google-site-verification: googlee764d4e3cb0d20cc.html

Kompetisi diperuntukkan bagi pemain kelompok usia 16 tahun. Peserta berasal dari wilayah administrasi Kecamatan Citeureup, yakni 11 desa dan 2 kelurahan. Ketentuan domisili ini diharapkan menjaga karakter kompetisi sebagai ajang berbasis komunitas, sekaligus memperkuat rasa memiliki dari masyarakat setempat.

Wawan menyampaikan harapan agar ekosistem sepak bola di Citeureup kembali bergairah. Ia juga mengaitkan penyelenggaraan liga dengan upaya menekan persoalan sosial yang kerap muncul pada usia remaja, termasuk kenakalan remaja yang dinilai saat ini masih marak. Dalam pandangannya, kegiatan olahraga yang terstruktur dapat menjadi ruang positif bagi energi anak muda, sekaligus membentuk kebiasaan disiplin dan kerja sama.
Ia menilai, sepak bola yang dikelola dengan baik dapat memberi manfaat ganda. Di satu sisi, para pemain mendapatkan wadah untuk berkembang. Di sisi lain, liga menjadi aktivitas yang melibatkan banyak pihak, mulai dari keluarga, pengurus, hingga stakeholder lokal, sehingga pengawasan sosial terhadap perilaku remaja ikut terbentuk secara alami.
Liga Desa Kecamatan Citeureup diinisiasi oleh sekumpulan pemuda penggiat sepak bola, termasuk Dedi Baedillah yang akrab disapa Cakra, Dian Irawan, serta sejumlah mantan pemain profesional. Wawan menempatkan keterlibatan figur-figur berpengalaman sebagai nilai tambah, karena mereka dapat membantu memandu arah pembinaan, baik dari sisi teknis maupun mental bertanding.
Menurut Wawan, tujuan besarnya adalah menghidupkan kembali tradisi prestasi sepak bola dari wilayah Citeureup. Ia mengingat masa ketika Citeureup menjadi kiblat kemajuan sepak bola, dengan banyak pemain yang kemudian berkiprah di liga profesional dan bahkan mengisi skuad Timnas Indonesia. Namun, ia menilai regenerasi pemain saat ini belum berjalan seperti yang diharapkan.


Tidak ada komentar