google-site-verification: googlee764d4e3cb0d20cc.html

BRICS memang berkembang, termasuk melalui ekspansi anggota, tetapi bertambahnya jumlah negara biasanya menghadirkan tantangan baru dalam menyatukan sikap. Perbedaan posisi antaranggota, terutama ketika konflik global dan kepentingan nasional tidak sepenuhnya sejalan, dapat menghambat tercapainya kesepakatan yang konkret dan seragam.
India sebagai tuan rumah turut menghadapi pekerjaan rumah agar pertemuan tetap fokus pada agenda kerja sama ekonomi. Jika forum terlalu terseret pada isu geopolitik yang memicu perpecahan, ruang untuk menghasilkan program kerja yang berdampak pada perdagangan, investasi, dan ketahanan pangan bisa menyempit. Bagi Indonesia, situasi ini sekaligus menjadi kesempatan untuk mendorong agenda yang berorientasi hasil, sekaligus ujian dalam membaca dinamika politik di antara anggota.
Kunjungan Prabowo membawa sejumlah kepentingan strategis yang perlu diterjemahkan ke dalam langkah nyata. Pertama, Indonesia perlu memastikan keanggotaannya menghasilkan manfaat konkret bagi perdagangan dan investasi. Kedua, kerja sama energi menjadi semakin penting mengingat gejolak harga minyak dunia dapat memengaruhi biaya ekonomi lintas sektor. Ketiga, Indonesia dapat memanfaatkan forum BRICS untuk mendorong kepentingan negara berkembang dalam sistem ekonomi global agar lebih responsif terhadap kebutuhan mereka.
Dengan agenda yang mencakup perdagangan, investasi, keamanan energi, pangan, teknologi, serta reformasi lembaga keuangan, KTT BRICS ke-18 menjadi ruang penting bagi Indonesia untuk memperkuat posisi tawar. Pada saat yang sama, hasil pertemuan akan sangat menentukan seberapa jauh kerja sama yang dibangun dapat diterjemahkan menjadi peluang bagi pelaku usaha dan sektor-sektor strategis di dalam negeri.


Tidak ada komentar