Pertanian Terintegrasi Jalan Bomang Bogor Panen 2 Kali Bayam dan Kangkung

Abdul Halim
26 Agu 2026 11:35
Bogor 0 40
4 menit membaca

Kawasan Pertanian Terintegrasi di Jalan Bomang, yang menghubungkan Bojonggede hingga Kemang, Kabupaten Bogor, telah menunjukkan capaian nyata berupa panen dua kali sejak program pengembangan berjalan. Komoditas utama yang dibudidayakan adalah bayam dan kangkung, menjadikan kawasan ini sebagai contoh awal bagaimana ruang hijau produktif dapat tumbuh di tengah jalur perkotaan.

Pengelolaan kawasan tersebut melibatkan Kelompok Tani Suryakencana serta dukungan berbagai pihak, termasuk petani lokal dan mahasiswa se-Bogor Raya yang berperan sebagai staf teknis pertanian. Di sisi lain, penataan lahan dibuat berlapis dan dilengkapi infrastruktur pengairan, sehingga produktivitas tanaman tetap terjaga meski kondisi cuaca cenderung panas dan dipengaruhi fenomena El Nino.

Sudah 2 Kali Panen, Kawasan Pertanian Terintegrasi di Jalan Bomang Bogor Andalkan Komoditas Bayam dan Kangkung

Bayam dan kangkung jadi penanda keberhasilan panen dua kali

Keberhasilan panen dua kali memberi sinyal bahwa model budidaya di Jalan Bomang tidak sekadar memanfaatkan lahan, tetapi juga mampu menjaga siklus produksi. Bayam dan kangkung dipilih sebagai komoditas utama karena respons budidayanya relatif cepat, sehingga petani dapat memanfaatkan momentum panen secara lebih teratur. Pola ini penting, terutama ketika kawasan berada di lingkungan yang dinamis, dekat dengan aktivitas permukiman dan pergerakan warga.

Selain hasil panen, nilai program juga terlihat dari konsistensi pengelolaan. Kawasan terintegrasi dirancang untuk menjadi ruang produksi yang terukur, dengan peran petani lokal sebagai pelaksana utama dan dukungan teknis untuk membantu peningkatan kualitas budidaya. Ketika capaian produksi mulai terbentuk, pelibatan pihak-pihak lain akan lebih mudah diarahkan pada perbaikan metode, bukan hanya pada kegiatan fisik.

Pemberdayaan petani dan peran mahasiswa sebagai dukungan teknis

Kelompok Tani Suryakencana menjadi motor pengelolaan harian di Bomang. Pelibatan petani lokal tidak berhenti pada kegiatan menanam dan memanen, tetapi diarahkan pada peningkatan produktivitas melalui pendampingan dan penguatan kapasitas. Dengan cara ini, manfaat kawasan tidak hanya dirasakan sebagai proyek jangka pendek, melainkan berpotensi berkembang menjadi praktik pertanian yang lebih mandiri.

Di luar petani, mahasiswa se-Bogor Raya turut dilibatkan sebagai staf teknis pertanian. Kehadiran mereka memperluas kapasitas pengelolaan, sekaligus menjadikan kawasan Bomang sebagai ruang penelitian. Data dan hasil riset yang dikembangkan dari aktivitas budidaya diharapkan bisa digunakan untuk membantu petani lokal dalam meningkatkan pengelolaan lahan, termasuk penyesuaian teknik budidaya agar lebih efektif.

Kawasan pertanian terintegrasi di Jalan Bomang, Bogor sudah dua kali panen.

Penataan lahan berlapis, dari tanaman hias hingga hortikultura

Bomang ditata dengan sistem berlapis agar fungsi lanskap dan produksi berjalan bersamaan. Pada layer pertama yang berada di sisi jalan, tanaman hias ditempatkan sebagai elemen visual yang memperindah kawasan sekaligus membantu menciptakan identitas ruang hijau. Layer kedua diisi dengan jagung, yang berperan sebagai komoditas tambahan dalam ekosistem budidaya.

Layer ketiga difokuskan pada hortikultura seperti sayuran, tomat, dan cabai. Konsep berlapis ini memberi fleksibilitas pengaturan jenis tanaman sesuai kebutuhan produksi dan kondisi lahan. Dengan susunan seperti itu, kawasan tidak hanya tampil sebagai hamparan pertanian, tetapi juga menjadi ruang yang lebih terencana, sehingga pengunjung atau warga sekitar dapat melihat variasi komoditas yang ditanam.

Infrastruktur air lengkap untuk menghadapi cuaca panas dan El Nino

Pengairan adalah faktor penentu produktivitas, terlebih ketika cuaca panas dan fenomena El Nino memengaruhi ketersediaan air. Saat ini, kawasan pertanian terintegrasi di Jalan Bomang telah dilengkapi enam embung, lima saung, dan satu pendopo. Sistem pengairannya mencakup embung, toren, sumur bor, hingga pipanisasi, sehingga distribusi air dapat diatur lebih terarah.

Untuk menjaga tanaman tetap tumbuh optimal, penyiraman dilakukan secara rutin setiap pagi dan sore. Langkah ini menunjukkan bahwa pengelolaan kawasan tidak hanya bergantung pada infrastruktur, tetapi juga pada disiplin operasional. Ketika jadwal penyiraman berjalan konsisten, tanaman lebih siap menghadapi fluktuasi cuaca, dan petani dapat mempertahankan kualitas panen.

Kawasan membentang 8,2 kilometer, targetnya ketahanan pangan

Kawasan pertanian terintegrasi di Jalan Bomang dikembangkan sepanjang 8,2 kilometer dari Kemang hingga Bojonggede. Dengan bentang yang cukup panjang, program ini tidak hanya berfungsi sebagai ruang hijau, melainkan juga diarahkan sebagai penopang ketahanan pangan di wilayah sekitar. Skala pengembangan seperti ini penting karena dampaknya berpotensi menyentuh lebih banyak komunitas, baik dari sisi pasokan komoditas maupun pembelajaran praktik budidaya.

Selain petani, dukungan juga datang dari kelompok pemuda dari tiga kelurahan, yakni Tajurhalang, Bojonggede, dan Kemang. Keterlibatan pemuda dapat memperkuat keberlanjutan program, misalnya melalui dukungan kegiatan lapangan, penguatan ekosistem komunitas, serta membantu memperluas pemahaman warga tentang manfaat pertanian perkotaan.

Bomang sebagai model ruang produksi di tengah jalur perkotaan

Keberhasilan panen dua kali dengan bayam dan kangkung menjadi titik awal yang menarik untuk dicermati. Bomang memperlihatkan bahwa model pertanian terintegrasi bisa berjalan ketika ada sinergi antara penataan lahan, ketersediaan air, serta keterlibatan sumber daya manusia. Kolaborasi petani lokal, mahasiswa, dan dukungan komunitas pemuda membuat kawasan lebih siap beradaptasi terhadap tantangan lapangan.

Jika data riset dan praktik pengelolaan yang dikembangkan di Bomang dapat diterapkan secara bertahap oleh petani lokal, program ini berpotensi menjadi referensi pengembangan pertanian di wilayah lain. Yang paling terlihat saat ini adalah arah yang jelas, dari sekadar memanfaatkan lahan menjadi membangun sistem produksi yang konsisten, terukur, dan relevan dengan kebutuhan ketahanan pangan.

x
x