Gangguan ingatan siswi Karo setelah MBG, evaluasi medis masih berlangsung

Abdul Halim
8 Sep 2026 04:45
Kesehatan 0 38
4 menit membaca

INFOPANTULAN.COM – Seorang siswi berusia 16 tahun asal Kabupaten Karo, Sumatera Utara, yang diduga mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) masih dalam evaluasi medis. Keluarga melaporkan, sebelumnya ia sempat mengalami gangguan ingatan hingga sekitar 70 persen, bahkan disebut tidak mengenali sejumlah orang terdekat.

Pada Senin (7/9/2026), Febiola Br Purba menjalani pemeriksaan lanjutan di RSUP H. Adam Malik Medan, termasuk electroencephalography (EEG), sementara hasil pemeriksaan masih ditunggu untuk memperjelas kondisi neurologis dan fungsi kognitifnya. Dugaan gangguan yang menyertai juga meliputi kesulitan berbicara setelah pernah mengalami kejang.

Pemeriksaan lanjutan EEG di RSUP H. Adam Malik Medan

Menurut keterangan keluarga, proses pemeriksaan terhadap Febiola terus berjalan setelah muncul keluhan pada pertengahan Agustus 2026. Pada pemeriksaan tanggal 7 September 2026, penanganan difokuskan pada bidang neurologi anak dan psikiatri, sesuai penjelasan pihak rumah sakit.

Humas RSUP H. Adam Malik, Rosario Dorothy Simanjuntak, menyebut Febiola menjalani rawat jalan sejak 31 Agustus 2026. Meski begitu, keluarga tetap menunggu hasil pemeriksaan lanjutan, termasuk EEG yang dilakukan pada 7 September, agar dokter dapat menyusun gambaran yang lebih utuh mengenai penyebab keluhan dan tingkat pemulihannya.

Dari disebut lupa keluarga hingga sulit berbicara

Perubahan kondisi Febiola pertama kali mulai disorot keluarga setelah ia mengalami gangguan kesehatan pada Kamis, 13 Agustus 2026. Ayah Febiola, Icuk Sugiarto Purba, menggambarkan perubahan yang cukup drastis, di mana putrinya sempat tidak mengenali orang-orang yang sebelumnya dekat.

Icuk menuturkan, Febiola bahkan seperti anak berusia sekitar tiga tahun karena tidak lagi mengenali beberapa orang terdekatnya, termasuk adik dan lingkungan sekolah. Ia juga menceritakan momen saat keluarga pulang dari rumah sakit, Febiola bertemu adiknya, namun Febiola tidak mengenali sang adik. Ia menambahkan kondisi tersebut juga dirasakan pada teman-teman sekelas yang disebut turut tidak dikenali.

Sementara itu, selain gangguan ingatan, Febiola disebut mengalami kesulitan berbicara. Ibu Febiola, Elvinus Lusiana Sitanggang, menjelaskan bahwa saat menjalani pemeriksaan, keluarga masih menunggu hasil guna memastikan kondisi sebenarnya, termasuk kaitannya dengan keluhan berbicara yang muncul setelah kejang.

KPPG Medan: respons komunikasi Febiola dinilai cukup baik

Di tengah kabar gangguan ingatan yang disampaikan keluarga, pihak KPPG Medan memberikan pembaruan berdasarkan komunikasi yang dilakukan dengan Febiola. Kepala Sub Bagian Tata Usaha KPPG Medan, Erdianta Sitepu, menyatakan pihaknya belum dapat memastikan kondisi Febiola secara medis, termasuk dugaan gangguan ingatan, karena kepastian tetap merujuk pada pemeriksaan dokter yang menangani.

Meski demikian, Erdianta menyebut Febiola menunjukkan respons yang baik ketika diajak berkomunikasi. Pernyataan ini menjadi informasi perkembangan yang relevan bagi keluarga, tetapi belum otomatis menjadi dasar kesimpulan mengenai fungsi ingatan maupun kondisi kesehatan secara keseluruhan, sehingga evaluasi klinis tetap diperlukan.

Perjalanan perawatan melalui lima rumah sakit

Sejak mulai mengalami keluhan pada 13 Agustus 2026, Febiola menjalani perawatan dan pemeriksaan di beberapa fasilitas kesehatan. Berdasarkan keterangan keluarga, rangkaian pemeriksaan tersebut berlangsung di RS Kabanjahe, RS Efarina, RS Haji Medan, RSUP H. Adam Malik Medan, hingga RS Amanda di Kabupaten Karo.

Setelah menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit tersebut, Febiola kembali menjalani pemeriksaan lanjutan di RSUP H. Adam Malik pada 7 September 2026. Dengan berbagai tahapan pemeriksaan yang telah dilalui, keluarga berharap hasil terbaru dapat membantu menjawab penyebab keluhan dan langkah penanganan berikutnya.

Perawatan diperkirakan bisa berlangsung hingga setahun

Icuk mengatakan dokter memberikan gambaran bahwa proses pemulihan Febiola memerlukan waktu panjang. Ia menyebut dokter memperkirakan Febiola harus menjalani perawatan selama setahun penuh dengan jadwal evaluasi setiap minggu.

Perkiraan durasi perawatan tersebut membuat keluarga perlu mempersiapkan pendampingan dan pemantauan dalam jangka waktu lebih lama. Mengingat Febiola masih memerlukan pemeriksaan dan penanganan lanjutan untuk melihat perkembangan kesehatannya, keluarga menempatkan pemeriksaan lanjutan sebagai bagian penting dari rangkaian terapi.

Beban biaya dan kebutuhan nutrisi khusus bagi Febiola

Selain tantangan medis, keluarga juga menghadapi persoalan pembiayaan. Icuk mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan pengobatan putrinya, baik untuk biaya perawatan maupun nutrisi tambahan yang dianjurkan dokter.

Menurut keluarga, Febiola membutuhkan susu khusus, makanan, dan vitamin. Susu khusus disebut harus dibeli dua kali dalam seminggu dengan harga sekitar Rp180 ribu per pembelian. Di sisi lain, kedua orang tua Febiola disebut harus mengurangi aktivitas kerja agar bisa mendampingi putrinya selama perawatan, sehingga pemasukan berkurang sementara pengeluaran tetap berjalan.

Icuk menyebut bantuan yang sejauh ini diterima berasal dari forum, lingkungan sekolah, serta sumbangan. Keluarga juga berharap bantuan medis langsung dari pemerintah dapat segera diterima, namun hingga saat ini mereka menyatakan belum memperoleh dukungan tersebut.

Hubungan keluhan Febiola dengan MBG masih menunggu kepastian medis

Keluarga menyatakan keluhan Febiola muncul setelah ia mengonsumsi MBG dengan lauk ikan tongkol pada 13 Agustus 2026. Setelah mengonsumsi makanan tersebut, Febiola disebut mengalami muntah, lemas, hingga kejang.

Setelah episode kejang, Febiola kemudian dilaporkan mengalami kesulitan berbicara serta gangguan ingatan. Meski demikian, keluarga masih menunggu hasil pemeriksaan medis untuk memastikan keterkaitan keluhan tersebut dengan MBG, sekaligus memastikan kondisi neurologis dan langkah penanganan yang paling tepat bagi Febiola.

x
x