Wajib Tahu! Ini Cara Menyimpan Makanan Sisa di Kulkas agar Tetap Aman

Riky Iskandar
29 Sep 2026 10:57
3 menit membaca

INFOPANTULAN.COM, BOGOR – Menyimpan makanan sisa di dalam kulkas kerap menjadi pilihan untuk memperpanjang masa konsumsi sekaligus mengurangi pemborosan makanan. Meski demikian, makanan yang sudah masuk kulkas tidak serta-merta terbebas dari risiko bakteri maupun penurunan kualitas.

Dosen Manajemen Industri Jasa Makanan dan Gizi, Sekolah Vokasi IPB University, Rosyda Dianah, SKM, MKM, menjelaskan bahwa suhu dingin hanya memperlambat pertumbuhan mikroorganisme dan bukan menghentikan proses kerusakan makanan sepenuhnya.

“Memasukkan makanan ke dalam kulkas bukan berarti proses kerusakan makanan berhenti sepenuhnya. Bakteri tidak mati di dalam kulkas. Kulkas pada suhu sekitar 1–4°C berfungsi memperlambat pertumbuhan sebagian besar bakteri, bukan mensterilkan makanan. Karena itu, makanan tetap memiliki masa simpan yang terbatas,” kata Rosyda dikutip dari IPB University, Selasa (29/9/2026).

Menurut Rosyda, menyimpan makanan matang di dalam kulkas tetap dapat dilakukan dengan aman selama sejumlah hal diperhatikan. Mulai dari proses pendinginan, temperatur penyimpanan, durasi penyimpanan, hingga cara makanan dipanaskan kembali.

Ia mengingatkan masyarakat untuk menghindari rentang suhu yang disebut temperature danger zone, yakni 5°C hingga 60°C. Pada kisaran tersebut, mikroorganisme dapat berkembang lebih cepat sehingga meningkatkan risiko makanan menjadi tidak aman dikonsumsi.

Rosyda menyebut makanan matang yang disimpan pada suhu 4°C atau lebih rendah secara umum dianjurkan untuk dikonsumsi dalam waktu sekitar tiga sampai empat hari.

Namun, lama penyimpanan juga perlu disesuaikan dengan jenis makanan. Nasi dan pasta matang, misalnya, perlu mendapat perhatian lebih karena dapat berkaitan dengan keberadaan spora Bacillus cereus.

Tidak hanya aspek keamanan, penyimpanan dan pemanasan ulang juga dapat memengaruhi kandungan gizi makanan.

Vitamin yang larut dalam air, seperti vitamin C dan vitamin B kompleks, termasuk zat gizi yang relatif sensitif terhadap panas dan oksidasi. Sementara itu, lemak, terutama asam lemak tak jenuh, dapat mengalami oksidasi jika makanan disimpan dalam wadah yang tidak tertutup secara baik.

Meski demikian, proses pendinginan juga dapat menimbulkan perubahan tertentu pada makanan berkarbohidrat seperti nasi, kentang, dan pasta.

Pendinginan dapat menyebabkan sebagian pati mengalami perubahan sehingga menjadi lebih sulit dicerna. Kondisi ini berpotensi membantu mengendalikan kenaikan gula darah dan mendukung kesehatan pencernaan, selama makanan tetap disimpan dengan benar dan tidak terkontaminasi mikroorganisme.

Menurut Rosyda, salah satu kesalahan yang masih sering dilakukan adalah membiarkan makanan matang terlalu lama pada suhu ruang sebelum akhirnya dimasukkan ke dalam kulkas.

Selain itu, risiko juga dapat meningkat apabila makanan disimpan dalam wadah yang terlalu besar dan dalam, wadah tidak tertutup rapat, suhu kulkas tidak diperhatikan, atau makanan terlalu sering dipanaskan kembali.

Penempatan makanan di dalam kulkas juga perlu diperhatikan. Makanan matang sebaiknya tidak diletakkan berdekatan dengan bahan pangan mentah untuk menghindari terjadinya kontaminasi silang.

Untuk menjaga keamanan pangan sekaligus mengurangi potensi food waste, Rosyda memperkenalkan prinsip sederhana “2–4–74”.

Prinsip tersebut berarti makanan yang mudah rusak sebaiknya tidak dibiarkan lebih dari dua jam pada suhu ruang, kemudian disimpan pada suhu sekitar 4°C atau lebih rendah, serta dipanaskan kembali hingga mencapai sekitar 74°C secara merata.

“Keamanan pangan tidak berarti semua makanan sisa harus langsung dibuang. Perencanaan penyimpanan yang baik justru dapat membantu mengurangi food waste,” pungkasnya.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

x
x