google-site-verification: googlee764d4e3cb0d20cc.html

Pada pelaksanaan 2026, sebanyak 50 fasilitator dari desa dan kelurahan di sekitar kampus mengikuti kegiatan secara luring. Mereka berasal dari Desa Cikarawang, Desa Ciherang, Desa Dramaga, Kelurahan Semplak, dan Kelurahan Curug Mekar.
Sementara itu, 80 fasilitator nasional dari 18 provinsi mengikuti pembelajaran secara daring melalui Zoom Meeting. Mereka berasal dari Aceh, Bengkulu, Daerah Istimewa Yogyakarta, DKI Jakarta, Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Lampung, Maluku, Nusa Tenggara Barat, Papua Barat, Riau, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sumatera Selatan, dan Sumatera Utara.
“Program ini menyasar total 1.300 keluarga binaan. Proses pembelajaran diberikan oleh enam dosen Program Studi Ilmu Keluarga dan Konsumen serta melibatkan dua orang praktisi,” ungkapnya.
Materi pembelajaran dalam Sekolah Keluarga Berkualitas mencakup sejumlah aspek penting dalam membangun keluarga yang sehat, sejahtera, dan berdaya.
Peserta mendapatkan materi mengenai ketahanan keluarga dan 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dalam upaya pencegahan stunting. Selain itu, peserta juga mempelajari penerapan konsep asah, asih, dan asuh dalam keluarga.
Materi lainnya mencakup karakteristik anak bawah dua tahun (baduta), lingkungan yang mendukung tumbuh kembang optimal, pengelolaan keuangan keluarga, nilai anak dan investasi anak untuk meningkatkan kualitas anak, serta fungsi keluarga dalam pencegahan stunting.
Sementara itu, Inovator Sekolah Keluarga Berkualitas dan Sekolah Lansia, Dr. Tin Herawati, mengatakan SKB tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan keluarga.
Menurutnya, program tersebut juga bertujuan membangun sikap dan keterampilan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Dalam pelaksanaannya, program SKB tidak hanya berfokus pada peningkatan pengetahuan, tetapi juga membangun sikap dan keterampilan yang diperlukan untuk mewujudkan keluarga yang berkualitas, sejahtera, dan produktif,” kata Tin.


Tidak ada komentar