Kabupaten Bogor untuk menunjukkan bahwa seni tradisional tidak berhenti di panggung lokal. Tarian Nusantara juga mampu menembus panggung internasional dan menjadi jembatan diplomasi budaya.
Agistika berharap kesempatan tersebut tidak menjadi perjalanan sekali jalan. Ia ingin budaya Indonesia, termasuk kesenian dari Kabupaten Bogor, semakin sering diperkenalkan di berbagai festival internasional.
“Semoga kita bisa memperkenalkan budaya Indonesia dengan lebih baik dan tentunya bisa terus-menerus memperkenalkannya di ajang internasional,” pungkasnya.
Dari Cisarua menuju Eropa, anak-anak muda Kabupaten Bogor kini membawa lebih dari sekadar tarian. Mereka membawa identitas daerah, cerita tentang Indonesia, dan satu pesan sederhana: budaya Bogor layak dikenal dunia.


Tidak ada komentar