Kue Semprong Renyah Buatan Femi Jadi Andalan UMKM Kelurahan Tajur

Riky Iskandar
27 Okt 2026 12:03
3 menit membaca

INFOPANTULAN.COM, BOGOR – Upaya memperkenalkan produk lokal terus dilakukan Kelurahan Tajur, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor. Salah satu langkah yang ditempuh yakni mendorong pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) agar mampu mengembangkan usaha sekaligus memperluas jangkauan pemasaran.

Kue semprong produksi Femi Febrianti menjadi salah satu produk rumahan yang mendapat perhatian. Mengandalkan resep khas dengan cita rasa gurih dan tekstur renyah, Femi telah menekuni usaha tersebut selama lebih dari satu dekade, tepatnya sejak 2015.

Lurah Tajur, Ita Juita, mengatakan, produk UMKM memiliki potensi untuk menjadi kebanggaan sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat setempat. Karena itu, pihaknya berupaya mendukung para pelaku usaha agar produk yang dihasilkan semakin dikenal konsumen.

“Kami sangat bangga dengan produk UMKM lokal, seperti semprong buatan Bu Femi yang rasanya renyah dan luar biasa. Kami ingin membangkitkan semangat para pelaku UMKM agar produk Tajur bisa dikenal lebih luas,” kata Ita, Selasa (27/10/2026).

Menurutnya, dukungan terhadap UMKM dilakukan melalui upaya pembinaan dan promosi, termasuk membantu memperkenalkan produk kepada calon pembeli. Harapannya, produk lokal Tajur dapat menjangkau pasar yang lebih luas, termasuk berpeluang masuk ke toko-toko ritel.

Masyarakat yang tertarik membeli kue semprong produksi Femi juga dapat menghubungi pihak Kelurahan Tajur untuk memperoleh informasi lebih lanjut.

Di balik produk yang kini memiliki pelanggan, perjalanan usaha Femi bermula dari pemasaran sederhana. Pada awal merintis usaha, ia mengandalkan promosi dari mulut ke mulut melalui keluarga, kerabat, tetangga, dan orang-orang terdekat.

Femi bahkan pernah menitipkan produknya di swalayan Ngesti Pajajaran. Namun, saat ini penjualan lebih banyak mengandalkan pesanan atau sistem pre-order.

“Awalnya saya memasarkan dari mulut ke mulut, melalui keluarga, saudara, dan tetangga. Sekarang kebanyakan berdasarkan pesanan, terutama kalau menjelang Lebaran, permintaannya lebih banyak,” tutur Femi.

Untuk menjaga keterjangkauan harga, ia menjual semprong dengan harga Rp15.000 per bungkus. Adapun pembelian dalam jumlah lebih besar ditawarkan dengan harga Rp120.000 per kilogram.

Meski demikian, peningkatan produksi masih menjadi tantangan bagi Femi. Selama ini, seluruh proses pembuatan dikerjakan seorang diri, mulai dari menyiapkan bahan hingga memanggang adonan. Proses tersebut membutuhkan ketelatenan karena harus berhadapan dengan panas selama pembuatan.

Dalam waktu sekitar tiga jam, Femi mampu mengolah tiga kilogram bahan mentah. Dari setiap kilogram bahan, ia dapat menghasilkan sekitar 16 bungkus kue semprong.

“Proses pembuatannya cukup lama dan panas, jadi harus sabar. Kalau dikerjakan sendiri, paling banyak sekitar tiga kilogram bahan mentah dalam sehari. Suami pernah membantu, tetapi karena keterbatasan waktu dan tenaga, sekarang saya kerjakan sendiri,” jelasnya.

Femi mengatakan, resep khas yang dipertahankan menjadi salah satu daya tarik produknya. Rasa yang enak, tekstur renyah, serta harga yang terjangkau menjadi alasan pelanggan kembali memesan.

“Perpaduan rasa yang enak, tekstur renyah, serta harga yang terjangkau menjadi daya tarik tersendiri,” pungkasnya.

x
x