
INFOPANTULAN.COM – Tim SAR gabungan memutuskan untuk menghentikan pencarian terhadap lima jurnalis dan tiga awak kapal yang dilaporkan hilang saat bertugas meliput erupsi Gunung Anak Krakatau. Keputusan tersebut diambil setelah operasi pencarian berlangsung selama 10 hari, baik melalui penelusuran udara maupun laut, namun tak ditemukan tanda yang mengarah pada keberadaan KM Arupadhatu I.
Penghentian operasi diumumkan langsung oleh Gubernur Banten Andra Soni di Posko SAR Gabungan Marina Carita, Kamis 17 September 2026. Dalam keterangannya, Andra menyampaikan tim telah bekerja bersama berbagai unsur dan melakukan koordinasi dengan nelayan setempat agar segera melaporkan bila ada temuan yang diduga terkait kapal cepat tersebut.
Menurut Andra Soni, selama proses pencarian tim SAR menemukan sejumlah objek di perairan. Temuan itu mencakup life jacket, terpal, helm, hingga galon. Namun, objek-objek tersebut tidak menunjukkan keterkaitan langsung dengan KM Arupadhatu I.
Andra menjelaskan bahwa pencarian awal dilakukan dengan memanfaatkan kombinasi penelusuran dari udara dan laut. Upaya itu kemudian diperluas dengan masukan lapangan dari nelayan setempat, terutama untuk mengarahkan titik pencarian bila ada laporan baru. Meski demikian, hingga hari terakhir operasi, belum ada indikasi yang dapat memastikan kapal maupun seluruh kru jurnalis berada dalam kondisi yang dapat ditemukan.
Langkah koordinasi dengan nelayan menjadi bagian penting dari strategi pencarian, karena nelayan memiliki pengetahuan pola pergerakan laut dan sering kali lebih cepat melihat benda mengapung di sekitar jalur pelayaran. Andra menyebut tim SAR telah berkoordinasi agar nelayan melaporkan temuan yang relevan, termasuk bila ada tanda-tanda keberadaan KM Arupadhatu I.
Apabila nantinya ada petunjuk baru, pencarian akan diarahkan kembali ke lokasi yang dilaporkan. Mekanisme ini memungkinkan operasi tidak sepenuhnya berhenti secara pasif, melainkan tetap membuka ruang untuk respons cepat ketika informasi lapangan kembali muncul.
Dalam pengumuman tersebut, Andra menyatakan bahwa pelaksanaan operasi gabungan dihentikan karena dinilai tidak efektif. Pernyataan itu menegaskan bahwa tim mempertimbangkan hasil pencarian selama 10 hari, termasuk tidak ditemukannya tanda kapal dan awak yang hilang.
Meski operasi dihentikan, proses pemantauan tetap dilakukan. Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, Al Amrad, menyampaikan pihaknya akan terus melakukan pemantauan. Jika terdapat informasi yang mengarah pada tanda-tanda keberadaan kapal Arupadhatu, pencarian dapat dibuka kembali.
Kapal cepat Arupadhatu 1 dilaporkan hilang kontak di perairan Selat Sunda, Kabupaten Pandeglang, Banten. Kapal bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, Pandeglang pada Senin 7 September 2026 sekitar pukul 14.00 WIB, dengan tujuan menuju kawasan Gunung Anak Krakatau untuk meliput aktivitas erupsi.
Rombongan yang dilaporkan hilang kontak terdiri dari lima jurnalis, yakni M. Bagus Khoirunnas (fotografer), Ari Basuki (jurnalis), Yudhis (jurnalis), Daus (jurnalis), dan Donal (jurnalis freelance). Penanganan insiden ini melibatkan Tim SAR Gabungan yang melakukan pencarian terintegrasi hingga batas waktu operasi ditetapkan.
Penghentian pencarian setelah 10 hari tanpa temuan yang mengarah pada kapal menandai tahap baru dari respons insiden. Namun, pemantauan dan kemungkinan pembukaan kembali pencarian tetap bergantung pada munculnya informasi lapangan yang dapat dijadikan dasar pencarian di titik tertentu.

